Menko Airlangga Ungkap Dampak Ketegangan di Timur Tengah, Pasokan Minyak dan Pariwisata Terancam

ARY
Ilustrasi Menko Airlangga menyampaikan dampak konflik Timur Tengah terhadap ekonomi Indonesia. (Foto: 1971yes/Getty Images)

adainfo.id – Ketegangan di Timur Tengah antara Amerika Serikat – Israel dan Iran mulai memunculkan dampak ekonomi global yang berpotensi dirasakan Indonesia, terutama pada sektor energi, logistik, hingga pariwisata.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan berbagai konsekuensi ekonomi yang akan dihadapi Indonesia akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Situasi ini dipicu oleh serangan yang dilakukan antara Amerika Serikat – Israel dan Iran.

Menurut Airlangga, dampak pertama yang akan dirasakan adalah pasokan minyak global.

Hal ini disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang merupakan jalur utama bagi kapal-kapal tanker minyak dunia.

Ancaman Gangguan Pasokan Minyak Global

Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu choke point paling vital dalam perdagangan energi dunia.

Jalur sempit tersebut menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi rute utama ekspor minyak dari negara-negara produsen di kawasan Timur Tengah.

Ketika akses jalur ini terganggu, efeknya langsung terasa pada pasokan minyak global dan harga energi internasional.

Airlangga menilai kondisi ini akan berdampak sistemik terhadap berbagai sektor ekonomi.

“Ya pertama yang terganggu kan pasti supply minyak. Yang kedua transportasi logistik. Dan yang ketiga tentunya kita melihat turisme akan sangat terganggu,” papar Menko Airlangga dikutip Senin (02/03/2026).

Lonjakan harga minyak mentah global berpotensi meningkatkan tekanan terhadap harga bahan bakar minyak dalam negeri.

Meski Indonesia memiliki skema subsidi dan pengendalian harga, gejolak pasar internasional tetap menjadi faktor penentu.

Airlangga tidak membantah bahwa ketegangan yang terjadi di Timur Tengah berkontribusi pada peningkatan harga BBM.

“Otomatis (harga BBM) akan naik sama seperti saat perang Ukraine kan naik. Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat, dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,” paparnya.

Dampak terhadap Logistik dan Transportasi

Selain sektor energi, transportasi dan logistik internasional turut terdampak akibat gangguan distribusi dan perubahan rute pelayaran maupun penerbangan.

Penutupan wilayah udara di sejumlah negara Timur Tengah membuat maskapai internasional melakukan penyesuaian jadwal dan rute.

Kondisi ini berdampak pada waktu tempuh yang lebih panjang serta biaya operasional yang meningkat.

Airlangga menyebut gangguan tersebut berpotensi menghambat arus barang dan komoditas ekspor Indonesia, terutama yang bergantung pada jalur distribusi global.

Selain logistik laut, sektor penerbangan juga mengalami tekanan.

Sejumlah penerbangan internasional dilaporkan mengalami penundaan di beberapa bandara Indonesia dalam beberapa hari terakhir akibat eskalasi konflik.

Kondisi ini turut berimbas pada sektor pariwisata nasional yang masih dalam tahap pemulihan pascapandemi.

Sektor Pariwisata Terancam

Airlangga secara khusus menyoroti potensi gangguan terhadap sektor pariwisata.

Tingginya ketidakpastian keamanan global dapat memengaruhi minat wisatawan mancanegara untuk bepergian, termasuk ke Indonesia.

Gangguan penerbangan internasional, perubahan rute, serta meningkatnya biaya perjalanan menjadi faktor yang dapat menekan angka kunjungan wisatawan asing.

Pemerintah, menurutnya, terus memantau dinamika global untuk mengantisipasi dampak lanjutan terhadap industri pariwisata dan sektor jasa lainnya.

Kekhawatiran terhadap Ekspor Nasional

Selain energi dan pariwisata, perdagangan ekspor Indonesia juga dinilai berpotensi terdampak apabila konflik berlangsung dalam jangka panjang.

Airlangga menyatakan bahwa durasi konflik menjadi faktor krusial dalam menentukan seberapa besar dampak ekonomi yang akan dirasakan.

“Kalau negara tergantung juga berapa lama. Balik lagi kita monitor aja bahwa perang ini lama atau perang 12 hari atau perang berapa jauh,” bebernya.

Ketidakpastian global biasanya memicu fluktuasi nilai tukar, perubahan harga komoditas, dan gangguan rantai pasok.

Indonesia sebagai negara dengan ekonomi terbuka tidak terlepas dari dinamika tersebut.

Strategi Antisipasi Pemerintah

Untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan energi dari Timur Tengah, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif melalui kerja sama dengan negara lain di luar kawasan tersebut.

Airlangga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menandatangani nota kesepahaman dengan Amerika Serikat guna memastikan pasokan minyak mentah alternatif.

“Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan supply dari non-middle east. Misalnya kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika beberapa, dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain,” ungkapnya.

Kerja sama tersebut melibatkan perusahaan energi global seperti Chevron dan ExxonMobil untuk memperkuat diversifikasi sumber pasokan energi Indonesia.

Langkah diversifikasi ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan dalam negeri sekaligus mengurangi risiko ketergantungan pada satu kawasan geopolitik tertentu.

Selain itu, peningkatan produksi oleh negara-negara anggota OPEC juga diharapkan dapat membantu meredam lonjakan harga minyak dunia.

Airlangga menegaskan bahwa meskipun tekanan eksternal meningkat, pemerintah tetap optimistis pasokan minyak mentah dan BBM domestik tidak akan mengalami gangguan signifikan.

Pemerintah juga terus memonitor perkembangan situasi global, termasuk dinamika harga komoditas, arus perdagangan, dan stabilitas pasar keuangan.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi pengingat betapa eratnya keterkaitan antara stabilitas global dan ketahanan ekonomi nasional.

Terutama bagi negara-negara yang masih bergantung pada impor energi serta perdagangan internasional.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *