Melihat Jadwal Perayaan Imlek hingga Idulfitri 2026 di Jakarta, Ini Rangkaiannya

ARY
Ilustrasi rangkaian perayaan Imlek, Ramadan, Nyepi dan Idulfitri 2026 di Jakarta. (Foto: Pexels/Jeffry Surianto)

adainfo.id – Rangkaian program besar untuk memeriahkan perayaan Imlek, Ramadan, Hari Raya Nyepi, hingga Idulfitri akan digelar di Jakarta sepanjang Februari hingga Maret 2026.

Agenda lintas perayaan ini dirancang tidak hanya sebagai bentuk perayaan keagamaan, tetapi juga sebagai penguatan harmoni kebinekaan sekaligus penggerak ekonomi ibu kota.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan dimulai pada 13 hingga 17 Februari 2026 dengan perayaan Tahun Baru Imlek.

Setelah itu, suasana kota akan memasuki fase transisi menuju Ramadan, yang tahun ini berdekatan dengan rangkaian Hari Raya Nyepi dan Idulfitri.

“Jadi dari 13 hingga 17 Februari kita merayakan Imlek. Kemudian, yang menarik nanti, dari 17 menuju 18, ada transisi kita masuk Ramadan,” papar Rano dikutip Kamis (12/02/2026).

Transisi tersebut menjadi simbol keberagaman Jakarta yang dinamis.

Dalam hitungan hari, tema dekorasi dan nuansa kota akan berubah mengikuti momentum keagamaan yang berbeda, namun tetap dalam satu semangat kebersamaan.

Imlek Meriahkan Jakarta di Awal Februari

Perayaan Imlek tahun ini diproyeksikan berlangsung semarak di sejumlah titik strategis Jakarta.

Kawasan pusat kota, ruang publik, hingga pusat perbelanjaan akan dihiasi ornamen khas Imlek seperti lampion dan dekorasi bernuansa merah dan emas.

Pemprov DKI Jakarta juga menggandeng pelaku industri perhotelan serta pusat perbelanjaan untuk menghadirkan paket hiburan dan promosi tematik.

Kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan kunjungan masyarakat serta wisatawan domestik ke Jakarta.

Momentum Imlek dinilai memiliki dampak signifikan terhadap sektor ritel, kuliner, dan perhotelan.

Aktivitas belanja dan hiburan yang meningkat selama periode ini menjadi salah satu faktor pendorong perputaran ekonomi kota.

Rano menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dirancang untuk menghadirkan atmosfer kota yang inklusif dan terbuka bagi semua warga.

Transisi Menuju Ramadan

Memasuki 17 hingga 18 Februari, Jakarta akan bersiap menyambut bulan suci Ramadan.

Perubahan tema kegiatan menjadi bagian dari strategi Pemprov DKI Jakarta untuk menghadirkan suasana yang selaras dengan momentum keagamaan.

Dikatakan Rano, untuk menyambut Ramadan nanti Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan perubahan tema kegiatan dari gelaran Imlek.

Program menyambut Ramadan akan berlangsung sekitar dua pekan.

Selama periode tersebut, sejumlah kegiatan sosial, religi, dan hiburan bernuansa Islami akan digelar di berbagai wilayah Jakarta.

“Dua pekan menjelang Idulfitri, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan sejumlah program,” ucap Rano.

Selain memperkuat nilai spiritual, kegiatan ini juga diharapkan mendorong aktivitas ekonomi, khususnya sektor UMKM yang biasanya mengalami peningkatan permintaan selama Ramadan.

Lampu hias tematik akan menghiasi sejumlah ruas jalan utama. Suasana malam di Jakarta diproyeksikan tampil lebih semarak namun tetap mencerminkan kekhusyukan bulan suci.

Paket Hiburan dan Dampak Ekonomi

Pemprov DKI Jakarta tidak hanya menghadirkan dekorasi visual, tetapi juga menyiapkan paket hiburan melalui kerja sama dengan hotel dan pusat perbelanjaan.

