Menko Airlangga Soroti Geopolitik Global di Tokyo Conference 2026, Asia Didorong Perkuat Kerja Sama Ekonomi

ARY
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida saat menghadiri forum Tokyo Conference 2026. Airlangga berbicara mengenai peran Asia dalam ekonomi global. (Foto: Instagram/airlanggahartarto_official)

adainfo.id – Perubahan lanskap geopolitik global dinilai semakin kompleks dan menuntut negara-negara Asia untuk memperkuat kerja sama regional serta menjaga sistem perdagangan internasional yang berbasis aturan.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam forum internasional Tokyo Conference 2026 di Jepang.

Dalam sesi Asian Leaders Roundtable bertema “Envisioning Our Future: What kind of global role should Asia aspire in 2050?” yang digelar di Tokyo, Jepang, Selasa (10/03/2026), Airlangga menilai dunia saat ini tengah menghadapi dinamika geopolitik yang semakin rumit.

Menurutnya, hubungan antar negara besar kini tidak lagi semata-mata didasarkan pada kerja sama jangka panjang, tetapi semakin dipengaruhi oleh kepentingan strategis dan pendekatan transaksional.

“Tatanan global sebenarnya sudah multipolar sejak beberapa waktu. Namun pola interaksi antar kekuatan kini semakin didorong oleh kepentingan kekuatan dan transaksi politik,” tutur Airlangga.

Ia menjelaskan bahwa tren proteksionisme di berbagai negara juga semakin meningkat.

Kondisi tersebut berdampak pada melemahnya kepercayaan terhadap sistem multilateral yang selama ini menjadi fondasi perdagangan global.

Tantangan Sistem Perdagangan Global

Dalam paparannya, Airlangga menyoroti tantangan yang dihadapi berbagai lembaga internasional dalam menjaga stabilitas perdagangan dunia.

Ia menyebut World Trade Organization masih menghadapi kesulitan untuk mencapai kemajuan signifikan dalam isu perdagangan digital maupun penguatan rantai pasok global.

Di sisi lain, United Nations juga menghadapi tantangan dalam menjaga efektivitas multilateralisme di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan berbagai krisis global.

Menurut Airlangga, kondisi tersebut menandakan bahwa sistem kerja sama global perlu diperkuat agar mampu menghadapi perubahan dinamika internasional yang semakin cepat.

Ia juga menyinggung ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu ketidakpastian global.

Konflik yang melibatkan sejumlah negara besar, termasuk Amerika Serikat, Israel, dan Iran, dinilai memiliki dampak luas terhadap stabilitas ekonomi dunia.

“Fluktuasi harga minyak juga menunjukkan betapa dinamisnya situasi geopolitik global saat ini,” bebernya.

Per 10 Maret 2026, harga minyak Brent tercatat sekitar 90,42 dolar AS per barel setelah sebelumnya sempat melonjak hingga lebih dari 100 dolar AS akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Asia Diproyeksikan Jadi Pusat Ekonomi Dunia

Meski dihadapkan pada berbagai tantangan global, Airlangga optimistis kawasan Asia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kekuatan ekonomi dunia pada masa depan.

Ia menyebut bahwa pada tahun 2050, kawasan Asia diproyeksikan menyumbang sekitar 52 persen dari produk domestik bruto (PDB) global.

Sejumlah negara besar di kawasan tersebut diperkirakan akan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dunia.

China diproyeksikan menjadi ekonomi terbesar di Asia dengan PDB hampir 58 triliun dolar AS berdasarkan skema paritas daya beli.

Sementara itu India diperkirakan memiliki PDB sekitar 44 triliun dolar AS.

Dalam proyeksi tersebut, Indonesia diprediksi menempati posisi ketiga di Asia dengan PDB sekitar 10 hingga 11 triliun dolar AS.

Adapun Jepang diperkirakan memiliki PDB sekitar 8 hingga 9 triliun dolar AS, sementara Korea Selatan berada pada kisaran 3 hingga 4 triliun dolar AS.

Airlangga menilai potensi besar tersebut hanya dapat terwujud apabila negara-negara di kawasan Asia mampu membangun kepercayaan serta memperkuat kerja sama regional secara konsisten.

Peran ASEAN dan Kerja Sama Ekonomi Regional

Airlangga juga menyoroti peran penting Association of Southeast Asian Nations sebagai salah satu blok ekonomi yang diproyeksikan semakin berpengaruh di dunia pada 2050.

Saat ini kawasan ASEAN memiliki nilai produk domestik bruto kolektif sekitar 4,13 triliun dolar AS.

Menurut Airlangga, integrasi ekonomi kawasan dapat diperkuat melalui berbagai kerja sama perdagangan regional yang telah berjalan.

Salah satu kerja sama tersebut adalah Regional Comprehensive Economic Partnership yang memiliki nilai ekonomi sekitar 38,8 triliun dolar AS dan mewakili sekitar 30 persen perdagangan global.

Selain itu, kerja sama perdagangan lain seperti Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership juga dinilai menjadi pilar penting dalam memperkuat integrasi ekonomi kawasan Asia-Pasifik.

Ia menekankan bahwa negara-negara Asia perlu menjaga perdagangan yang terbuka dan berbasis aturan agar dapat menghadapi dinamika ekonomi global secara lebih stabil.

“Alih-alih terfragmentasi, kita harus memperkuat konektivitas. Alih-alih proteksionisme, kita harus memperkuat perdagangan terbuka berbasis aturan,” bebernya.

Strategi Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

Dalam forum tersebut, Airlangga juga memaparkan kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai tetap stabil di tengah tekanan global.

Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 5,4 persen pada tahun 2026.

Selain itu, Indonesia juga mencatatkan surplus perdagangan selama 69 bulan berturut-turut hingga awal tahun ini.

Inflasi nasional juga disebut tetap terkendali dengan defisit fiskal sekitar 2,68 persen terhadap produk domestik bruto.

Airlangga mengatakan pemerintah terus memperkuat strategi pembangunan melalui pendekatan yang disebut Indonesia Incorporated.

“Kami juga mempercepat strategi Indonesia Incorporated, yaitu sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh elemen bangsa untuk mencapai tujuan pembangunan bersama,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa ketegangan geopolitik global dan volatilitas harga energi menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi dunia tidak dapat dianggap pasti.

Namun demikian, Airlangga optimistis bahwa kawasan Asia memiliki peluang besar untuk memainkan peran utama dalam perekonomian dunia jika negara-negara di kawasan tetap berkomitmen terhadap kerja sama regional yang terbuka dan inklusif.

“Jika Asia tetap berkomitmen pada kerja sama terbuka dan menolak persaingan zero-sum, maka tahun 2050 dapat menjadi abad Asia,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *