Semarak Berburu Takjil di Depok Jadi Roda Penggerak UMKM Selama Ramadan 

AZL
Suasana warga berburu takjil di Jl. M. Ali, Tanah Baru, Kota Depok menjelang waktu berbuka puasa, Minggu (22/02/26). (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di Kelurahan Tanah Baru, Kota Depok, berubah menjadi lautan manusia yang berburu takjil.

Tradisi tahunan ini kembali menggeliat, menghadirkan semarak kuliner sore yang dinanti warga dari berbagai penjuru.

Sejak pukul 15.00 WIB, arus masyarakat mulai memadati sepanjang Jalan Raya Tanah Baru.

Deretan lapak pedagang berdiri rapat, menyajikan beragam hidangan khas Nusantara untuk berbuka puasa.

Fenomena ini bukan sekadar aktivitas jual beli, melainkan bagian dari denyut sosial dan ekonomi yang tumbuh setiap bulan suci.

Dua titik utama menjadi pusat keramaian warga. Pertama di pertigaan Jalan M. Ali sebelum Perumahan Beji Permai, dan kedua di sepanjang Jalan Raden Sanim, Curug Agung.

Di lokasi tersebut, pembeli datang silih berganti, menciptakan antrean panjang yang mengular menjelang azan Magrib.

Ragam Kuliner Nusantara Menggugah Selera

Lapak-lapak yang berjajar menawarkan pilihan menu yang menggugah selera.

Kolak pisang dengan kuah santan kental, es buah segar berisi potongan semangka dan melon, es campur warna-warni, gorengan hangat, pastel renyah, hingga aneka lauk pauk dan nasi kotak siap santap menjadi incaran pembeli.

Aroma makanan yang baru diangkat dari penggorengan berpadu dengan semilir angin sore, menciptakan atmosfer khas Ramadan yang sulit ditemukan di bulan lain.

Warga tampak memilih dengan cermat, sebagian membeli dalam jumlah banyak untuk disantap bersama keluarga di rumah.

Bagi masyarakat Tanah Baru, berburu takjil bukan sekadar memenuhi kebutuhan berbuka.

Kegiatan ini telah menjelma menjadi tradisi yang menguatkan interaksi sosial dan mempererat silaturahmi.

Momentum Emas bagi UMKM

Ramainya pemburu takjil memberikan dampak langsung terhadap peningkatan pendapatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Pedagang mengaku merasakan lonjakan omzet yang signifikan dibandingkan hari biasa.

Beben, penjual siomay dan batagor, mengungkapkan penjualannya melonjak tajam selama Ramadan.

“Alhamdulillah selama Ramadan ini penjualan kenceng terus. Jauh meningkat lah pendapatan kalo dibandingin hari-hari biasa di luar bulan puasa,” ungkap Beben saat ditemui, Minggu (22/02/2026).

Menurutnya, ratusan bungkus dagangan mampu terjual setiap sore. Bahkan stok sering kali habis sebelum waktu berbuka tiba.

Lonjakan permintaan tersebut menjadi berkah tersendiri bagi pedagang kecil yang mengandalkan momentum Ramadan sebagai periode panen.

Tidak hanya pedagang dewasa, anak-anak dan remaja juga turut menjajakan jajanan ringan serta minuman segar.

Fenomena ini memperlihatkan tumbuhnya semangat kewirausahaan sejak usia dini di tengah suasana bulan suci.

Antusiasme Warga Memadati Dua Titik Favorit

Kepadatan terlihat merata di dua titik utama berburu takjil. Di pertigaan Jalan M. Ali, kendaraan roda dua dan roda empat tampak berderet di sisi jalan.

Sementara di Jalan Raden Sanim, pembeli berjalan kaki menyusuri lapak satu per satu untuk memilih menu favorit.

Orang tua datang bersama anak-anak, remaja berkumpul dengan teman sebaya, hingga pekerja yang baru pulang kantor turut meramaikan suasana.

Banyak warga menjadikan momen berburu takjil sebagai ajang rekreasi kuliner sore hari.

“Nyari takjil di sekitaran sini, banyak pilihan menu berbuka puasa yang beraneka ragam. Terus juga harganya murah-murah,” ujar Syindi, salah satu pembeli.

Harga yang relatif terjangkau menjadi salah satu daya tarik utama. Dengan kisaran harga yang ramah di kantong, warga dapat menikmati beragam menu tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Tradisi Ramadan yang Menggerakkan Ekonomi Lokal

Fenomena berburu takjil di Tanah Baru mencerminkan bagaimana Ramadan mampu menggerakkan roda ekonomi lokal secara signifikan.

Perputaran uang meningkat dalam waktu singkat, memberikan dampak langsung terhadap pelaku usaha kecil.

Takjil menjadi komoditas musiman yang selalu dinanti. Selain memudahkan warga mendapatkan hidangan berbuka, keberadaan pasar dadakan ini juga membuka peluang usaha sementara bagi masyarakat sekitar.

Kehadiran pedagang musiman menunjukkan fleksibilitas ekonomi masyarakat dalam memanfaatkan peluang.

Beberapa warga bahkan hanya berjualan selama Ramadan untuk menambah pemasukan keluarga.

Suasana ramai setiap sore menciptakan ekosistem ekonomi yang hidup, di mana penjual dan pembeli saling menguatkan dalam semangat berbagi rezeki.

Silaturahmi dan Kebersamaan di Bulan Suci

Di balik ramainya transaksi jual beli, tradisi berburu takjil juga menghadirkan nilai kebersamaan.

Warga tidak hanya datang untuk membeli makanan, tetapi juga untuk bertemu kerabat dan sahabat.

Interaksi sosial yang terbangun di antara lapak-lapak sederhana menciptakan ruang kebersamaan yang hangat.

Anak-anak berlarian kecil di antara kerumunan, sementara orang tua berbincang ringan menunggu pesanan selesai dibungkus.

Ramadan di Tanah Baru menjadi cermin kehidupan masyarakat urban yang tetap menjaga tradisi lokal.

Aktivitas sederhana berburu takjil menghadirkan suasana yang sarat makna, memadukan ibadah, kebersamaan, serta dinamika ekonomi dalam satu ruang yang sama.

Di berbagai sudut Kota Depok, Ramadan selalu menghadirkan warna tersendiri.

Namun di Tanah Baru, semarak berburu takjil di sore hari menjadi potret nyata bagaimana bulan suci bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, melainkan juga tentang kebersamaan, peluang usaha, serta denyut ekonomi rakyat yang terus bergerak.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *