Lonjakan Peziarah saat Momen Lebaran, Pedagang Bunga Tabur di Depok Panen Rezeki

ARY
Peziarah saat membeli bunga tabut di sekitar TPU Islam Tanah Baru, Beji, Kota Depok, Minggu (22/03/26). (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Ramainya peziarah pada momentum Lebaran di kawasan TPU Islam Tanah Baru, Kota Depok menghadirkan berkah ekonomi bagi para pedagang bunga tabur yang kebanjiran pembeli.

Sejak hari pertama Idulfitri, arus kunjungan warga meningkat tajam, menciptakan aktivitas ekonomi yang jauh lebih hidup dibandingkan hari-hari biasa.

Sejak kemarin, kawasan pemakaman di wilayah tersebut dipadati warga yang datang untuk berziarah ke makam keluarga.

Pemandangan ini menjadi rutinitas tahunan yang selalu terjadi saat Hari Raya Idulfitri, ketika masyarakat memanfaatkan waktu berkumpul bersama keluarga untuk mengunjungi makam kerabat yang telah berpulang.

Tingginya jumlah pengunjung berdampak langsung pada meningkatnya aktivitas jual beli bunga tabur dan air mawar di sekitar lokasi.

Para pedagang yang biasanya melayani pembeli dalam jumlah terbatas kini harus bekerja ekstra untuk memenuhi permintaan yang terus berdatangan sepanjang hari.

Mereka menawarkan berbagai kantong bunga tabur, lengkap dengan air mawar sebagai pelengkap tradisi ziarah kubur yang sudah mengakar kuat di masyarakat.

Kondisi ini jauh berbeda dibandingkan hari biasa yang cenderung sepi pengunjung.

Pada hari normal, aktivitas di TPU lebih didominasi oleh warga sekitar atau keluarga tertentu yang datang dalam jumlah kecil, tanpa lonjakan signifikan seperti saat Lebaran.

Momen Idulfitri memang menjadi puncak kunjungan masyarakat ke tempat pemakaman.

Tradisi ziarah kubur yang melekat kuat di masyarakat menjadikan kawasan TPU sebagai pusat aktivitas spiritual sekaligus ekonomi yang hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu dalam setahun.

Lonjakan Peziarah Dorong Aktivitas Ekonomi Lokal

Marni, salah satu pedagang bunga tabur, mengungkapkan bahwa penjualan tahun ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Ia merasakan lonjakan pembeli sejak hari pertama Lebaran, tepat setelah pelaksanaan salat Ied.

“Alhamdulillah, kalau Lebaran seperti ini memang ramai sekali. Dari pagi sudah banyak yang beli, jauh lebih ramai dibandingkan hari biasa,” ujar Marni, Minggu (22/03/2026).

Menurutnya, peningkatan ini sudah menjadi pola tahunan yang selalu terjadi setiap momen Idulfitri.

Para pedagang bahkan telah mempersiapkan stok lebih banyak sejak beberapa hari sebelum Lebaran untuk mengantisipasi lonjakan permintaan.

Harga yang ditawarkan pun tetap stabil agar dapat dijangkau oleh semua kalangan.

Strategi ini dinilai efektif untuk menjaga minat pembeli, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Lebaran.

“Untuk satu kantong bunga tabur itu Rp10.000, air mawar juga Rp10.000. Biasanya pembeli sekalian beli dua-duanya untuk dibawa ke makam,” jelasnya.

Strategi harga terjangkau ini membuat produk tetap diminati meskipun jumlah pembeli meningkat tajam.

Pedagang tidak menaikkan harga secara signifikan, melainkan mengandalkan volume penjualan untuk memperoleh keuntungan lebih besar.

Tradisi Ziarah Kubur yang Menggerakkan UMKM

Marni menyebut tradisi ziarah kubur saat Idulfitri menjadi faktor utama meningkatnya penjualan bunga tabur.

Menurutnya, hampir semua pengunjung yang datang ke pemakaman membeli bunga sebagai bagian dari ritual penghormatan kepada anggota keluarga yang telah meninggal dunia.

“Kunjungan warga ke pemakaman naik drastis saat Lebaran. Hampir semua yang datang pasti beli bunga tabur, jadi ini memang momen yang paling ditunggu pedagang,” katanya.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana tradisi keagamaan turut menggerakkan roda ekonomi di tingkat lokal.

Aktivitas ziarah tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga berdampak langsung terhadap penghasilan masyarakat kecil.

Pedagang musiman maupun yang setiap harinya berjualan bunga tabur di TPU tersebut mendapatkan peluang rezeki dari meningkatnya aktivitas masyarakat.

Mereka memanfaatkan momen ini sebagai sumber pendapatan utama dalam periode tertentu.

Selain bunga tabur, air mawar juga menjadi komoditas yang banyak dicari peziarah.

Produk ini biasanya digunakan bersamaan dengan bunga sebagai bagian dari tradisi tabur bunga di atas makam.

Keduanya menjadi pelengkap dalam tradisi penghormatan kepada keluarga yang telah berpulang.

Permintaan yang tinggi terhadap kedua produk ini membuat pedagang mampu meningkatkan omzet secara signifikan dalam waktu singkat.

Cuaca Jadi Faktor Penentu Jumlah Pengunjung

Namun, tambah Marni, faktor cuaca juga turut memengaruhi jumlah pengunjung yang datang ke pemakaman.

Kondisi cuaca yang tidak menentu dapat berdampak langsung pada tingkat kunjungan peziarah.

Marni mengungkapkan bahwa kondisi hujan dapat menurunkan jumlah pembeli secara signifikan.

Ketika hujan, aktivitas ziarah cenderung berkurang karena masyarakat menunda kunjungan mereka.

“Kalau tidak hujan semakin ramai yang datang. Kaya kemarin sore kan hujan deras ya, jadi sepi. Tapi hari ini sejak pagi sudah ramai lagi,” ungkapnya.

Cuaca cerah membuat masyarakat lebih leluasa untuk berziarah bersama keluarga.

Selain itu, kondisi lingkungan pemakaman yang lebih nyaman juga mendorong pengunjung untuk datang dalam jumlah lebih besar.

Hal ini berdampak langsung pada peningkatan transaksi di lapak para pedagang.

Mereka mengaku bisa menjual lebih banyak produk dalam waktu singkat saat cuaca mendukung.

Sebaliknya, hujan deras dapat menghambat aktivitas ziarah sehingga penjualan menurun.

Pedagang pun harus bersiap menghadapi fluktuasi ini dengan strategi stok dan waktu berjualan yang lebih fleksibel.

Momen Lebaran Jadi Puncak Rezeki Pedagang Musiman

Meski demikian, secara keseluruhan momen Idulfitri tetap menjadi periode paling menguntungkan bagi pedagang bunga tabur.

Dalam beberapa hari, mereka bisa memperoleh penghasilan yang jauh lebih besar dibandingkan hari biasa.

Momentum ini juga dimanfaatkan oleh pedagang musiman yang hanya berjualan saat Lebaran.

Mereka ikut meramaikan area sekitar TPU dengan berbagai pilihan bunga tabur yang menarik perhatian peziarah.

Di tengah suasana khidmat ziarah, geliat ekonomi kecil terus hidup dan memberikan harapan bagi para pelaku usaha mikro di sekitar pemakaman.

Aktivitas jual beli yang meningkat menjadi bukti nyata bahwa tradisi masyarakat dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi lokal.

Kawasan TPU Islam Tanah Baru pun tidak hanya menjadi tempat berziarah, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial dan ekonomi yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu momentum yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *