Realisasi Anggaran MBG Kuartal I 2026 Tembus Rp60 Triliun
adainfo.id – Perputaran ekonomi nasional pada awal 2026 mendapat dorongan signifikan dari belanja pemerintah melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (11/02/2026), Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan bahwa realisasi anggaran MBG pada kuartal pertama tahun ini diperkirakan mencapai Rp60 triliun.
Angka tersebut dinilai menjadi salah satu pilar utama pengungkit konsumsi domestik di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
Pemerintah menempatkan belanja sosial produktif sebagai instrumen penting untuk menjaga daya beli sekaligus menggerakkan rantai pasok sektor pangan nasional.
“MBG sampai dengan kuartal pertama diperkirakan akan ada realisasi anggaran sebanyak Rp60 triliun. Hal ini tentu akan mendorong stimulasi perekonomian,” ujar Airlangga dikutip Rabu (11/02/2026).
Belanja Sosial Jadi Motor Konsumsi Domestik
Realisasi anggaran MBG 2026 diposisikan sebagai bantalan konsumsi masyarakat, khususnya bagi kelompok penerima manfaat.
Program ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga berfungsi sebagai katalis ekonomi di tingkat daerah.
Dengan skema distribusi yang melibatkan berbagai pelaku usaha, mulai dari penyedia bahan pangan, jasa distribusi, hingga tenaga kerja lokal, MBG menciptakan efek berganda terhadap perputaran ekonomi.
Setiap rupiah yang dibelanjakan pemerintah melalui program tersebut mengalir ke berbagai sektor produktif.
Airlangga menilai belanja pemerintah melalui MBG memberikan dampak langsung terhadap peningkatan daya beli masyarakat.
Konsumsi rumah tangga yang terjaga menjadi fondasi penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Di tengah tekanan eksternal seperti perlambatan ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas, kebijakan fiskal ekspansif melalui belanja sosial dinilai tepat untuk menjaga stabilitas domestik.
Dampak ke Sektor Pangan dan Distribusi
Program MBG tidak berdiri sendiri sebagai program bantuan sosial, melainkan menjadi penggerak sektor pangan nasional.
Permintaan bahan pangan dalam jumlah besar menciptakan kepastian pasar bagi petani, peternak, dan pelaku usaha mikro kecil menengah di sektor makanan.
Rantai distribusi logistik turut terdorong, mulai dari pengemasan, transportasi, hingga penyimpanan.
Pemerintah berharap dampak ekonomi yang ditimbulkan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga memperkuat struktur produksi pangan dalam negeri.
Airlangga menegaskan pentingnya koordinasi lintas sektor agar distribusi berjalan lancar dan tepat sasaran.
“Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan untuk menjaga kelancaran logistik,” kata Airlangga.
Koordinasi tersebut mencakup pengawasan kualitas bahan pangan, ketepatan waktu distribusi, serta akuntabilitas penggunaan anggaran.
Stimulus Transportasi Perkuat Mobilitas
Selain realisasi anggaran MBG kuartal I 2026, pemerintah juga menggulirkan paket stimulus ekonomi tambahan di sektor transportasi.
Kebijakan ini dirancang untuk menjaga mobilitas masyarakat sekaligus mendorong aktivitas ekonomi selama periode hari besar.
Insentif transportasi yang diberikan mencakup potongan tarif kereta api sebesar 30 persen, diskon angkutan laut 30 persen, pembebasan jasa penyeberangan hingga 100 persen, serta diskon tiket pesawat domestik sekitar 17–18 persen.
Total anggaran yang disiapkan untuk program ini mencapai Rp911,16 miliar.
Dari jumlah tersebut, Rp639,86 miliar bersumber dari APBN, sedangkan Rp271,5 miliar berasal dari skema non-APBN.
Kebijakan diskon transportasi diharapkan mampu mengurangi beban biaya perjalanan masyarakat sekaligus meningkatkan pergerakan wisata dan perdagangan antarwilayah.
Dengan mobilitas yang terjaga, sektor jasa, perhotelan, dan perdagangan ritel turut merasakan dampaknya.
Perlindungan Sosial hingga Kebijakan WFA
Di sektor perlindungan sosial, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp11,92 triliun untuk bantuan pangan bagi 35,04 juta keluarga penerima manfaat yang masuk kelompok desil 1-4.
Bantuan tersebut berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng untuk setiap penerima.
Langkah ini dirancang untuk memperkuat jaring pengaman sosial sekaligus menjaga stabilitas harga pangan.
Penyaluran bantuan secara masif diharapkan dapat meredam potensi gejolak harga di pasar.
Program bantuan pangan juga menjadi bagian dari strategi komprehensif pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial.
Distribusi bantuan dilakukan dengan pengawasan ketat agar tepat sasaran.
Pemerintah meminta dukungan pemerintah daerah untuk memastikan kelancaran logistik hingga ke tingkat desa dan kelurahan.
Selain itu, sebagai bagian dari upaya menjaga kelancaran mobilitas nasional, pemerintah menetapkan kebijakan kerja fleksibel atau work from anywhere (WFA) pada 16, 17, 25, 26, dan 27 Maret.
Kebijakan ini bertujuan untuk mengurai kepadatan perjalanan selama periode hari besar sekaligus menjaga produktivitas aparatur dan pekerja.
Dengan skema kerja fleksibel, arus mobilitas diharapkan lebih terdistribusi sehingga tidak terjadi penumpukan pada waktu tertentu.
WFA juga dinilai sebagai adaptasi kebijakan ketenagakerjaan yang lebih modern dan responsif terhadap dinamika sosial ekonomi.
Sinergi Fiskal dan Konsumsi Rumah Tangga
Realisasi anggaran MBG 2026 yang mencapai Rp60 triliun pada kuartal pertama menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengoptimalkan peran belanja negara sebagai instrumen stabilisasi.
Belanja fiskal yang diarahkan pada konsumsi langsung masyarakat terbukti efektif dalam menjaga pertumbuhan ekonomi berbasis domestik.
Konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi kontributor utama produk domestik bruto, mendapat dukungan melalui berbagai program intervensi.
Pemerintah menilai sinergi antara belanja sosial, stimulus transportasi, bantuan pangan, dan kebijakan fleksibilitas kerja akan menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih resilien.
Dengan kombinasi kebijakan tersebut, pemerintah berharap momentum pertumbuhan dapat terus terjaga sepanjang 2026 di tengah tantangan global yang dinamis.