Selain program lampu hias, menurut Rano, pihaknya telah menyiapkan paket hiburan bekerjasama dengan sejumlah hotel dan pusat perbelanjaan.

“Diharapkan, paket program itu akan berdampak meningkatkan perekonomian Jakarta,” tutur Rano.

Sinergi antara pemerintah daerah dan pelaku usaha menjadi strategi penting dalam menjaga daya beli masyarakat.

Perayaan hari besar keagamaan kerap menjadi momentum peningkatan konsumsi rumah tangga, okupansi hotel, serta kunjungan wisata.

Dengan jadwal perayaan yang berdekatan, Jakarta berpotensi mengalami lonjakan aktivitas ekonomi dalam kurun waktu dua bulan berturut-turut.

Hal ini diharapkan memberi efek berganda terhadap sektor transportasi, kuliner, hiburan, dan perdagangan.

Ogoh-Ogoh dan Penjor di Bundaran HI

Selain Imlek dan Ramadan, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi.

Tahun ini, perayaan Nyepi akan menghadirkan nuansa budaya Bali secara langsung di Jakarta.

Direncanakan, DKI Jakarta akan menghadirkan Ogoh-ogoh langsung dari Bali pada 8 Maret nanti.

Kehadiran ogoh-ogoh menjadi simbol penghormatan terhadap tradisi umat Hindu yang merayakan Nyepi.

Tidak hanya itu, pada waktu yang berdekatan, penjor-penjor juga akan dipasang di kawasan Bundaran HI sebagai bagian dari dekorasi tematik.

Pada kisaran waktu yang sama, ungkap Rano, Pemprov DKI Jakarta akan memasang penjor-penjor di kawasan Bundaran HI.

“Rangkaian kegiatan perayaan hari raya ini sebagai wujud nyata Jakarta penuh warna,” jelas Rano.

Bundaran HI yang selama ini menjadi ikon Jakarta akan kembali menjadi pusat perhatian publik dengan balutan ornamen budaya yang berbeda dari biasanya.

Kehadiran simbol-simbol budaya tersebut mencerminkan wajah Jakarta sebagai kota global yang tetap menjunjung nilai tradisi.

Bhineka Tunggal Ika dalam Perayaan Kota

Rangkaian perayaan lintas agama ini bukan sekadar agenda seremonial.

Pemerintah Provinsi menempatkannya sebagai wujud konkret penguatan nilai Bhineka Tunggal Ika.

Selain memeriahkan kota, tegas Rano, perayaan ini juga sebagai wujud nyata dari Bhineka Tunggal Ika.

“Jadi, tujuan kita mengadakan kegiatan ini, pertama untuk saling menjaga Jakarta dari segala aspek, keberagaman. Lalu kita sepakat kita berbeda, untuk itulah kita berikan ruang bagi saudara-saudara kita yang memang merayakan,” pungkas Rano.

Kota ini diketahui merupakan wilayah yang dihuni oleh masyarakat dari berbagai latar belakang suku, agama, dan budaya.

Dengan menghadirkan ruang perayaan yang setara, pemerintah daerah berupaya memperkuat kohesi sosial di tengah dinamika kota metropolitan.

Kebijakan ini juga dinilai mampu menciptakan rasa memiliki terhadap ruang publik.

Ketika simbol budaya dari berbagai kelompok hadir secara bergantian di pusat kota, masyarakat merasakan pengakuan dan penghormatan atas identitasnya.

Sepanjang Februari hingga Maret 2026, Kota tersebut diproyeksikan tampil dengan wajah yang terus berubah mengikuti momentum hari raya.

Dari lampion Imlek, nuansa Ramadan, ogoh-ogoh Nyepi, hingga kemeriahan Idulfitri, seluruhnya dirangkai dalam satu narasi besar tentang kota yang inklusif, dinamis, dan penuh warna.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *