Produk Jamu Indonesia Dipacu Jadi Primadona Wellness Global

ARY
Ilustrasi jamu Indonesia siap go global. (Foto: Ika Rahma)

adainfo.id – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mulai memperkuat langkah untuk membawa jamu Indonesia menembus pasar internasional.

Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan ekosistem industri kreatif, digitalisasi, hingga strategi branding agar jamu tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga produk kesehatan modern bernilai ekonomi tinggi.

Langkah strategis itu dibahas dalam audiensi antara Kementerian Ekraf dengan Dewan Jamu Indonesia (DJI) yang berlangsung beberapa waktu lalu.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun industri jamu nasional yang lebih berdaya saing, berkelanjutan, dan mampu menarik pasar global.

Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, menilai jamu Indonesia memiliki peluang besar berkembang sebagai produk ekonomi kreatif unggulan karena didukung kekayaan budaya dan tradisi yang sudah dikenal sejak lama.

Menurutnya, pengembangan industri jamu kini harus dibarengi dengan pendekatan modern melalui riset, ilmu pengetahuan, serta pemanfaatan teknologi digital agar mampu menjawab kebutuhan pasar dunia.

Kementerian Ekraf Dorong Jamu Indonesia Go Global

Harsya menegaskan jamu bukan sekadar produk tradisional, melainkan aset budaya yang memiliki potensi ekonomi besar jika dikelola secara profesional dan inovatif.

“Jamu bukan sekadar warisan tradisi , tapi produk ekonomi kreatif yang punya potensi besar di pasar dunia. Lewat dukungan ekosistem digital, riset, dan ilmu pengetahuan, kita harus ubah kekayaan budaya ini menjadi produk modern yang diminati global,” terangnya dikutip, Minggu (24/05/2026).

Kementerian Ekraf menilai pengembangan industri jamu perlu didukung dengan strategi branding yang kuat agar produk-produk lokal mampu bersaing di pasar internasional.

Selain itu, perlindungan hak kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) juga menjadi fokus penting untuk menjaga identitas produk jamu Indonesia di tengah ketatnya persaingan industri kesehatan global.

Pemerintah juga berencana memperluas akses pasar melalui platform digital guna membuka peluang distribusi produk jamu secara lebih luas dan efektif.

Penguatan Branding dan Kurasi Produk Jamu

Kementerian Ekraf juga menegaskan pentingnya kurasi produk agar industri jamu Indonesia mampu tampil lebih modern tanpa kehilangan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Melalui ekosistem digital, pemerintah ingin membantu para pelaku industri jamu memperkuat identitas produk, meningkatkan kualitas kemasan, hingga strategi pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan konsumen global.

“Kreativitas budaya kita sudah luar biasa sejak dulu, namun tantangan terbesarnya adalah komersialisasi dan monetize. Melalui ekosistem digital, kita bantu branding dan kurasi produk yang unik agar siap menangkap peluang global tanpa harus panik dalam memenuhi kapasitas produksinya,” papar Harsya.

Langkah tersebut diharapkan mampu membuka peluang baru bagi industri jamu nasional, terutama di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat dan penggunaan produk herbal alami di berbagai negara.

Industri jamu dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi bagian penting dari sektor wellness dan kesehatan global yang saat ini terus tumbuh pesat.

Selain memperkuat pasar ekspor, pengembangan industri jamu juga diproyeksikan mampu meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM, petani bahan herbal, hingga komunitas peracik jamu tradisional di berbagai daerah Indonesia.

Dewan Jamu Indonesia Siapkan JICE 2026

Disisi lain, DJI sebagai organisasi yang menghimpun pelaku usaha, akademisi, peneliti, komunitas, hingga pemerhati jamu nasional turut mendorong pengembangan industri jamu secara berkelanjutan.

Dalam audiensi bersama Kementerian Ekraf, DJI juga membahas persiapan penyelenggaraan The 2nd Jamu International Conference & Expo (JICE) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.

Ajang internasional tersebut akan digelar bertepatan dengan Hari Ekonomi Kreatif Nasional pada 24 Oktober dan menjadi salah satu agenda besar promosi jamu Indonesia ke tingkat dunia.

Nantinya, JICE 2026 akan dikemas sebagai platform terpadu yang menggabungkan konferensi ilmiah, pameran industri, hingga promosi budaya berbasis jamu Indonesia.

Ketua Umum DJI, Daniel Tjen, mengatakan pihaknya berkomitmen terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna menjadikan jamu sebagai identitas budaya sekaligus kekuatan ekonomi nasional.

“Berangkat dari kesuksesan gelaran JICE yang pertama, kami berkomitmen untuk terus merajut seluruh pemangku kepentingan guna mengembangkan, melestarikan, dan menduniakan jamu. Kami sangat mengapresiasi dukungan luar biasa dari Kementerian Ekraf yang bersedia berjalan beriringan bersama kami untuk menyukseskan agenda besar ini,” beber Daniel.

JICE 2026 Angkat Konsep Wellness dan Green Economy

Gelaran 2nd JICE 2026 akan mengusung tema “Jamu as a Creative Wellness and Health Industry: Driving Sustainable Well-Being through Cultural Innovation, Green Economy, and Global Partnerships”.

Tema tersebut menegaskan posisi jamu tidak hanya sebagai produk tradisional, tetapi juga bagian dari industri kesehatan modern yang mendukung gaya hidup sehat berkelanjutan.

Acara puncak direncanakan berlangsung di Royal Ambarrukmo Yogyakarta dan kawasan Candi Borobudur.

Pemilihan lokasi tersebut dilakukan untuk menggabungkan konsep pariwisata heritage dengan industri kreatif berbasis budaya dan kesehatan.

Selain konferensi dan pameran, JICE 2026 juga akan menghadirkan berbagai kolaborasi internasional yang melibatkan akademisi, pelaku industri, peneliti, hingga investor dari berbagai negara.

DJI juga berencana mengundang Menteri Ekraf sebagai narasumber dalam podcast pre-event yang akan digelar di kawasan Candi Borobudur pada 31 Mei 2026 mendatang.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari promosi awal menuju JICE 2026 sekaligus memperkuat kampanye internasionalisasi jamu Indonesia.

Pengembangan industri jamu nasional saat ini dinilai memiliki momentum besar karena tren produk herbal alami terus meningkat di pasar global.

Indonesia sebagai negara dengan kekayaan biodiversitas dan tradisi herbal yang kuat disebut memiliki peluang besar menjadi pusat industri wellness berbasis budaya di tingkat dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *