Optimisme Ekonomi Nasional Menguat di Tengah Ketidakpastian Global
adainfo.id – Ketidakpastian ekonomi global dinilai tidak menjadi ancaman serius bagi kinerja perekonomian Indonesia.
Pemerintah justru optimistis ekonomi nasional tetap mampu tumbuh kuat, ditopang oleh kokohnya permintaan domestik serta inflasi yang terjaga.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa faktor global bukan penentu utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menurutnya, struktur ekonomi nasional memiliki daya tahan yang relatif kuat dibandingkan banyak negara lain.
Purbaya menjelaskan bahwa sekitar 90 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia berasal dari permintaan domestik.
Sementara kontribusi faktor global terhadap ekonomi nasional hanya berkisar 10 hingga 20 persen.
Dengan komposisi tersebut, perlambatan ekonomi dunia dinilai tidak seharusnya dijadikan alasan melemahnya kinerja ekonomi dalam negeri.
“Kalau kita 90 persen domestic demand, 10 persen global atau lebih. Mungkin maksimal 15-20 persen. Kalau kita juga ada domestic demand, harusnya tidak ada masalah,” papar Purbaya dikutip Sabtu (30/01/2026).
Inflasi Rendah, Ruang Dorong Ekonomi Masih Terbuka
Dari sisi fundamental domestik, kondisi ekonomi Indonesia dinilai cukup solid.
Inflasi tercatat rendah di kisaran 2,9 persen, dengan inflasi inti sekitar 2,3 persen.
Bahkan, jika komponen harga emas dikeluarkan dari perhitungan, inflasi diperkirakan hanya berada di level sekitar 1,5 persen.
Kondisi ini menunjukkan tekanan permintaan masih relatif terkendali dan belum memicu risiko overheating ekonomi.
“Jadi sebetulnya demand-nya masih relatif rendah. Belum ada demand core inflation, artinya saya bisa mendorong ekonomi ke tingkat yang lebih cepat lagi tanpa khawatir adanya kenaikan bunga yang terlalu signifikan dari Bank Sentral atau karena inflasi naik dan Bank Sentral ingin memperlambat lagi,” bebernya.
Menkeu mencatat pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa triwulan terakhir berada pada kisaran 5,0 hingga 5,4 persen.
Capaian tersebut dinilai mencerminkan stabilitas ekonomi yang terjaga di tengah dinamika global.
Menurut Purbaya, masih terdapat ruang yang cukup besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi tanpa harus memicu kenaikan suku bunga secara agresif.
Strategi Debottlenecking Dorong Investasi
Untuk mempercepat laju perekonomian, pemerintah juga mengandalkan strategi debottlenecking guna memperbaiki iklim investasi nasional.
Melalui forum rutin lintas kementerian, berbagai hambatan usaha yang dihadapi pelaku bisnis akan diidentifikasi dan diselesaikan secara cepat serta terukur.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor sekaligus mempercepat realisasi investasi di berbagai sektor strategis.
Dengan perbaikan kinerja fiskal, optimalisasi penerimaan pajak dan bea cukai, serta pengendalian defisit anggaran, pemerintah meyakini perekonomian Indonesia akan terus tumbuh secara berkelanjutan.
Purbaya pun menyampaikan optimisme terhadap pasar keuangan dan iklim usaha nasional.
“Saya optimis untuk ekonomi dan pasar saham tahun ini. Jangan tunggu-tunggu lagi untuk berinvestasi atau melebarkan ekspansi bisnis,” tukasnya.











