Siklon Tropis Narelle Berpotensi Jadi Badai, Ini Dampaknya

ARY
Ilustrasi dampak Siklon Tropis Narelle di Indonesia. (Foto: Thomas Griger/Canva)

adainfo.id – Siklon Tropis Narelle yang terpantau aktif di selatan Indonesia kini berpotensi meningkat menjadi badai kategori tiga dalam waktu dekat, memicu kewaspadaan terhadap dampak cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Tanah Air.

Berdasarkan pemantauan terbaru, sistem siklon ini menunjukkan penguatan signifikan dengan potensi peningkatan kecepatan angin yang dapat mencapai level badai parah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena siklon kategori tiga dikenal memiliki daya rusak tinggi terhadap lingkungan dan infrastruktur.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa Siklon Tropis Narelle awalnya berkembang dari Bibit Siklon Tropis 96P yang kemudian mengalami intensifikasi hingga mencapai status siklon pada pertengahan Maret 2026.

BMKG mencatat bahwa sistem cuaca ini mulai masuk dalam wilayah pemantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta sejak 21 Maret 2026 pukul 01.00 WIB.

Sejak saat itu, perkembangan siklon terus dimonitor secara intensif untuk mengantisipasi dampaknya terhadap wilayah Indonesia.

Merujuk data terbaru per Rabu (25/03/2026) pagi tadi, posisi Siklon Tropis Narelle berada di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lokasi ini menunjukkan bahwa meskipun tidak berada langsung di daratan Indonesia, pengaruhnya tetap signifikan terhadap kondisi atmosfer dan perairan.

“Kecepatan angin maksimum Siklon Tropis Narelle dalam 24 jam ke depan diprakirakan meningkat menjadi kategori tiga dan bergerak ke arah barat daya,” tulis informasi BMKG pada unggahan di Instagram dikutip Rabu (25/03/2026).

Pergerakan ke arah barat daya ini menunjukkan bahwa siklon cenderung menjauhi wilayah daratan utama Indonesia.

Namun, efek tidak langsungnya tetap berpotensi dirasakan di berbagai daerah, khususnya di wilayah selatan Indonesia.

Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang

Dampak utama yang diperkirakan terjadi akibat keberadaan Siklon Tropis Narelle adalah peningkatan intensitas hujan dan kecepatan angin di sejumlah wilayah.

BMKG menyebutkan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di beberapa daerah, terutama Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan NTT.

Fenomena ini disebabkan oleh tarikan massa udara menuju pusat siklon yang berada di Samudra Hindia.

Tarikan tersebut memicu pembentukan awan hujan yang lebih intens di wilayah sekitarnya.

Selain hujan lebat, angin kencang juga menjadi salah satu dampak yang perlu diwaspadai. Kecepatan angin yang meningkat dapat menyebabkan gangguan aktivitas masyarakat.

Termasuk transportasi darat dan laut, serta berpotensi menimbulkan kerusakan ringan hingga sedang.

Kondisi cuaca seperti ini umumnya terjadi ketika sistem siklon berada dalam fase penguatan, di mana energi atmosfer meningkat dan memicu dinamika cuaca yang lebih ekstrem.

Gelombang Tinggi Ancam Perairan Selatan Indonesia

Selain dampak di daratan, Siklon Tropis Narelle juga berpotensi menyebabkan peningkatan tinggi gelombang di sejumlah perairan Indonesia.

BMKG mengidentifikasi beberapa wilayah laut yang berisiko mengalami gelombang tinggi, terutama di bagian selatan Indonesia.

Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Laut Arafura bagian barat, Laut Sawu, serta perairan selatan Jawa Timur hingga NTT.

Selain itu, Samudra Hindia di selatan Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT juga diperkirakan mengalami peningkatan gelombang signifikan.

Gelombang tinggi ini berpotensi membahayakan aktivitas pelayaran, khususnya bagi kapal nelayan dan kapal berukuran kecil.

Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi sektor pariwisata bahari serta aktivitas masyarakat pesisir.

Peningkatan gelombang biasanya terjadi akibat kombinasi antara angin kencang dan tekanan rendah di sekitar pusat siklon.

Semakin kuat siklon, semakin besar pula energi yang ditransfer ke permukaan laut.

Status Kategori Tiga dan Potensi Dampak Lebih Luas

Siklon tropis kategori tiga termasuk dalam kategori badai parah dengan kecepatan angin maksimum berkisar antara 118 hingga 159 km/jam.

Dalam kondisi ini, dampak yang ditimbulkan dapat mencakup kerusakan bangunan, tumbangnya pepohonan, serta gangguan signifikan terhadap jaringan listrik dan komunikasi.

Jika Siklon Tropis Narelle benar-benar mencapai kategori tersebut, maka potensi dampak tidak langsung terhadap wilayah Indonesia dapat semakin meluas.

Meskipun pusat siklon berada jauh dari daratan, efek atmosfernya dapat memengaruhi pola cuaca regional.

BMKG terus mengimbau masyarakat untuk memantau perkembangan informasi cuaca terkini serta meningkatkan kewaspadaan.

Terutama bagi warga yang berada di wilayah pesisir dan daerah rawan bencana hidrometeorologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *