OMC Diterapkan untuk Stabilkan Intensitas Hujan di Wilayah Rawan Banjir, Begini Penjelasannya

ARY
Tim gabungan saat akan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mitigasi banjir di wilayah Jakarta. (Foto: BMKG)

adainfo.id – Upaya menekan risiko banjir dan cuaca ekstrem di Jakarta dan sekitarnya kembali diperkuat melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Langkah ini dijalankan sebagai strategi mitigasi berbasis sains pada periode puncak musim hujan yang secara historis beririsan dengan peningkatan potensi bencana hidrometeorologi.

OMC BMKG difokuskan untuk mengendalikan distribusi dan intensitas hujan, bukan untuk menghilangkannya.

BMKG menegaskan bahwa OMC merupakan metode ilmiah yang terukur, terstandar, dan bukan eksperimen tanpa kendali.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menegaskan bahwa OMC bertujuan mengatur proses fisik dalam awan agar hujan tidak terkonsentrasi di satu wilayah dengan intensitas tinggi.

“Modifikasi cuaca tidak membentuk hujan dari nol. Awan dan hujan sudah ada secara alami. Kami hanya memengaruhi proses fisis di dalam awan agar hujan turun lebih cepat atau intensitasnya tidak terlalu besar,” papar Budi dikutip Kamis (12/02/2026).

Pernyataan tersebut sekaligus meluruskan anggapan keliru bahwa OMC mampu menghentikan hujan secara total.

Tanpa keberadaan awan yang memenuhi syarat meteorologis, operasi modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan.

Dalam praktiknya, OMC justru memanfaatkan potensi awan yang sudah terbentuk secara alami di atmosfer.

Intervensi dilakukan untuk mempercepat proses presipitasi atau memindahkan titik jatuh hujan ke wilayah yang lebih aman, seperti perairan, sehingga beban hujan di daratan dapat berkurang.

Jawaban Terkait Isu Cold Pool

Belakangan, OMC kerap dikaitkan dengan fenomena cold pool yang ramai diperbincangkan di media sosial dan disebut sebagai dampak negatif penyemaian awan. BMKG menilai narasi tersebut tidak tepat secara ilmiah.

Budi menjelaskan bahwa cold pool merupakan kolam udara dingin yang terbentuk secara alami setelah hujan berintensitas tinggi.

Ketika hujan deras turun, massa udara menjadi lebih padat dan bergerak turun ke permukaan, membentuk kantong udara dingin.

Fenomena ini terjadi baik pada hujan alami maupun hujan yang dipengaruhi penyemaian awan.

“Dalam hujan alami tanpa penyemaian sekalipun, cold pool pasti terbentuk. Jadi tidak logis jika modifikasi cuaca dianggap sebagai pemicu cold pool. Itu proses alamiah,” ungkap Budi.

Dengan demikian, keberadaan cold pool tidak dapat dijadikan indikator bahwa OMC menyebabkan gangguan cuaca.

Fenomena tersebut merupakan bagian dari dinamika atmosfer yang normal dalam sistem hujan konvektif.

Bahan Semai Aman dan Teruji

Selain isu cold pool, muncul pula kekhawatiran terkait bahan semai awan yang disebut berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.

BMKG membantah kabar tersebut dan menegaskan bahwa seluruh bahan yang digunakan telah melalui kajian ilmiah.

Selama pelaksanaan OMC, BMKG melakukan uji kualitas air hujan, sungai, dan danau sebelum, selama, dan setelah operasi berlangsung.

“Hasil uji laboratorium menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada kualitas air di ketiga periode tersebut. Artinya, tidak ditemukan dampak negatif terhadap lingkungan,” tutur Budi.

Bahan semai utama yang digunakan dalam OMC adalah natrium klorida (NaCl) atau garam.

Senyawa ini berfungsi sebagai aerosol inti kondensasi untuk mempercepat proses pembentukan butir hujan.

Secara kimia, NaCl serupa dengan aerosol alami hasil penguapan air laut dan tidak mengandung unsur penyebab hujan asam.

Penggunaannya telah menjadi praktik umum dalam berbagai operasi modifikasi cuaca di sejumlah negara.

