Mengapa Konten Viral Mudah Dipercaya? Ini Penjelasan Pakar Komunikasi

ARY
Ilustrasi konten viral sebagai simbol budaya digital dan viralitas. (Foto: Pixabay/geralt)

adainfo.id – Fenomena viralitas digital di media sosial kian menguat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern.

Di tengah derasnya arus informasi, viral bukan lagi sekadar popularitas sesaat, melainkan telah menjelma menjadi mekanisme pembentuk cara berpikir, kepercayaan, hingga orientasi makna publik di era digital.

Dorongan untuk menjadi viral membuat sebagian masyarakat berlomba menciptakan konten yang mampu menarik perhatian luas.

Baik untuk menjadi trend setter maupun sekadar mengikuti arus topik yang sedang ramai diperbincangkan.

Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam pola komunikasi kontemporer.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Dian Arymami, menilai fenomena viralitas media sosial tidak bisa dipahami hanya sebagai perubahan teknis dalam komunikasi, melainkan sebagai narasi budaya yang membentuk struktur makna masyarakat.

Menurutnya, viralitas lahir dari pergeseran ideologi komunikasi di era media sosial, di mana mood dan style menjadi elemen dominan dalam penyebaran pesan.

Media digital, kata Dian, tidak lagi mengandalkan argumen rasional semata, tetapi bekerja melalui daya tarik emosional yang kuat.

Emosi pun mengalami transformasi, dari sekadar reaksi personal menjadi bentuk pengetahuan dalam budaya digital.

“Emosi tidak lagi bisa diposisikan hanya sebagai reaksi personal, tetapi sudah menjadi cara masyarakat memproduksi dan mempercayai makna, apalagi dalam konteks viralitas di media digital,” ungkapnya dikutip Selasa (03/02/2026).

Ruang Viral dan Pergeseran Ruang Publik

Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa media sosial dirancang untuk mengelola perhatian sekaligus emosi publik.

Akibatnya, ruang diskusi yang tercipta kerap berbeda dengan konsep ruang publik rasional sebagaimana dijelaskan dalam teori komunikasi klasik.

Ruang viral, menurutnya, bekerja melalui simbol, citra, dan representasi visual yang membangun persepsi kolektif masyarakat.

Dalam konteks ini, viralitas tidak selalu menghasilkan perubahan tindakan nyata, tetapi berperan besar dalam membentuk keyakinan dan arah berpikir publik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa apa yang viral sering kali dipercaya, dibenarkan, dan diterima secara luas tanpa proses verifikasi rasional yang mendalam.

Viralitas sebagai Arena Kontestasi Makna

Dian juga menyoroti bahwa wacana di ruang digital dapat berubah menjadi hegemoni kelompok tertentu ketika bertemu dengan fragmentasi hasrat dan relasi kuasa.

Makna yang beredar di media sosial tidak pernah tunggal atau stabil. Ia terus diproduksi, dinegosiasikan, dan diperebutkan oleh berbagai kepentingan, baik ekonomi, politik, maupun budaya.

“Makna selalu bergantung pada hasrat yang muncul dan relasi kuasa yang menyertainya, sehingga viralitas menjadi arena kontestasi makna,” beber dosen FISIPOL UGM tersebut.

Menurut Dian, kondisi ini mencerminkan karakter late modernism, yang ditandai oleh percepatan arus informasi, fragmentasi pengalaman sosial, serta meningkatnya rasa keterasingan di tengah masyarakat digital.

Di tengah dominasi viralitas digital, Dian menilai pentingnya literasi media agar masyarakat tidak sekadar menjadi konsumen emosi dan simbol, tetapi mampu bersikap kritis terhadap pesan yang beredar.

Tanpa kemampuan membaca konteks dan relasi kuasa di balik viralitas, masyarakat berisiko terjebak dalam arus makna yang dibentuk oleh kepentingan tertentu, tanpa disadari.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *