Rupiah Tertekan Usai Outlook Kredit Indonesia Diturunkan, Pasar Respons Risiko Fiskal
adainfo.id – Pergerakan pasar keuangan domestik kembali menghadapi tekanan pada akhir pekan ini.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tercatat melemah pada perdagangan Jumat pagi (06/02/2026), mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan penyesuaian pandangan lembaga pemeringkat internasional terhadap profil kredit nasional, yang langsung direspons oleh investor di pasar valuta asing dan obligasi.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat melemah 23 poin atau sekitar 0,14 persen ke posisi Rp16.865 per dolar AS.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp16.842 per dolar AS.
Pergerakan ini menandai kelanjutan tekanan yang sudah terasa sejak awal pekan, seiring meningkatnya sentimen negatif global dan domestik.
Sentimen pasar terhadap rupiah memburuk setelah Moody’s Investors Service memangkas outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Meski lembaga pemeringkat tersebut tetap mempertahankan peringkat Indonesia di level Baa2, atau satu tingkat di atas batas investment grade, perubahan prospek dinilai cukup signifikan dalam memengaruhi persepsi risiko investor.
Perubahan outlook ini menimbulkan kekhawatiran pasar terkait arah kebijakan fiskal pemerintah dan keberlanjutan pembiayaan program-program prioritas nasional.
Bagi pelaku pasar, outlook negatif mencerminkan potensi tekanan terhadap ruang fiskal di tengah kebutuhan belanja yang besar, terutama untuk mendukung agenda pembangunan dan program sosial.
Reaksi pasar terhadap keputusan Moody’s tidak terbatas pada nilai tukar.
Tekanan juga terlihat di pasar surat utang negara, yang menjadi salah satu indikator utama kepercayaan investor terhadap stabilitas fiskal.
Pasar Obligasi dan Lonjakan Premi Risiko
Mengutip data Bloomberg, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun melonjak sekitar 11 basis poin dan mencapai level tertinggi dalam empat bulan terakhir.
Kenaikan yield ini mencerminkan meningkatnya premi risiko yang diminta investor untuk memegang surat utang negara, seiring meningkatnya ketidakpastian terhadap prospek fiskal.
Selain itu, biaya asuransi risiko gagal bayar atau credit default swap (CDS) Indonesia juga mengalami kenaikan sekitar 4,3 basis poin ke kisaran 80 basis poin.
Bloomberg mencatat lonjakan tersebut sebagai yang terbesar di antara negara-negara Asia dalam periode yang sama, menunjukkan bahwa respons investor terhadap perubahan outlook Indonesia relatif lebih kuat dibandingkan negara kawasan lainnya.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa sentimen pasar keuangan sangat sensitif terhadap perubahan persepsi risiko, meskipun fundamental ekonomi secara umum masih dinilai relatif solid.
Di tengah volatilitas pasar, sejumlah pelaku investasi global mencermati langkah kebijakan yang akan diambil pemerintah dan otoritas moneter Indonesia.
Investor menilai respons kebijakan menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasar ke depan, terutama dalam menjaga kepercayaan asing.
“Saya memperkirakan para pembuat kebijakan Indonesia akan peka terhadap persepsi asing mengenai situasi domestik dan bereaksi sesuai dengan itu,” kata Rajeev De Mello, manajer portofolio makro global di Gama Asset Management SA, dikutip Jum’at (06/02/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan ekspektasi pasar bahwa pemerintah dan bank sentral akan mengambil langkah-langkah strategis untuk meredam gejolak, baik melalui kebijakan fiskal yang kredibel maupun stabilisasi pasar keuangan.
Penjelasan Pemerintah Soal Arah Fiskal
Pemerintah merespons penurunan outlook kredit dengan menegaskan bahwa kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam koridor aman.
Menurut pemerintah, perbedaan pandangan dengan lembaga pemeringkat lebih disebabkan oleh strategi pembiayaan program prioritas yang ditempuh saat ini.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa parameter fiskal utama tetap dijaga dengan disiplin.
Ia menekankan bahwa perubahan struktur belanja negara tidak serta-merta mencerminkan pelemahan fiskal.
“APBN kita tahun ini memang berbeda karena banyak digunakan untuk mendanai program prioritas Presiden, seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, dan berbagai layanan publik,” ujar Airlangga dikutip dari paparannya di Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026 OJK, Jum’at (06/02/2026).
Ia menambahkan bahwa pemerintah tetap menjaga defisit anggaran di kisaran 3 persen dan rasio utang di bawah 40 persen terhadap produk domestik bruto.
Menurutnya, angka tersebut masih berada dalam batas aman dan kompetitif dibandingkan banyak negara lain.
Dalam penjelasannya, Airlangga juga menyoroti peran Danantara sebagai instrumen baru untuk mendorong investasi nasional.
Skema ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pembiayaan pembangunan pada APBN, sekaligus memperkuat peran investasi swasta dan pembiayaan alternatif.
“Untuk mendorong pertumbuhan melalui investasi, kita sudah punya Danantara. Ini yang membedakan dengan sebelumnya. Kalau dulu investasi dilakukan lewat anggaran APBN, sekarang tidak lagi,” tambahnya.
Pemerintah menilai keberadaan Danantara menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan fiskal, terutama di tengah kebutuhan pembiayaan yang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka menengah.
Bank Indonesia Soroti Fundamental Ekonomi
Di sisi moneter, Bank Indonesia menilai perubahan outlook kredit tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi domestik.
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa sejumlah indikator makro utama masih menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia.
Menurut Perry, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 mencapai 5,39 persen, sementara secara tahunan sepanjang 2025 tumbuh 5,11 persen.
Angka tersebut dinilai relatif kuat di tengah perlambatan ekonomi global.
Inflasi juga tercatat terkendali di level 2,92 persen dan masih berada dalam sasaran yang ditetapkan bank sentral.
Stabilitas sistem keuangan, menurut BI, tetap terjaga dengan baik berkat likuiditas perbankan yang memadai dan permodalan yang kuat.
“Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah,” ujar Perry dikutip dari situs resmi BI, Jum’at (06/02/2026).
Meski fundamental ekonomi dinilai cukup solid, dinamika pasar menunjukkan bahwa sentimen global dan persepsi risiko fiskal tetap menjadi faktor dominan dalam pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Ketidakpastian kebijakan global, arah suku bunga negara maju, serta sensitivitas investor terhadap isu fiskal domestik berpotensi terus memengaruhi pasar valuta asing.
Dalam kondisi tersebut, koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan pasar.
Pelaku pasar akan terus mencermati sinyal kebijakan lanjutan, baik dalam bentuk komunikasi fiskal yang kredibel maupun langkah-langkah stabilisasi di pasar keuangan.
Pergerakan rupiah pada hari-hari mendatang diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global serta respons kebijakan domestik terhadap perubahan persepsi risiko yang muncul pasca penurunan outlook kredit Indonesia.











