Pemerintah Dalami Dugaan Pencemaran Sungai Cisadane, Siapkan Kajian Ilmiah

AZL
Ilustrasi penampakan Sungai Cisadane. (Foto: Pexels/tom fisk)

adainfo.id – Pemerintah melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) segera melakukan kajian ilmiah menyeluruh terhadap kasus pencemaran Sungai Cisadane di Banten yang dilaporkan berdampak luas hingga puluhan kilometer dan memicu kematian berbagai jenis biota air.

Langkah ini ditempuh melalui pengumpulan data lapangan serta analisis komprehensif guna memetakan sumber dan tingkat bahaya pencemaran.

Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan bahwa pihaknya akan segera menindaklanjuti kasus tersebut bersama tim peneliti yang telah bergerak di lapangan.

“Untuk Cisadane segera, nanti saya dengan tim akan pelajari,” kata Arif dikutip Kamis (12/02/2026).

Kajian tersebut difokuskan pada identifikasi sumber pencemaran, pola sebaran zat kimia, serta tingkat dampak terhadap ekosistem dan masyarakat sekitar aliran sungai.

Arif menegaskan pentingnya pemetaan kasus secara menyeluruh sebelum merumuskan langkah teknis penanganan berbasis sains.

Proses ini mencakup pengumpulan data primer, analisis laboratorium, serta evaluasi kondisi di lapangan.

“Saya masih ingin memanggil dari tim yang sudah bergerak, seperti apakah case-nya, nah kemudian kita akan selesaikan segera,” ujar Arif.

Menurutnya, pemetaan kasus menjadi fondasi utama dalam menyusun rekomendasi penanganan yang efektif dan tepat sasaran.

Tanpa gambaran utuh mengenai penyebab serta sebaran kontaminan, upaya pemulihan berisiko tidak optimal.

Kasus pencemaran Sungai Cisadane dilaporkan meluas hingga sekitar 22,5 kilometer.

Wilayah terdampak mencakup Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, hingga Kabupaten Tangerang.

Berawal dari Kebakaran Gudang Pupuk

Pencemaran ini diduga bermula dari kebakaran gudang perusahaan pupuk yang menyebabkan sekitar 20 ton pestisida terbakar.

Limbah cair hasil pemadaman yang bercampur residu kimia diduga mengalir ke Sungai Jeletreng, anak Sungai Cisadane, sebelum akhirnya mencemari aliran utama.

Limpasan air sisa pemadaman yang membawa residu pestisida menjadi faktor utama masuknya zat berbahaya ke badan sungai.

Proses tersebut diduga berlangsung cepat mengikuti arus air sehingga memperluas dampak dalam waktu singkat.

Dampak langsung terlihat dari kematian massal berbagai jenis ikan, termasuk ikan mas, baung, patin, nila, hingga ikan sapu-sapu.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat setempat yang menggantungkan sebagian aktivitas pada sumber air sungai.

Dampak Serius terhadap Ekosistem dan Warga

Sementara, Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyebut insiden ini membawa dampak signifikan terhadap ekosistem perairan serta keselamatan warga yang bermukim di sekitar aliran sungai.

“Kurang lebih 20 ton pestisida terbakar, dan air sisa pemadaman yang bercampur residu kimia mengalir hingga mencemari sungai. Kondisi ini sangat berdampak serius terhadap ekosistem perairan dan masyarakat disekitarnya,” papar Hanif dikutip Kamis (12/02/2026).

Kematian biota air menjadi indikator awal terganggunya keseimbangan ekosistem.

Kontaminasi bahan kimia berpotensi merusak rantai makanan, menurunkan kadar oksigen terlarut, serta memengaruhi kualitas air dalam jangka waktu tertentu.

Selain dampak ekologis, risiko kesehatan bagi masyarakat juga menjadi perhatian utama.

Paparan air tercemar dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata, serta gangguan pernapasan apabila uap kimia terhirup.

Untuk sementara waktu, masyarakat diimbau tidak menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari guna menghindari potensi paparan zat berbahaya.

Disisi lain, hasil kajian ilmiah nantinya akan menjadi dasar rekomendasi teknis penanganan dan pemulihan kualitas lingkungan.

Proses pemulihan lingkungan memerlukan pendekatan ilmiah yang komprehensif, termasuk evaluasi sedimen sungai dan kualitas air pada berbagai titik terdampak.

Penelitian lapangan juga akan memperhatikan dinamika arus serta faktor cuaca yang dapat memengaruhi distribusi kontaminan.

Tantangan Pemulihan Sungai

Sungai Cisadane merupakan salah satu sumber daya air penting di wilayah Banten dan sekitarnya.

Pencemaran skala besar berpotensi mengganggu fungsi ekologis serta sosial ekonomi sungai tersebut.

Pemulihan kualitas air memerlukan waktu dan koordinasi lintas lembaga.

Selain pengujian laboratorium, dibutuhkan langkah teknis seperti pengendalian sumber pencemaran, pembersihan area terdampak, serta pemantauan berkala kualitas air.

Dalam konteks ini, peran riset menjadi krusial untuk memastikan setiap langkah penanganan berbasis data ilmiah dan terukur.

Kajian yang dilakukan diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai dampak jangka pendek dan potensi risiko jangka panjang.

Pendekatan berbasis sains menjadi landasan utama dalam merumuskan solusi.

Dengan dukungan data lapangan dan analisis laboratorium, rekomendasi teknis dapat disusun secara lebih presisi untuk mempercepat proses pemulihan lingkungan di sepanjang aliran Sungai Cisadane yang terdampak pencemaran.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *