Pemerintah Bakal Gelar Festival Imlek Nasional 2026 Secara Terbuka, Ini Detailnya

AZL
Ilustrasi pelaksanaan Festival Imlek Nasional 2026 bertema Harmoni Nusantara. (Foto: Unsplash/Beaver Fernandes)

adainfo.id – Festival Imlek Nasional 2026 bakal digelar secara terbuka oleh pemerintah di Lapangan Banteng, Jakarta, pada 17 Februari hingga 3 Maret 2026 dengan mengusung tema “Harmoni Nusantara”.

Perhelatan ini diproyeksikan menjadi ajang budaya berskala besar yang menampilkan ragam ekspresi akulturasi serta keberagaman nusantara dalam satu ruang publik inklusif.

Penyelenggaraan festival terbuka tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat narasi kebhinekaan melalui perayaan Imlek yang tidak lagi dipandang semata sebagai tradisi komunitas tertentu, melainkan sebagai bagian dari wajah budaya Indonesia yang majemuk.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai perayaan Imlek Nasional mencerminkan proses akulturasi yang telah lama tumbuh di Indonesia dan menjadi bagian dari identitas kebudayaan nasional.

“Imlek adalah salah satu perayaan yang merupakan juga peristiwa budaya. Ini menggambarkan akulturasi budaya kita yang sangat terbuka dan sudah panjang,” ujar Fadli dikutip, Sabtu (14/02/2026).

Ruang Perjumpaan Budaya

Festival Imlek Nasional 2026 dirancang sebagai ruang perjumpaan budaya lintas komunitas.

Konsep “Harmoni Nusantara” diwujudkan melalui perpaduan tradisi Tionghoa dan budaya lokal dalam berbagai bentuk pertunjukan seni, kuliner, pameran kreatif, hingga parade budaya.

Agenda utama mencakup Festival Lentera yang menghadirkan instalasi cahaya dan ornamen khas Imlek, parade Imlek Nusantara yang melibatkan komunitas dari berbagai daerah, serta pertunjukan barongsai yang dipadukan dengan elemen seni tradisional Indonesia.

Panggung seni dan budaya akan menampilkan kolaborasi lintas komunitas, termasuk musik tradisional, tari kontemporer, hingga pertunjukan teater yang mengangkat narasi akulturasi budaya.

Selain itu, festival pasar kuliner akan menghadirkan aneka makanan hasil perpaduan tradisi Tionghoa dan nusantara.

Pengunjung dapat menikmati sajian khas yang merepresentasikan pertemuan dua budaya dalam bentuk rasa dan teknik pengolahan.

Museum terbuka turut disiapkan untuk menyoroti jejak sejarah akulturasi budaya Tionghoa di Indonesia.

Melalui pameran tersebut, publik diajak memahami perjalanan panjang interaksi budaya yang membentuk tradisi perayaan Imlek di Tanah Air.

Simbol Pertemuan Tradisi dan Olahraga

Puncak perayaan direncanakan menghadirkan pertunjukan lintas cabang, termasuk demonstrasi atlet nasional silat dan wushu.

Kehadiran dua cabang olahraga ini dimaknai sebagai simbol pertemuan tradisi dan olahraga budaya yang berkembang di Indonesia.

Silat sebagai warisan budaya nusantara dan wushu yang berakar dari tradisi Tionghoa ditampilkan dalam satu panggung sebagai representasi harmoni.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi simbol konkret integrasi budaya yang berlangsung secara alami dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Fadli menilai wajah budaya Indonesia terbentuk dari proses pertukaran panjang berbagai peradaban.

Interaksi lintas budaya tersebut melahirkan bentuk-bentuk ekspresi baru yang khas dan unik.

“Begitu banyak pengaruh dari berbagai ragam budaya dari mana-mana, termasuk dari China, dari India, dari Timur Tengah, dari Eropa. Ya ini adalah satu tempat di mana terjadinya pertukaran dan akulturasi budaya itu,” katanya.

Menurutnya, Indonesia merupakan ruang terbuka yang sejak lama menjadi titik temu peradaban dunia.

Proses akulturasi tersebut tidak menghapus identitas asli, melainkan memperkaya khazanah budaya nasional.

Aktivasi di Sejumlah Kota dan Memperkuat Narasi Kebhinekaan

Selain terpusat di Jakarta, Festival Imlek Nasional 2026 juga diaktivasi di berbagai kota seperti Singkawang, Palembang, Solo, Semarang, Manado, Makassar, Surabaya, Medan, Bogor, Batam, dan Pontianak.

Setiap daerah akan menampilkan kekhasan perayaan Imlek berbasis tradisi lokal masing-masing.

Pendekatan desentralisasi ini diharapkan memperluas partisipasi publik sekaligus memperlihatkan ragam ekspresi budaya yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia.

Festival Imlek Nasional tersebut ditargetkan menjadi agenda tahunan yang mampu menarik partisipasi luas dari masyarakat serta wisatawan domestik maupun mancanegara.

Tak hanya itu, festival ini diproyeksikan bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan panggung kolaborasi budaya yang memperkuat semangat kebhinekaan.

Pemerintah melihat momentum Imlek sebagai ruang strategis untuk menegaskan komitmen terhadap toleransi dan harmoni sosial.

Konsep terbuka di ruang publik seperti Lapangan Banteng memberikan akses luas bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam perayaan.

Partisipasi komunitas lintas agama dan latar belakang diharapkan memperkaya dinamika festival.

Fadli menekankan bahwa akulturasi merupakan kekuatan utama budaya Indonesia.

Tradisi Tionghoa yang berkembang di Indonesia telah mengalami proses adaptasi panjang dan membentuk karakter khas yang berbeda dari negara asalnya.

Festival Imlek Nasional 2026 menjadi refleksi nyata proses tersebut, memperlihatkan bagaimana unsur-unsur budaya dapat saling melengkapi dan membentuk identitas bersama.

Melalui rangkaian pertunjukan seni, kuliner, pameran, serta kolaborasi lintas komunitas, festival ini diharapkan menjadi simbol keterbukaan budaya Indonesia dalam merawat keberagaman sebagai fondasi persatuan nasional.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *