Sesar Cisadane Jadi Ancaman Serius Wilayah Jabodetabek
adainfo.id – Keberadaan Sesar Cisadane kembali menjadi sorotan setelah hasil kajian terbaru mengklasifikasikan patahan tersebut sebagai sesar potensial aktif.
Informasi ini memunculkan perhatian publik, terutama masyarakat yang bermukim di sepanjang alur Sungai Cisadane dan sekitarnya.
Pemerintah melalui otoritas geologi menegaskan bahwa temuan tersebut harus disikapi dengan kewaspadaan berbasis data ilmiah, bukan kepanikan.
Kepala Badan Geologi di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria, memastikan bahwa struktur Sesar Cisadane sejatinya telah lama teridentifikasi dalam peta geologi nasional.
Patahan tersebut memiliki arah umum barat laut–tenggara, mengikuti alur Sungai Cisadane.
“Sesar Cisadane memang ada. Dengan arah umum barat laut-tenggara, searah Sungai Cisadane,” ujar Lana dikutip Senin (16/02/2026).
Penegasan ini sekaligus meluruskan anggapan bahwa kemunculan istilah sesar potensial aktif berarti terdapat aktivitas gempa besar dalam waktu dekat.
Keberadaan struktur geologi dan status keaktifan merupakan dua hal yang harus dibedakan secara ilmiah.
Struktur Tua Berusia Jutaan Tahun
Secara geologis, Sesar Cisadane merupakan sesar tua yang terbentuk jutaan tahun lalu.
Lana menjelaskan bahwa pembentukan patahan tersebut diperkirakan terjadi sekitar lima juta tahun silam, seiring dinamika tektonik yang membentuk bentang alam Jawa bagian barat.
“Sesar ini merupakan sesar tua, yang terbentuk sejak kurang lebih lima juta tahun lalu. Jadi kita harus bedakan antara keberadaan struktur sesar dan status keaktifannya,” katanya.
Dalam klasifikasi kebencanaan geologi, kategori potensial aktif diberikan pada sesar yang pernah bergerak pada masa lampau, namun belum memiliki catatan kegempaan modern yang signifikan.
Artinya, belum terdapat bukti kuat aktivitas gempa besar dalam periode pencatatan instrumental mutakhir, meski secara morfologi jejak pergerakan masih dapat dikenali.
Status tersebut mendorong dilakukannya kajian lanjutan melalui survei lapangan, pemetaan detail, serta analisis geofisika untuk memastikan karakteristik dan tingkat risiko sebenarnya.
Pendekatan ini menjadi standar dalam mitigasi berbasis sains yang diterapkan otoritas geologi nasional.
Imbauan Tidak Panik dan Tetap Waspada
Badan Geologi menekankan pentingnya literasi kebencanaan di tengah masyarakat.
Informasi mengenai sesar potensial aktif tidak dimaksudkan untuk memicu keresahan, melainkan meningkatkan kesiapsiagaan berbasis data.
“Belum tentu aktif. Karena itu kami terus melakukan pendalaman data. Prinsipnya, masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada,” ujarnya.
Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada warga yang tinggal di sekitar lintasan sesar.
Termasuk wilayah yang berada di sepanjang Sungai Cisadane hingga kawasan barat Kabupaten Bogor.
Lana mengingatkan agar masyarakat mengikuti arahan resmi dari otoritas kebencanaan daerah dan tidak terpengaruh spekulasi yang belum terverifikasi.
“Perlu kewaspadaan bagi warga di sekitar lintasan sesar. Ikuti arahan dan informasi dari BPBD setempat, jangan berspekulasi,” kata Lana.
Pendekatan komunikasi risiko dinilai krusial dalam isu kebencanaan geologi.
Penyampaian informasi harus akurat, terukur, dan berbasis bukti ilmiah agar tidak menimbulkan disinformasi di ruang publik.
Ekspedisi Geologi di Gunung Nyungcung dan Gunung Panjang
Sebagai bagian dari pendalaman data, tim peneliti Badan Geologi bekerja sama dengan Badan Informasi Geospasial serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bogor melakukan ekspedisi di kawasan Gunung Nyungcung dan Gunung Panjang.
Kedua lokasi tersebut menyimpan indikasi bentang alam yang terbelah akibat aktivitas struktur sesar mendatar.
Secara geomorfologi, ditemukan jejak pergeseran yang mengindikasikan adanya patahan geser berarah barat laut–tenggara.
Berdasarkan kajian awal, Gunung Panjang diperkirakan dahulu memiliki keterhubungan morfologis dengan Gunung Nyungcung di Rumpin, yang terletak di sisi barat.
Seiring waktu, keduanya terpisah oleh aliran Sungai Cisadane yang mengikuti jalur patahan.
Pemisahan tersebut diyakini disebabkan oleh pergerakan sesar mendatar atau strike-slip fault yang kemudian dikenal sebagai Sesar Cisadane.
Pergerakan horizontal semacam ini lazim ditemukan pada sistem patahan geser di berbagai wilayah tektonik aktif.
“Dari berbagai metode seismik, geologi permukaan, sampai LiDAR, terlihat indikasi sesar mendatar yang mengikuti alur Sungai Cisadane,” dikutip dari unggahan video Badan Geologi di Instagram, Senin (16/02/2026).
Penggunaan teknologi Light Detection and Ranging atau LiDAR memungkinkan pemetaan topografi resolusi tinggi yang mampu mengidentifikasi kelurusan morfologi, pergeseran lereng, hingga anomali kontur yang tidak terlihat secara kasat mata.
Pendalaman Risiko dan Karakter Pergerakan
Riset lanjutan masih berjalan guna memastikan karakter pergerakan serta tingkat risiko Sesar Cisadane terhadap permukiman dan infrastruktur.
Pendekatan multidisiplin dilakukan untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai potensi bahaya.
Hal ini mencakup integrasi data seismik, geologi permukaan, penginderaan jauh, serta informasi geospasial terkini.
Wilayah barat Jawa memang dikenal memiliki kompleksitas struktur geologi akibat interaksi lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.
Sejumlah sesar darat telah teridentifikasi di kawasan ini, sehingga pemutakhiran peta sumber gempa menjadi agenda berkelanjutan.
Dalam konteks mitigasi, pemetaan sesar aktif dan potensial aktif berfungsi sebagai dasar perencanaan tata ruang dan standar konstruksi bangunan tahan gempa.
Informasi tersebut penting untuk memastikan pembangunan infrastruktur memperhitungkan faktor risiko geologi.
Klasifikasi potensial aktif bukan berarti ancaman gempa besar dalam waktu dekat, melainkan indikator perlunya pemantauan dan kajian mendalam.
Transparansi informasi menjadi bagian dari strategi pengurangan risiko bencana.
Dengan koordinasi lintas lembaga dan dukungan teknologi pemetaan modern, kajian terhadap Sesar Cisadane diharapkan mampu memberikan gambaran ilmiah yang lebih presisi mengenai tingkat ancaman serta rekomendasi mitigasi yang diperlukan bagi masyarakat di sekitarnya.











