Meski Berbahaya, Perlintasan Sebidang di Depok Tetap Jadi Alternatif Pilihan Warga

AZL
Warga saat akan melintas di perlintasan rel sebidang kawasan Jalan Laskar, Kota Depok. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Kemacetan di sekitar Stasiun Citayam, Kota Depok, membuat pengendara memanfaatkan perlintasan kereta api sebidang tidak resmi sebagai jalur alternatif meski berisiko tinggi terhadap keselamatan.

Penumpukan kendaraan kerap terjadi di perlintasan resmi yang berada tidak jauh dari stasiun.

Kondisi jalan yang bergelombang, tikungan tajam, serta tanjakan membuat arus lalu lintas tersendat dan memicu antrean panjang, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.

Situasi tersebut membuat sebagian pengendara memilih jalur alternatif melalui perlintasan kereta api sebidang di kawasan Jalan Laskar.

Jalur ini dinilai lebih cepat untuk melintasi lintasan kereta rel listrik Jakarta-Bogor dibandingkan harus terjebak kemacetan di perlintasan utama dekat stasiun.

Kendaraan roda empat bahkan harus mengantre cukup lama untuk dapat bergerak dari arah Stasiun Citayam menuju Pasar Citayam maupun sebaliknya.

Tingginya frekuensi perjalanan kereta membuat palang pintu di perlintasan resmi sering tertutup dalam waktu cukup lama, sehingga antrean kendaraan semakin mengular.

Kemacetan Dipicu Kondisi Jalan dan Frekuensi Kereta

Kemacetan di kawasan Citayam bukan hanya dipengaruhi oleh volume kendaraan yang tinggi, tetapi juga kondisi infrastruktur jalan yang belum optimal.

Permukaan aspal yang tidak rata serta jalur yang berkelok memperlambat laju kendaraan, terutama bagi kendaraan roda empat dan angkutan umum.

Selain itu, jalur tersebut berada di area perlintasan kereta dengan frekuensi perjalanan yang cukup padat.

Setiap kali kereta melintas, palang pintu harus ditutup demi keselamatan, namun hal ini justru menambah panjang antrean kendaraan di kedua arah.

Kondisi tersebut semakin diperparah saat jam berangkat dan pulang kerja, ketika volume kendaraan meningkat signifikan.

Pengendara yang tidak ingin terjebak lama di kemacetan akhirnya mencari jalur alternatif, termasuk menggunakan perlintasan sebidang yang tidak memiliki fasilitas resmi.

Perlintasan di Jalan Laskar menjadi salah satu titik yang paling banyak digunakan sebagai jalur pintas.

Meskipun tidak dilengkapi sistem pengamanan modern, arus kendaraan tetap ramai melintas di lokasi tersebut setiap harinya.

Perlintasan Sebidang Jadi Solusi Cepat Meski Berbahaya

Perlintasan sebidang di Jalan Laskar dikelola secara swadaya oleh warga sekitar.

Tanpa adanya palang pintu otomatis maupun rambu resmi, pengaturan lalu lintas sepenuhnya dilakukan oleh penjaga yang bertugas secara bergantian.

Tio (61), penjaga perlintasan yang telah bertugas selama 17 tahun, mengungkapkan bahwa pengendara cenderung memilih jalur tersebut karena dianggap lebih efisien.

“Kalo pengendara emang lebih milih lewat perlintasan disini, soalnya bisa lebih cepet buat motong jalan. Kan kalo di Stasiun Citayam itu kendaraan numpuk bisa parah banget, macet bisa sampe panjang, jadi orang-orang lebih milih lewat sini,” ungkapnya saat ditemui di lokasi, Sabtu (04/04/2026).

Perlintasan ini dijaga oleh 14 orang warga yang bergantian selama 24 jam.

Mereka menggunakan tambang sebagai penghalang sementara saat kereta akan melintas.

Cara sederhana ini dilakukan untuk mengurangi risiko kecelakaan, meskipun tidak sepenuhnya menjamin keselamatan pengguna jalan.

Keberadaan perlintasan sebidang ini menjadi gambaran nyata kebutuhan masyarakat akan akses penyeberangan yang lebih cepat.

Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga menunjukkan adanya celah dalam penyediaan infrastruktur transportasi yang aman dan memadai.

