Luapan Situ Sidomukti Depok Picu Banjir, Rumah Warga Terendam
adainfo.id – Genangan air merendam sejumlah rumah warga di kawasan Sukmajaya, Kota Depok, pada Rabu (11/03/2026) malam.
Banjir terjadi setelah debit air dari Situ Sidomukti meningkat tajam dan meluap hingga masuk ke kawasan permukiman.
Ketinggian air di beberapa titik bahkan mencapai lutut orang dewasa.
Kondisi tersebut membuat aktivitas warga terganggu karena air mulai masuk ke dalam rumah dan menggenangi jalan lingkungan.
Selain tingginya volume air yang datang dari situ, minimnya lahan resapan di kawasan tersebut juga dinilai memperparah kondisi banjir.
Air yang tidak tertampung dengan baik akhirnya meluap ke area permukiman warga.
Situasi ini membuat warga terpaksa berupaya menyelamatkan barang-barang di dalam rumah agar tidak terendam air.
Sebagian warga juga memilih untuk tetap bertahan sambil menunggu genangan air mulai surut.
Luapan Situ Sidomukti Picu Banjir
Warga menduga banjir dipicu oleh meluapnya debit air dari Situ Sidomukti yang tidak mampu menampung volume air yang terus meningkat.
Kondisi tersebut menyebabkan air melimpas ke sejumlah kawasan di sekitarnya, termasuk wilayah permukiman.
Salah satu warga Diana (25), mengatakan banjir yang terjadi kali ini merupakan kejadian pertama dalam kurun waktu sekitar satu tahun terakhir.
“Kalau tahun ini baru ini air naik. Sebelumnya sempat naik juga tapi sudah lama, kurang lebih satu tahun yang lalu,” ungkap Diana saat ditemui di lokasi, Rabu (11/03/2026) malam.
Menurut Diana, wilayah yang terdampak banjir di Kampung Cikumpa berada di lingkungan RT03/RW02.
Meski hanya terjadi di satu wilayah RT, genangan air yang cukup tinggi sudah mulai mengganggu aktivitas masyarakat setempat.
“Kalau banjirnya hanya satu RT ini saja. Tapi kedalaman airnya sudah cukup parah dan mulai mengganggu aktivitas warga karena sudah masuk ke rumah juga,” jelas Diana.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus memindahkan perabot rumah tangga ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari kerusakan akibat terendam air.
Air Kiriman dari Hulu
Warga lainnya, Daus (45), menyebut banjir juga dipicu oleh kiriman air dari wilayah hulu yang menyebabkan pintu air Situ Sidomukti harus dibuka.
Menurutnya, pembukaan pintu air dilakukan untuk mengurangi tekanan air di area situ yang volumenya sudah sangat tinggi.
“Biasanya ini air kiriman dari pintu air situ. Berarti kalau di sini sudah banjir, wilayah sekitar pintu air itu sudah parah banjirnya makanya pintu air dibuka,” ungkap Daus.
Air yang mengalir dari situ kemudian meluap ke sejumlah wilayah di sekitarnya.
Hal tersebut menyebabkan genangan dengan cepat meluas ke permukiman warga yang berada di dataran lebih rendah.
Berdasarkan pantauan di lapangan, wilayah di sekitar pintu air Situ Sidomukti yang berada di RT01/RW01 juga mengalami banjir yang cukup parah.
Sejumlah rumah warga tampak terendam air, sementara sebagian warga berupaya membersihkan saluran air agar alirannya tidak semakin tersumbat.
Pendangkalan Situ dan Sampah Jadi Sorotan
Selain tingginya debit air, warga juga menyoroti kondisi Situ Sidomukti yang mengalami pendangkalan akibat tumpukan lumpur dan sampah.
Pendangkalan tersebut membuat kapasitas tampung air di situ semakin berkurang sehingga mudah meluap ketika terjadi peningkatan debit air.
Rizal (30), salah satu warga setempat, mengatakan sebelumnya sempat dilakukan pengerukan lumpur menggunakan alat berat untuk memperdalam situ.
Namun menurutnya upaya tersebut belum sepenuhnya efektif.
“Sempat ada pengerukan pakai beko buat memperdalam dan mengurangi lumpur. Tapi penanganannya tidak serius, sampah masih banyak, lumpur masih menumpuk, akhirnya jadi begini,” ujar Rizal.
Menurut warga, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penanganan yang lebih menyeluruh agar situ dapat kembali berfungsi secara optimal sebagai penampung air.
Drainase Dinilai Tidak Memadai
Selain persoalan pendangkalan situ, warga juga menilai saluran drainase di kawasan tersebut terlalu sempit sehingga tidak mampu menampung debit air yang besar.
Saluran air yang terbatas membuat air yang datang dari situ tidak dapat mengalir dengan cepat menuju jalur pembuangan.
Akibatnya, air meluap dan menggenangi permukiman warga.
Warga menyebut banjir di kawasan tersebut biasanya membutuhkan waktu cukup lama untuk surut.
Genangan air umumnya baru mulai berkurang pada dini hari setelah debit air menurun.
Kondisi ini membuat masyarakat harus bersabar menunggu air surut sambil terus memantau perkembangan genangan di sekitar rumah mereka.
Sejumlah warga berharap pemerintah dan dinas terkait dapat melakukan penanganan lebih serius terhadap kondisi Situ Sidomukti serta sistem drainase di kawasan Sukmajaya.
Upaya normalisasi situ, pembersihan sampah, serta perbaikan saluran air dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah banjir kembali terjadi di kawasan permukiman tersebut.