Berbasis Data Atmosfer dan Pemodelan Cuaca

Disisi lain, Tim Teknik Operasi Modifikasi Cuaca BMKG, Muhammad Aziz Lazuardi, menegaskan bahwa pelaksanaan OMC tidak dilakukan secara sembarangan.

Seluruh proses berbasis pengamatan atmosfer yang komprehensif dan pemodelan cuaca yang ketat.

Menurut Aziz, BMKG memanfaatkan radar cuaca untuk memantau pertumbuhan awan, citra satelit untuk melihat distribusi awan secara luas, serta radiosonde guna mengukur tingkat kelabilan udara.

Data arah dan kecepatan angin dari lapisan bawah hingga atas atmosfer juga dianalisis untuk memetakan pergerakan awan secara akurat.

“Dengan data tersebut pergerakan awan dapat dipantau secara akurat. Sehingga, pelaksanaan OMC untuk mengamankan Jakarta diupayakan tidak menimbulkan dampak buruk bagi wilayah sekitarnya, seperti Banten dan Jawa Barat,” beber Aziz.

Dalam pelaksanaannya, BMKG justru mengarahkan penyemaian agar hujan turun di wilayah perairan, seperti perairan utara Banten atau Selat Sunda.

Strategi ini dilakukan untuk mengurangi suplai awan hujan yang bergerak menuju daratan berisiko tinggi banjir.

“Wilayah yang berbatasan dengan Jakarta tidak menjadi korban dari pelaksanaan OMC. Semua dilakukan dengan perhitungan dan sesuai prosedur operasional baku,” ucap Aziz.

Dua Metode Utama OMC

Secara umum, OMC memiliki dua tujuan utama. Pertama, meningkatkan curah hujan di wilayah yang mengalami kekeringan.

Kedua, mengurangi curah hujan di wilayah dengan risiko banjir tinggi seperti Jakarta.

Dalam praktiknya, BMKG menerapkan dua metode utama yakni jumping process dan competition method.

Metode tersebut disesuaikan dengan fase pertumbuhan awan dan lokasi target, baik di perairan maupun daratan.

Jumping process dilakukan dengan mempercepat proses pembentukan hujan agar presipitasi terjadi sebelum awan mencapai wilayah padat penduduk.

Sementara competition method bertujuan menciptakan kompetisi pertumbuhan awan agar suplai uap air tidak terkonsentrasi di satu sistem awan besar.

Evaluasi dampak OMC dilakukan dengan membandingkan data curah hujan, intensitas hujan ekstrem, serta kejadian banjir sebelum dan selama operasi berlangsung.

“Kami melihat apakah terjadi penurunan intensitas curah hujan, serta dampaknya terhadap luas genangan dan wilayah terdampak,” terang Aziz.

Dukungan BPBD dan Strategi Terpadu

Dari sisi pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menegaskan bahwa OMC bukan solusi tunggal.

Melainkan bagian dari strategi mitigasi yang berjalan paralel dengan upaya struktural dan non-struktural.

Tenaga Ahli Ruang Literasi BPBD DKI Jakarta, Tika Yulianti, menyebut secara ilmiah OMC terbukti mampu menurunkan intensitas hujan hingga sekitar 33 persen.

“Bukan menghilangkan hujan, tetapi menurunkan intensitasnya agar risiko banjir dapat ditekan,” ungkap Tika.

OMC menjadi pelengkap dari upaya lain seperti normalisasi sungai, pembangunan waduk, peningkatan kapasitas pompa air, serta sistem peringatan dini cuaca ekstrem.

BMKG dan BPBD mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang beredar tanpa data dan konteks ilmiah.

Literasi cuaca dinilai penting agar publik memahami bahwa teknologi seperti OMC hadir sebagai instrumen mitigasi risiko di tengah ancaman perubahan iklim.

Dengan pendekatan berbasis sains, pengamatan atmosfer yang ketat, serta evaluasi berkelanjutan, OMC menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga keselamatan warga Jakarta dan sekitarnya dari dampak curah hujan ekstrem selama puncak musim hujan.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *