Serangan ke UNIFIL, Indonesia Dorong Rapat Luar Biasa DK PBB
adainfo.id – Pemerintah Indonesia secara resmi mendorong Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk segera menggelar rapat luar biasa menyusul serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon yang menewaskan prajurit TNI.
Langkah diplomatik ini diambil sebagai respons cepat atas insiden serius yang dinilai mengancam keamanan misi perdamaian internasional.
Dalam insiden tersebut, tiga personel terbaik bangsa gugur saat menjalankan tugas, yakni Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, serta Kopda Anumerta Farizal Rhomadon.
Oleh karena itu, pemerintah melalui Perwakilan Tetap Republik Indonesia di New York langsung bergerak mengajukan permintaan rapat luar biasa kepada Dewan Keamanan PBB.
Permintaan tersebut mendapat dukungan dari Prancis sebagai penholder isu Lebanon di DK PBB, yang kemudian menyetujui pelaksanaan rapat darurat.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk memastikan adanya perhatian serius dari komunitas internasional terhadap keselamatan pasukan penjaga perdamaian.
“Rapat luar biasa Dewan Keamanan yang intinya, pertama kita mengutuk keras serangan yang dilakukan terhadap penjaga perdamaian dan hal ini UNIFIL. Kemudian kita juga menuntut supaya dilakukan investigasi menyeluruh karena ini adalah misi penjaga perdamaian,” ucap Sugiono dalam keterangannya dikutip Minggu (05/04/2026).
Langkah ini sekaligus menunjukkan posisi Indonesia sebagai negara yang aktif dan vokal dalam menjaga stabilitas global, khususnya dalam misi perdamaian yang berada di bawah mandat PBB.
Duka Mendalam atas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon
Di tengah langkah diplomasi yang dilakukan, pemerintah juga menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya para prajurit.
Ketiga personel yang gugur dikenal sebagai bagian dari pasukan perdamaian yang menjalankan tugas mulia menjaga stabilitas di wilayah konflik.
“Kita semua mengucapkan duka cita yang sedalam-dalamnya bagi keluarga yang ditinggalkan. Berharap dan berdoa semoga para kusuma bangsa ini arwahnya diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa, dan keluarganya diberi kesehatan, kesabaran dalam menghadapi musibah ini,” papar Sugiono.
Pemerintah menegaskan bahwa pengorbanan para prajurit tersebut merupakan bagian dari kontribusi Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia, sekaligus menjadi pengingat akan risiko tinggi yang dihadapi pasukan di lapangan.
Selain korban gugur, Sugiono juga mengungkapkan adanya tiga prajurit TNI lainnya yang mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.
Kondisi mereka saat ini terus dipantau dan mendapatkan penanganan medis.
“Saya juga menerima laporan bahwa ada tiga prajurit TNI yang terluka, yang juga penyebabnya seperti halnya dari dua insiden yang sebelumnya terjadi itu masih diinvestigasi oleh UNIFIL,” terangnya.
Hingga kini, penyebab pasti serangan masih dalam proses investigasi oleh pihak UNIFIL.
Pemerintah Indonesia menaruh perhatian besar terhadap hasil investigasi tersebut, mengingat insiden serupa sebelumnya juga terjadi dan menunjukkan adanya potensi ancaman berulang.
Serangan terhadap Peacekeeper Tidak Dapat Dibenarkan
Dalam pernyataannya, Sugiono menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap prinsip-prinsip internasional.
Ia menekankan bahwa pasukan UNIFIL tidak memiliki mandat untuk terlibat dalam konflik bersenjata secara ofensif.
“They are peacekeeping, not peacemaking. Mereka tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk membuat ataupun peacemaking. Perlengkapannya dan latihannya adalah untuk menjaga perdamaian, situasi damai yang dijaga, dan ini juga merupakan mandat dari PBB peacekeeping ini,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan posisi Indonesia bahwa pasukan perdamaian seharusnya mendapatkan perlindungan penuh karena mereka bertugas menjaga stabilitas, bukan menjadi bagian dari konflik.
Pemerintah pun tidak hanya berhenti pada kecaman, tetapi juga mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan pasukan penjaga perdamaian di berbagai wilayah penugasan.
Fokus utama diarahkan pada peningkatan perlindungan bagi personel yang bertugas di wilayah konflik aktif seperti Lebanon.
Menurut Sugiono, keselamatan prajurit menjadi prioritas utama yang tidak boleh diabaikan dalam setiap misi internasional.
“Kita sekali lagi berupaya agar pasukan penjaga perdamaian kita diberi, agar pasukan perdamaian kita ini sehat, selamat dalam menjalankan tugas yang diembankan kepada mereka,” pungkasnya.
Dorongan ini diharapkan dapat memicu pembahasan lebih luas di tingkat global mengenai standar keamanan, perlengkapan, serta mandat operasional pasukan perdamaian PBB.
Indonesia Tegaskan Komitmen terhadap Perdamaian Dunia
Langkah diplomatik yang diambil Indonesia mencerminkan komitmen kuat dalam menjaga perdamaian dunia.
Sebagai salah satu kontributor terbesar pasukan penjaga perdamaian PBB, Indonesia memiliki kepentingan strategis untuk memastikan keselamatan personelnya di lapangan.
Insiden ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat peran di panggung internasional, tidak hanya sebagai peserta misi, tetapi juga sebagai penggerak perubahan dalam sistem global.
Di tengah duka yang mendalam, pemerintah menegaskan bahwa negara hadir dan tidak akan tinggal diam.
Pengorbanan para prajurit menjadi pengingat bahwa misi perdamaian memiliki harga yang tinggi, namun tetap menjadi bagian penting dalam menciptakan dunia yang lebih aman dan stabil.












