Produksi Pangan Meningkat, Indonesia Tekan Ketergantungan Impor
adainfo.id – Ketahanan pangan Indonesia menunjukkan tren positif dengan sejumlah komoditas utama kini mampu dipenuhi dari produksi dalam negeri, termasuk jagung pakan yang telah mencapai swasembada sejak 2025.
Penguatan produksi pangan ini menjadi indikator penting dalam upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor serta menjaga stabilitas pasokan di tengah dinamika global.
Selain beras, sejumlah komoditas lain juga dilaporkan berada dalam kondisi produksi yang kuat.
Pemerintah mencatat bahwa jagung pakan kini tidak lagi bergantung pada impor, seiring dengan peningkatan produksi dalam negeri yang mampu memenuhi kebutuhan nasional.
Kondisi ini menjadi salah satu capaian penting dalam sektor pertanian.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan bahwa ketersediaan jagung dalam negeri berada dalam kondisi yang aman.
“Kemudian kita juga punya cadangan jagung yang bagus. Jagung pakan kita sudah swasembada. Kemudian daging ayam kita kuat. Telur kita kuat. Cabai kita kuat. Bawang merah kita kuat,” ungkapnya dikutip, Senin (13/04/2026).
Keberhasilan swasembada jagung pakan juga berdampak pada sektor peternakan, khususnya dalam menjaga stabilitas harga pakan yang menjadi komponen utama biaya produksi.
Produksi Pangan Pokok Lainnya Juga Menguat
Selain jagung, sejumlah komoditas pangan lainnya juga menunjukkan kinerja produksi yang positif.
Daging ayam ras, telur ayam ras, cabai, serta bawang merah dinilai berada dalam kondisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Ketersediaan yang stabil pada komoditas tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan pangan, sekaligus mengurangi tekanan inflasi dari sektor pangan.
Penguatan produksi ini tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang mendorong peningkatan hasil pertanian serta distribusi yang lebih merata di berbagai daerah.
Meski sebagian besar kebutuhan pangan telah dipenuhi dari dalam negeri, pemerintah masih melakukan impor untuk beberapa komoditas strategis yang belum sepenuhnya mandiri.
Komoditas tersebut meliputi kedelai, bawang putih, serta daging sapi dalam jumlah terbatas.
“Kita hanya mengimpor dua atau tiga yang dominan. Kedelai dan bawang putih. Lalu daging sapi tapi tidak dominan,” jelasnya.
Ketergantungan terhadap impor ini menjadi perhatian pemerintah untuk terus ditekan melalui peningkatan produksi domestik dan diversifikasi sumber pangan.
Upaya Pemerintah Perkuat Produksi Nasional
Pemerintah terus mendorong berbagai langkah strategis untuk memperkuat produksi pangan nasional, khususnya pada komoditas yang masih bergantung pada impor.
Langkah percepatan produksi telah mulai dijalankan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) dengan menetapkan target-target peningkatan produksi pada berbagai komoditas.
“Kita sudah mulai produksi dan Bapak Menteri Pertanian akan bergerak terus. Sebagaimana kemarin di acara taklimat di Istana, beliau menyampaikan target-target ke depan. Bagaimana bawang putih, kemudian termasuk juga penguatan produksi kedelai, susu, dan lain sebagainya,” jelasnya.
Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemandirian pangan serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Dengan berbagai capaian yang telah diraih, pemerintah optimistis ketahanan pangan Indonesia akan semakin kuat di masa mendatang.
Penguatan produksi dalam negeri menjadi fokus utama dalam menghadapi tantangan global yang dapat memengaruhi pasokan pangan.
Upaya peningkatan produksi tidak hanya berorientasi pada kuantitas, tetapi juga kualitas serta keberlanjutan sektor pertanian.
Hal ini penting untuk memastikan ketersediaan pangan yang cukup, aman, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat.
Selain itu, pengurangan ketergantungan terhadap impor juga diharapkan dapat meningkatkan daya saing sektor pertanian nasional serta memperkuat stabilitas ekonomi secara keseluruhan.












