Sampah Kembali Menumpuk di Kali Krukut Depok, Warga Keluhkan Hal Ini

AZL
Tumpukan sampah plastik dan styrofoam menutupi aliran Kali Krukut, Kecamatan Limo, Kota Depok, Kamis (05/03/26).

adainfo.id – Aliran Kali Krukut di dekat kawasan Villa Mutiara Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok kembali dipenuhi tumpukan sampah yang mengapung dan menutupi sebagian permukaan sungai.

Sampah yang didominasi plastik dan styrofoam tersebut terlihat menumpuk di beberapa titik aliran air hingga membentuk lapisan tebal yang menghambat arus sungai.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi warga sekitar karena tidak hanya merusak pemandangan.

Akan tetapi juga berpotensi menimbulkan berbagai persoalan lingkungan seperti penyumbatan aliran air hingga risiko banjir saat debit air meningkat.

Pantauan di lokasi menunjukkan bahwa sampah-sampah yang terbawa arus air terkumpul di sejumlah titik bantaran kali.

Material sampah seperti kantong plastik, botol bekas, hingga kemasan makanan terlihat tersangkut pada ranting, batu, maupun struktur penahan tanah di tepi sungai.

Di beberapa bagian, tumpukan sampah bahkan tampak menggunung hingga menyerupai pulau kecil yang menutup sebagian badan sungai.

Kondisi tersebut membuat aliran air tampak melambat karena tertahan oleh lapisan sampah yang cukup tebal.

Selain menimbulkan gangguan terhadap aliran air, keberadaan sampah juga memunculkan bau tidak sedap akibat proses pembusukan material organik yang tercampur dengan sampah plastik.

Sampah Menumpuk di Beberapa Titik Aliran Sungai

Penumpukan sampah di Kali Krukut terlihat tidak merata, namun tersebar di sejumlah titik sepanjang aliran sungai yang melintas di kawasan tersebut.

Sampah yang terbawa arus dari wilayah hulu cenderung berhenti ketika tersangkut pada ranting pohon, batu, maupun struktur bantaran sungai.

Akibatnya, dalam waktu singkat volume sampah dapat meningkat dan menutup sebagian besar permukaan air.

Fenomena ini sering terjadi terutama setelah hujan deras yang membawa sampah dari wilayah permukiman di sepanjang aliran sungai.

Tumpukan sampah yang terus bertambah membuat aliran air tidak lagi mengalir dengan lancar.

Air yang terhambat oleh lapisan sampah berpotensi meluap ketika volume air meningkat secara signifikan.

Selain itu, penumpukan material plastik yang tidak mudah terurai juga dapat mempercepat proses pendangkalan sungai karena bercampur dengan sedimentasi tanah dan lumpur.

Situasi ini menjadi perhatian warga sekitar yang khawatir kondisi sungai akan semakin memburuk jika tidak ditangani secara menyeluruh.

Warga Sebut Sampah Kiriman dari Hulu

Salah seorang warga setempat, Neng (50), menyebut bahwa sebagian besar sampah yang menumpuk di Kali Krukut merupakan kiriman dari daerah hulu sungai yang terbawa arus air.

Ia mengatakan warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai hanya menerima dampaknya, sementara sumber utama sampah berasal dari wilayah lain di sepanjang aliran Kali Krukut.

“Kalo kita yang di sini mah kena imbasnya aja sampah dari sana. Styrofoam, plastik pada kebawa arus kali, nah pas di sini akhirnya jadi pada mampet dah,” ujarnya saat ditemui Kamis (05/03/2026).

Menurut Neng, kondisi tersebut bukan hal baru bagi warga setempat.

Sampah yang menumpuk di sungai sering kali datang kembali meskipun sebelumnya telah dibersihkan oleh petugas kebersihan.

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan sampah di sungai tidak hanya terjadi di satu lokasi saja, melainkan merupakan masalah yang melibatkan banyak wilayah di sepanjang aliran Kali Krukut.

Penumpukan Sampah Sudah Terjadi Berbulan-bulan

Warga juga menyebut bahwa penumpukan sampah di kawasan tersebut telah berlangsung cukup lama.

Bahkan, kondisi tersebut diperkirakan sudah terjadi lebih dari tiga bulan terakhir.

Menurut Neng, meskipun pemerintah telah beberapa kali melakukan pembersihan dan pengangkutan sampah dari sungai, jumlah sampah yang kembali datang membuat kondisi sungai tidak kunjung membaik.

