Pariwisata Jawa Barat Dipacu Berbasis Data dan Digitalisasi

ARY
Ilustrasi strategi pembangunan pariwisata di Jawa Barat pada 2027 sudah dibahas. (Foto: Unsplash/Aditya Pradipta)

adainfo.id – Arah pembangunan pariwisata dan kebudayaan Jawa Barat untuk tahun 2027 mulai diformulasikan melalui Forum Perangkat Daerah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat yang digelar secara daring, beberapa waktu lalu.

Agenda tersebut difokuskan pada penyusunan kebijakan berbasis data guna memastikan sektor pariwisata memberikan dampak langsung terhadap ekonomi masyarakat.

Forum dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, yang menekankan pentingnya strategi terukur dalam meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pertemuan ini menjadi momentum sinkronisasi program antara pemerintah provinsi dengan 27 kabupaten dan kota.

Sehingga arah kebijakan pembangunan pariwisata dan kebudayaan dapat berjalan selaras dan efektif.

Target Kunjungan Wisatawan Terukur

Salah satu fokus pembahasan dalam forum tersebut adalah strategi peningkatan kunjungan wisatawan dengan pendekatan berbasis data.

Kebijakan yang dirancang tidak hanya mengejar angka kunjungan, tetapi juga memastikan kualitas pengalaman wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, memaparkan data pertumbuhan kunjungan wisatawan nusantara sepanjang 2025 sebagai dasar penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah tahun berjalan dan tahun berikutnya.

“Kita harus memastikan bahwa pariwisata Jawa Barat tumbuh dengan kualitas, bukan hanya kuantitas,” tutur Iendra dikutip Minggu (22/02/2026).

Data tersebut menjadi pijakan dalam menentukan target realistis sekaligus memetakan potensi destinasi unggulan di berbagai daerah.

Prioritas Keamanan dan Digitalisasi

Iendra menekankan bahwa citra daerah harus dijaga secara konsisten.

Faktor keamanan dan kenyamanan wisatawan menjadi prioritas utama dalam mendukung daya saing destinasi.

“Citra daerah harus dijaga, keamanan dan kenyamanan wisatawan harus menjadi prioritas, dan digitalisasi harus menjadi bagian dari tata kelola kita,” beber Iendra.

Digitalisasi dinilai menjadi kunci dalam tata kelola pariwisata modern, mulai dari promosi, sistem reservasi, hingga integrasi data kunjungan.

Transformasi digital diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pelayanan sekaligus memperluas jangkauan promosi destinasi Jawa Barat ke pasar global.

Pariwisata dan Budaya Dorong Lapangan Kerja

Sementara, Sekda Jawa Barat Herman Suryatman menyampaikan bahwa sektor pariwisata dan kebudayaan memiliki kontribusi signifikan dalam memperluas lapangan kerja dan menggerakkan usaha mikro di berbagai wilayah.

“Kita ingin mengejar kembali peningkatan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara dengan target yang terukur,” papar Herman.

Menurutnya, penguatan sektor ini tidak hanya berdampak pada peningkatan jumlah wisatawan.

Akan tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui sektor perhotelan, kuliner, transportasi, dan ekonomi kreatif.

“Kita harus menguasai masalah, memiliki kemampuan problem solving, serta memegang prinsip ‘Nerus Bumi, Napak Mega, Napak Sanca’,” jelas Herman.

Prinsip tersebut mencerminkan pentingnya kerja yang membumi, visioner, dan berlandaskan nilai budaya dalam setiap perencanaan pembangunan.

Sinkronisasi Program 27 Kabupaten dan Kota

Forum ini juga menghadirkan unsur Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat, kementerian terkait, perencana daerah, serta pelaku industri pariwisata.

Keterlibatan berbagai pihak dimaksudkan agar penyelarasan program dapat dilakukan secara komprehensif.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memastikan kebijakan yang dirumuskan benar-benar menjawab kebutuhan lapangan.

Setiap kabupaten dan kota didorong menyelaraskan prioritas pembangunan pariwisata dengan arah kebijakan provinsi.

Penandatanganan berita acara antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat dan perangkat daerah kabupaten kota menjadi simbol komitmen bersama dalam menyatukan arah pembangunan.

Langkah tersebut menegaskan bahwa pengembangan pariwisata tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan koordinasi terintegrasi dari tingkat provinsi hingga daerah.

Penguatan Daya Saing Destinasi

Penguatan daya saing destinasi menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan 2027.

Jawa Barat memiliki beragam potensi, mulai dari wisata alam, budaya, hingga kuliner yang tersebar di berbagai daerah.

Dengan pendekatan berbasis data, pemerintah daerah dapat memetakan destinasi yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi sekaligus mengidentifikasi kendala yang perlu diatasi.

Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan, memperkuat promosi berbasis digital, serta memperluas pasar wisatawan mancanegara.

Upaya tersebut juga diarahkan untuk memperkuat posisi Jawa Barat sebagai destinasi unggulan nasional yang kompetitif di tingkat global.

Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Lokal

Pembangunan pariwisata yang terencana dan terukur diharapkan memberi dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat lokal.

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di sektor kuliner, kerajinan, hingga jasa wisata menjadi pihak yang paling merasakan manfaatnya.

Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, perputaran ekonomi di daerah juga meningkat.

Hal ini berpotensi mendorong penciptaan lapangan kerja baru dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Forum Perangkat Daerah Disparbud Jabar menjadi fondasi penting dalam merumuskan kebijakan yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan angka kunjungan, tetapi juga pada keberlanjutan ekonomi dan pelestarian budaya di Jawa Barat.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *