Pertolongan Pertama Bisa Selamatkan Nyawa Anak, Ini Edukasinya untuk Orang Tua
adainfo.id – Dalam rangka memperingati Hari Keselamatan Pasien Sedunia, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan bertajuk “Pertolongan Pertama pada Anak di Rumah”.
Acara ini digelar sebagai bentuk komitmen RSUI untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya langkah awal dalam menangani kondisi gawat darurat pada anak sebelum mendapatkan pertolongan medis lanjutan.
Edukasi interaktif ini menghadirkan dr. Shofa Nisrina Luthfiyani, Dokter Spesialis Anak RSUI, sebagai narasumber utama.
Kegiatan tersebut menyoroti berbagai situasi darurat yang kerap terjadi di rumah, mulai dari demam tinggi, kejang, luka dan perdarahan, luka bakar, tersedak, keracunan, hingga jatuh dan cedera kepala.
“Penanganan yang sigap dan tepat dalam mengambil langkah pertolongan pertama sangat berkontribusi dalam keselamatan pasien. Hal ini dapat mencegah atau mengurangi kondisi kegawatdaruratan,” ujar dr. Shofa dalam keterangannya, Jumat (19/09/2025).
Penanganan Pertama Demam Tinggi, Kejang hingga Luka Bakar
dr. Shofa menjelaskan langkah praktis yang dapat dilakukan orang tua ketika anak mengalami demam tinggi.
Anak sebaiknya dipakaikan pakaian longgar dan nyaman, tidak diselimuti berlebihan, serta dikompres menggunakan air suam kuku di area leher, ketiak, dan lipatan paha.
Selain itu, orang tua dianjurkan memberikan obat penurun panas bila suhu anak mencapai di atas 38 derajat Celcius.
“Kondisi demam tinggi biasanya kerap disertai kejang. Apabila hal ini terjadi, tetaplah tenang, pindahkan anak ke tempat yang aman, miringkan tubuhnya,” paparnya.
“Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut, dan longgarkan pakaian. Segera ke IGD bila kejang berlangsung lebih dari lima menit atau disertai kesulitan bernapas,” timpalnya lagi.
Situasi lain yang sering dialami anak di rumah adalah luka dan perdarahan.
Langkah awal yang benar adalah mencuci tangan, menekan luka dengan kain bersih atau kasa.
Kemudian membilas luka dengan air mengalir. Setelah itu, luka ditutup menggunakan perban steril.
“Segera ke rumah sakit bila perdarahan deras atau luka cukup dalam,” jelasnya.
Untuk luka bakar, orang tua perlu menyiram area luka dengan air mengalir selama 15–20 menit, menghindari penggunaan pasta gigi atau minyak, serta menutup luka dengan kain bersih secara longgar.
Pertolongan medis harus segera dicari bila luka meluas, melepuh, atau mengenai wajah serta saluran pernapasan.
Penanganan Tersedak pada Anak dan Pertolongan Kasus Keracunan
Materi edukasi juga membahas penanganan anak tersedak yang perlu disesuaikan dengan usia.
Bayi di bawah 1 tahun dilakukan tepukan punggung dan dorongan dada.
Lalu untuk anak di atas 1 tahun, menggunakan manuver Heimlich, yaitu teknik menekan perut ke arah dalam dan atas untuk mengeluarkan sumbatan.
Apabila anak tidak sadar, resusitasi jantung paru (RJP) dapat dilakukan oleh orang tua atau pendamping yang sudah terlatih.
Tak hanya itu saja, kasus keracunan juga menjadi perhatian dalam edukasi ini.
Menurut dr. Shofa, orang tua tidak boleh memaksa anak muntah ketika menelan zat berbahaya.
“Segera amankan anak, bilas dengan air mengalir bila zat berbahaya mengenai kulit atau mata, simpan bukti zat yang tertelan, lalu bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” tuturnya.
Cedera Kepala pada Anak
Kondisi jatuh dan cedera kepala kerap menimbulkan kepanikan.
Orang tua diminta tetap memastikan jalan napas anak tetap terbuka.
Selanjutnya memeriksa kesadaran, menutup luka dengan kain bersih bila terdapat perdarahan.
Tanda bahaya yang harus diwaspadai mencakup muntah berulang, pusing berat, sulit dibangunkan, perdarahan dari telinga atau hidung, hingga kejang.
Apabila gejala tersebut muncul, anak harus segera dibawa ke IGD, terlebih jika usianya masih di bawah 2 tahun.
Pentingnya Peran Orang Tua
RSUI menekankan bahwa peran orang tua sangat penting dalam keselamatan pasien anak.
Tindakan cepat dan tepat saat darurat bisa menyelamatkan nyawa sebelum bantuan medis tiba.
Edukasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pertolongan pertama.
Selain itu juga diharapkan bisa menanamkan kebiasaan sigap tanggap terhadap kondisi darurat di rumah.
“Orang tua adalah garda terdepan dalam menjaga keselamatan anak. Jangan ragu mencari bantuan medis bila situasi darurat terjadi,” pungkasnya.