“Wah lama ini udah mah, tiga bulanan lebih ada kali. Liat aja tuh panjangnya sampah itu udah kayak apa. Sebenernya dari pemerintah udah sering ngebersihin, diangkutin sampahnya. Tapi tetep aja itu sampah cepet numpuk lagi,” papar pria paruh baya tersebut.

Fenomena tersebut membuat warga merasa persoalan sampah di sungai seperti menjadi siklus yang terus berulang tanpa solusi yang benar-benar menyentuh akar permasalahan.

Warga berharap adanya langkah penanganan yang lebih komprehensif agar penumpukan sampah tidak terus terjadi.

Longsoran Bantaran Sungai Perparah Kondisi

Selain masalah sampah, kondisi bantaran Kali Krukut juga mengalami perubahan akibat longsoran tanah di beberapa titik.

Tanah yang runtuh ke dalam aliran sungai menyebabkan proses pendangkalan yang mempersempit ruang aliran air.

Pendangkalan ini membuat sampah yang terbawa arus lebih mudah tersangkut dan mengendap di bagian sungai yang dangkal.

Akibatnya, sampah semakin cepat menumpuk dan menghambat aliran air.

Kondisi tersebut dapat memperparah risiko banjir ketika hujan dengan intensitas tinggi terjadi.

Air yang seharusnya mengalir dengan lancar menjadi tertahan oleh tumpukan sampah dan sedimentasi tanah.

Selain itu, longsoran tanah juga berpotensi merusak struktur bantaran sungai jika tidak segera ditangani dengan baik.

Bau Tidak Sedap Ganggu Aktivitas Warga

Selain berdampak pada aliran air, penumpukan sampah di Kali Krukut juga menimbulkan gangguan bagi warga sekitar.

Bau tidak sedap dari sampah yang membusuk mulai terasa di lingkungan permukiman yang berada dekat dengan bantaran sungai.

Kondisi tersebut tentu mengganggu kenyamanan warga, terutama bagi mereka yang tinggal di rumah yang berjarak tidak jauh dari aliran sungai.

Selain aroma tidak sedap, keberadaan sampah yang menumpuk juga berpotensi menjadi tempat berkembangnya berbagai jenis hama dan bakteri yang dapat memicu masalah kesehatan.

Hal ini membuat warga berharap adanya langkah penanganan yang lebih intensif agar kondisi sungai dapat kembali bersih dan aman bagi lingkungan sekitar.

Sungai yang Pernah Jernih Kini Tercemar

Secara historis, Kali Krukut pernah dikenal sebagai salah satu sungai yang memiliki air jernih dan menjadi lokasi rekreasi masyarakat pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Pada masa itu, sungai ini bahkan dimanfaatkan sebagai jalur transportasi air skala kecil yang menghubungkan kawasan Batavia dengan beberapa wilayah di Jawa Barat.

Namun seiring berkembangnya kawasan permukiman dan meningkatnya aktivitas perkotaan di sepanjang aliran sungai, kondisi Kali Krukut perlahan mengalami perubahan.

Limbah rumah tangga, sampah plastik, serta kurangnya pengelolaan lingkungan yang optimal membuat kualitas air sungai terus menurun.

Kini, di banyak titik aliran Kali Krukut, air sungai tampak keruh kehitaman dan dipenuhi oleh sampah yang terbawa arus dari berbagai wilayah.

Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana tekanan aktivitas manusia dapat mempengaruhi keberlanjutan ekosistem sungai di kawasan perkotaan.

Harapan Penanganan Menyeluruh dari Hulu hingga Hilir

Melihat kondisi yang terus berulang, warga berharap adanya penanganan yang lebih menyeluruh terhadap persoalan sampah di Kali Krukut.

Penanganan tersebut dinilai tidak bisa hanya dilakukan di satu titik saja, melainkan perlu melibatkan pengelolaan dari hulu hingga hilir sungai.

Selain pembersihan sampah secara rutin, warga juga berharap adanya upaya normalisasi sungai serta pengawasan terhadap pembuangan sampah di sepanjang aliran sungai.

Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya penumpukan sampah yang berulang serta menjaga kelancaran aliran air di Kali Krukut.

Warga juga menilai pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan sampah agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan limbah.

Dengan koordinasi antarwilayah serta pengelolaan lingkungan yang lebih terintegrasi, kondisi Kali Krukut diharapkan dapat berangsur membaik.

Selain itu juga tidak lagi menjadi tempat penumpukan sampah yang mengancam lingkungan sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *