Pedagang Es Kelapa di Depok Ketiban Berkah Ramadan, Omzet Naik Dua Kali Lipat
adainfo.id – Seorang pedagang es kelapa di kawasan Jalan KSU, Kota Depok, Eni (53), mengalami lonjakan penjualan selama Ramadan 2026 hingga mencapai 300 butir per hari dengan omzet menembus Rp3 juta, meningkat dua kali lipat dibanding hari biasa.
Peningkatan tersebut terjadi sejak awal bulan suci, ketika permintaan minuman segar untuk berbuka puasa mulai melonjak.
Lapak sederhana milik Eni yang biasanya menjual sekitar 150 butir kelapa per hari kini harus menyiapkan stok dua kali lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Ramadan menjadi momentum penting bagi pelaku usaha mikro seperti Eni.
Tradisi berburu takjil dan minuman segar saat berbuka membuat es kelapa muda menjadi salah satu komoditas paling dicari masyarakat.
“Alhamdulillah, meski ekonomi lagi begini, tetap dapat berkah. Sehari bisa habis 300 butir di bulan puasa ini. Kalau hari biasa, paling cuma setengahnya,” tutur Eni saat ditemui di lokasi, Rabu (04/03/2026).
Omzet Meningkat Signifikan
Lonjakan volume penjualan berdampak langsung pada pendapatan harian.
Jika pada hari biasa omzet Eni berkisar Rp1,5 juta per hari, selama Ramadan pendapatannya naik menjadi lebih dari Rp3 juta per hari.
Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat selama bulan puasa.
Minuman manis dan menyegarkan menjadi pilihan utama untuk mengembalikan energi setelah seharian menahan lapar dan haus.
Sejak pagi hari, aktivitas di lapak Eni sudah terlihat sibuk. Tumpukan kelapa muda berwarna hijau tersusun rapi di sisi jalan.
Suara parang yang membelah batok kelapa menjadi irama khas yang terdengar hampir tanpa henti.
Pembeli datang dari berbagai kalangan, mulai dari pekerja kantoran, pengemudi ojek daring, hingga warga sekitar yang menyiapkan hidangan berbuka untuk keluarga. Menjelang sore, antrean semakin panjang.
Rekor Penjualan Saat Pandemi
Meski Ramadan tahun ini membawa peningkatan signifikan, Eni mengungkapkan bahwa rekor tertingginya terjadi pada masa pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.
Saat itu, air kelapa dipercaya masyarakat sebagai minuman alami untuk menjaga imunitas tubuh.
“Paling ramai itu pas zaman COVID kemarin, sehari saya bisa menghabiskan lebih dari 1.000 butir. Sekarang memang tidak sebanyak itu, tapi tetap jauh lebih baik dibanding hari biasa,” ungkapnya.
Lonjakan hingga 1.000 butir per hari menjadi pengalaman tak terlupakan dalam perjalanan usahanya.
Kala itu, permintaan datang tidak hanya dari pelanggan sekitar, tetapi juga dari luar wilayah.
Kini, meskipun situasi sudah kembali normal, kebiasaan mengonsumsi air kelapa sebagai minuman sehat tetap bertahan.
Hal tersebut turut menjaga stabilitas usaha Eni di luar musim Ramadan.
Bekerja Seharian Penuh
Selama Ramadan, Eni membuka lapaknya mulai pukul 07.00 WIB hingga adzan Maghrib.
Jam kerja yang panjang menuntut tenaga ekstra, terlebih ketika pembeli membludak menjelang waktu berbuka.
Tangannya cekatan membelah kelapa satu per satu. Air kelapa dituangkan ke dalam gelas plastik besar yang kemudian ditambahkan es batu agar lebih segar.
Setiap pesanan harus dilayani cepat agar antrean tidak semakin panjang.
Meski kelelahan tak terhindarkan, Eni tetap menunjukkan semangatnya.
Ia mengaku rasa lelah terbayar dengan peningkatan pendapatan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
“Harapan saya semoga ke depan lebih baik lagi. Meskipun badan pegel-pegel, tapi alhamdulillah disyukuri saja, semua ini berkah,” pungkasnya.
Tantangan Ketersediaan Stok
Di balik peningkatan omzet, terdapat tantangan yang harus dihadapi.
Salah satunya adalah menjaga ketersediaan stok kelapa muda agar tidak kehabisan saat permintaan sedang tinggi.
Eni mengaku harus menambah pasokan setiap hari dari pemasok luar daerah.
Ia juga perlu memastikan kualitas kelapa tetap segar agar pelanggan tidak kecewa.
Harga bahan baku yang kadang naik selama Ramadan turut menjadi perhatian.
Namun ia berusaha menjaga harga jual tetap stabil agar tetap terjangkau bagi pelanggan.
Persaingan dengan pedagang musiman juga menjadi dinamika tersendiri.
Setiap Ramadan, lapak-lapak baru bermunculan di sepanjang jalan. Meski demikian, Eni percaya pelanggan setianya tetap memilih membeli di tempatnya karena kualitas dan rasa yang konsisten.
Potret UMKM di Bulan Suci
Kisah Eni mencerminkan bagaimana Ramadan menjadi penggerak ekonomi rakyat di tingkat akar rumput.
Sektor usaha mikro dan kecil kerap merasakan dampak langsung dari peningkatan konsumsi masyarakat.
Perputaran uang di sektor informal meningkat signifikan selama bulan puasa.
Mulai dari pedagang takjil, penjual makanan siap saji, hingga minuman segar seperti es kelapa, semuanya menikmati berkah musiman.
Lapak sederhana Eni menjadi salah satu contoh nyata daya tahan UMKM dalam menghadapi dinamika ekonomi.
Di tengah fluktuasi harga dan kondisi ekonomi nasional, usaha kecil tetap mampu bertahan berkat kedekatan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Setiap kelapa yang terjual bukan hanya menghasilkan keuntungan finansial, tetapi juga menjadi simbol harapan bagi pelaku usaha kecil untuk terus bertahan dan berkembang di masa mendatang.











