Melihat Suasana Salat Idulfitri Muhammadiyah di Depok, Pesan Saling Menghormati Digaungkan
adainfo.id – Ribuan jemaah Muhammadiyah memadati pelaksanaan salat Idulfitri yang digelar pada Jumat (20/03/2026) di Lapangan Sepakbola Kukusan, Kota Depok.
Pelaksanaan salat Idulfitri ini menjadi salah satu titik utama perayaan bagi warga Muhammadiyah di wilayah Depok dan sekitarnya.
Selepas subuh, jemaah mulai berdatangan untuk memastikan mendapatkan tempat di area yang telah disiapkan panitia.
Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa jemaah mulai memadati area sejak pukul 05.30 WIB. Mereka langsung menempati shaf yang telah diatur oleh panitia dari Masjid Al-Mujahidin.
Suasana khusyuk dan tertib terlihat sejak awal pelaksanaan, meskipun jumlah jemaah terus bertambah seiring waktu.
Kondisi ini membuat panitia harus melakukan penyesuaian terhadap kapasitas area salat. Antusiasme masyarakat yang tinggi terlihat dari membludaknya jumlah jemaah yang hadir.
Bahkan, jumlah shaf yang telah disiapkan sebelumnya tidak mampu menampung seluruh peserta.
Ketua DKM Masjid Al-Mujahidin, Rustam Efendi, menyebutkan bahwa jumlah jemaah yang hadir mencapai lebih dari 1.000 orang.
“Alhamdulillah antusiasme dari jamaah begitu besar. Awalnya kita siapkan 15 shaf buat laki-laki, tapi ternyata kurang sehingga harus ditambah,” ujar Rustam yang juga menjadi imam salat Idulfitri tersebut.
Perbedaan Idulfitri Jadi Momentum Perkuat Ukhuwah
Pelaksanaan salat Idulfitri oleh Muhammadiyah yang lebih awal dibandingkan penetapan pemerintah menjadi refleksi dinamika dalam penentuan hari besar keagamaan di Indonesia.
Namun, perbedaan tersebut tidak mengurangi semangat kebersamaan di tengah masyarakat. Justru, momen ini dimaknai sebagai kesempatan untuk memperkuat ukhuwah Islamiah.
Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Kukusan, Zakaria Asmat, mengajak masyarakat untuk menyikapi perbedaan tersebut dengan bijak dan penuh toleransi.
Menurutnya, perbedaan dalam penentuan awal Syawal merupakan hal yang sudah lama terjadi dan menjadi bagian dari kekayaan tradisi keagamaan di Indonesia.
Ia menekankan bahwa masyarakat tidak perlu terjebak dalam perdebatan yang dapat memicu perpecahan.
“Perbedaan itu suatu rahmat. Ini bukan hal baru, dan kita harus saling menghormati tanpa saling menyalahkan,” tuturnya.
Dengan sikap saling menghargai, masyarakat diharapkan dapat menjaga persatuan di tengah keberagaman pandangan yang ada.
Jemaah Datang dari Berbagai Wilayah
Pelaksanaan salat Idulfitri di Lapangan Kukusan tidak hanya diikuti oleh warga sekitar, tetapi juga jemaah dari berbagai wilayah di Depok.
Sejumlah jemaah diketahui datang dari daerah seperti Beji, Kelapa Dua, hingga Cimanggis untuk mengikuti salat berjamaah di lokasi tersebut.
Kehadiran jemaah dari berbagai wilayah ini menunjukkan tingginya semangat kebersamaan dalam merayakan hari kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan.
Selain itu, keberagaman asal jemaah juga mencerminkan luasnya jangkauan kegiatan Muhammadiyah di wilayah Depok.
Momen ini menjadi ajang silaturahmi antarwarga yang jarang bertemu dalam aktivitas sehari-hari.
Dengan berkumpul dalam satu tempat, jemaah dapat mempererat hubungan sosial dan memperkuat rasa persaudaraan.
Kondisi ini menjadi salah satu nilai positif yang tercipta dari pelaksanaan salat Idulfitri secara berjamaah.
Peran Panitia dalam Menjaga Kelancaran Ibadah
Kelancaran pelaksanaan salat Idulfitri tidak lepas dari peran panitia yang telah mempersiapkan berbagai kebutuhan sejak jauh hari.
Mulai dari pengaturan lokasi, penyediaan fasilitas, hingga pengaturan arus jemaah dilakukan secara terorganisir.
Panitia dari Masjid Al-Mujahidin berperan aktif dalam memastikan seluruh jemaah dapat mengikuti ibadah dengan nyaman.
Penambahan jumlah shaf menjadi salah satu langkah cepat yang dilakukan untuk mengatasi lonjakan jumlah jemaah.
Selain itu, pengaturan area juga dilakukan agar pelaksanaan ibadah tetap berlangsung tertib.
Kesiapan panitia menjadi faktor penting dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi di lapangan.
Dengan koordinasi yang baik, seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar tanpa kendala berarti.
Idulfitri Jadi Momentum Refleksi dan Kebersamaan
Selain sebagai perayaan hari kemenangan, Idulfitri juga dimaknai sebagai momentum refleksi bagi umat Muslim.
Momen ini menjadi kesempatan untuk kembali memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas sosial.
Zakaria Asmat menegaskan bahwa Idulfitri seharusnya menjadi sarana untuk mempererat persatuan di tengah masyarakat.
Ia mengajak seluruh umat Muslim untuk menjadikan perayaan ini sebagai ajang memperkuat hubungan antar sesama.
Dengan saling memaafkan, masyarakat dapat membangun hubungan yang lebih harmonis.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan sosial.
Melalui semangat kebersamaan, masyarakat diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih damai dan sejahtera.
Toleransi Jadi Kunci Jaga Persatuan Umat
Perbedaan dalam penentuan hari raya tidak dapat dihindari, namun sikap toleransi menjadi kunci utama dalam menjaga persatuan.
Ditekankan betapa pentingnya menghargai perbedaan sebagai bagian dari dinamika kehidupan beragama.
Perbedaan metode penentuan awal Syawal, baik melalui hisab maupun rukyat, merupakan hal yang wajar.
Dengan memahami hal tersebut, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menyikapi perbedaan.
Sikap saling menghormati menjadi fondasi utama dalam menjaga keharmonisan antarumat.
Perbedaan yang ada seharusnya tidak menjadi sumber konflik, melainkan sebagai kekayaan yang memperkuat persatuan.
Melalui pendekatan yang inklusif, masyarakat dapat hidup berdampingan dengan damai.
Semangat toleransi ini menjadi nilai penting yang terus dijaga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.