Risiko Tinggi, Pengendara Masih Nekat Menerobos

Meski sudah dijaga oleh warga, risiko kecelakaan di perlintasan sebidang tetap tinggi.

Tidak adanya sistem pengamanan resmi membuat potensi kecelakaan selalu mengintai, terutama ketika pengendara tidak mematuhi aturan yang ada.

“Kadang pengendara tuh masih ada aja yang nerobos, padahal udah ditarik tambang buat nutup plang sama warga saat kereta melintas. Ini kan jadinya berbahaya, pernah ada motor yang nerobos terus motornya mati pas di tengah perlintasan, untung petugas disini langsung sigap buat dorong motor biar keluar jalur sebelum kereta melintas,” katanya.

Kejadian seperti ini menunjukkan bahwa kesadaran sebagian pengendara masih rendah terhadap keselamatan.

Padahal, kereta melintas dengan kecepatan tinggi dan tidak dapat berhenti secara mendadak.

Selain membahayakan diri sendiri, tindakan nekat tersebut juga berisiko bagi pengguna jalan lainnya serta penjaga perlintasan yang bertugas.

Tanpa perlindungan memadai, para penjaga berada di garis depan dalam menghadapi potensi kecelakaan setiap harinya.

Kebutuhan Penataan dan Solusi Infrastruktur

Fenomena penggunaan perlintasan liar di kawasan Citayam menjadi indikasi kuat bahwa kebutuhan akses penyeberangan belum sepenuhnya terpenuhi.

Volume kendaraan yang terus meningkat tidak sebanding dengan kapasitas infrastruktur yang tersedia.

Warga berharap adanya langkah konkret dari pihak terkait untuk mengurai kemacetan sekaligus menata perlintasan sebidang yang saat ini digunakan masyarakat.

Penanganan tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko kecelakaan serta meningkatkan kenyamanan pengguna jalan.

Selain itu, penataan ulang jalur lalu lintas dan peningkatan kualitas jalan di sekitar Stasiun Citayam juga diperlukan untuk mengurangi titik-titik kemacetan.

Integrasi antara transportasi darat dan perkeretaapian menjadi kunci dalam menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien dan aman.

Sementara itu, para penjaga perlintasan terus mengimbau pengendara untuk tetap berhati-hati dan tidak terburu-buru saat melintas.

Keselamatan menjadi hal utama yang harus diutamakan dibandingkan keinginan untuk cepat sampai ke tujuan.

Dengan kondisi yang ada saat ini, kawasan Citayam menjadi salah satu titik yang membutuhkan perhatian serius dalam hal penataan transportasi dan keselamatan jalan di wilayah Depok dan sekitarnya.

Rencana Pembangunan Underpass Citayam

Pemerintah Kota (Pemkot) Depok bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat telah menyepakati rencana pembangunan underpass Citayam sebagai solusi jangka panjang atas kepadatan lalu lintas di kawasan tersebut.

Kesepakatan itu disampaikan langsung oleh Wali Kota Depok, Supian Suri, setelah penandatanganan kerja sama lintas daerah yang turut melibatkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Bupati Bogor Rudy Susmanto.

Proyek ini direncanakan mulai direalisasikan pada tahun 2027 dan menjadi salah satu proyek infrastruktur strategis di wilayah penyangga Jakarta.

“Alhamdulillah saya baru saja menandatangani kesepakatan bersama Bupati Bogor dan Gubernur Jawa Barat terkait rencana pembangunan underpass Citayam yang akan menghubungkan Kota Depok dan Kabupaten Bogor,” tutur Supian Suri dikutip Jumat (06/02/2026).

Disisi lain, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan komitmen penuh Pemprov dalam mendukung proyek pembangunan underpass Citayam.

Dedi Mulyadi menyebut proyek ini sebagai salah satu prioritas infrastruktur yang akan dikerjakan secara terintegrasi dengan daerah.

“Ini adalah perjanjian antara Bupati Bogor dan Wali Kota Depok untuk melakukan pembebasan lahan pembangunan underpass Citayam. Pembebasan lahan dilakukan oleh pemerintah daerah, sementara pembangunan underpass akan dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat,” papar Dedi Mulyadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *