Sinergi Kebudayaan Pariwisata Ciptakan Destinasi Berbasis Warisan Budaya Indonesia 

AZL
Ilustrasi penguatan sinergi pengembangan wisata berbasis budaya. (Foto: Canva/DreamArtist)

adainfo.id – Upaya mengejar target 17 juta wisatawan mancanegara pada 2026 kian diperkuat melalui sinergi lintas kementerian, setelah Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menggelar pertemuan strategis di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.

Pertemuan tersebut menandai langkah konkret integrasi kebijakan kebudayaan dan pariwisata guna mengoptimalkan potensi warisan budaya nasional sebagai daya tarik utama sektor wisata.

Pertemuan dua kementerian itu membahas integrasi data Cagar Budaya Nasional dan Warisan Budaya Takbenda, penguatan ekosistem event budaya.

Kemudian, penyusunan pola perjalanan wisata atau travel pattern, optimalisasi promosi digital, hingga kolaborasi diplomasi budaya di tingkat internasional.

Fadli Zon menekankan pentingnya penyelarasan program kedua kementerian agar berdampak nyata bagi masyarakat dan pertumbuhan sektor pariwisata nasional.

“Budaya dan pariwisata memiliki hubungan yang sangat erat. Kolaborasi ini menjadi kunci agar potensi budaya kita benar-benar memberi dampak pada peningkatan kunjungan wisatawan,” ujarnya dikutip Kamis (26/02/2026).

Integrasi 313 Cagar Budaya dan Ribuan WBTB

Fadli Zon menjelaskan bahwa Kementerian Kebudayaan saat ini mengelola 313 Cagar Budaya Nasional dan 2.727 Warisan Budaya Takbenda, dengan tambahan 514 WBTB baru sepanjang 2025.

Jumlah tersebut mencerminkan kekayaan budaya Indonesia yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.

Potensi itu dinilai belum sepenuhnya dimaksimalkan sebagai kekuatan destinasi wisata budaya, sejarah, religi, maupun kuliner.

Ia menekankan pentingnya pengemasan atau packaging dan penguatan narasi agar kekayaan budaya Indonesia mampu tampil sebagai daya tarik utama dalam ekosistem pariwisata berkelanjutan.

Integrasi data lintas kementerian diharapkan dapat menghadirkan informasi yang lebih komprehensif bagi wisatawan, pelaku industri, maupun pemerintah daerah dalam mengembangkan destinasi berbasis budaya.

Optimalisasi Destinasi Prioritas Nasional

Pembahasan juga menyentuh pengelolaan situs prioritas nasional yang telah berada dalam skema kerja sama dengan InJourney, termasuk Candi Borobudur, Candi Prambanan, Kompleks Ratu Boko, dan Candi Plaosan.

Khusus Borobudur, Fadli Zon menilai kapasitas kunjungan masih dapat dioptimalkan.

Kuota pengunjung yang dapat naik ke struktur utama sekitar 4.000 orang per hari menjadi peluang untuk meningkatkan angka kunjungan dengan tetap memperhatikan aspek konservasi.

“Pemasangan chattra diharapkan menjadikan Borobudur sebagai living heritage yang memiliki makna spiritual sekaligus daya tarik global. Kami berharap ini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara,” tegasnya.

Konsep living heritage dinilai mampu memperkuat posisi Borobudur bukan sekadar situs sejarah, melainkan ruang budaya hidup yang terus relevan bagi generasi masa kini.

Jalur Rempah dan Narasi Peradaban Dunia

Selain destinasi prioritas, Fadli Zon juga menyoroti potensi sejarah di kawasan timur Indonesia.

Seperti Banda Neira dengan narasi Jalur Rempah, benteng kolonial di Maluku, hingga situs prasejarah Leang-Leang dan Leang Metanduno yang berusia sekitar 67.800 tahun.

Leang Metanduno telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional dan menjadi bukti penting peradaban manusia purba di Indonesia.

Narasi besar tentang jalur perdagangan rempah dan sejarah kolonialisme dinilai sangat potensial dikembangkan dalam pola perjalanan wisata terpadu berbasis sejarah.

Penguatan storytelling berbasis peradaban diyakini dapat meningkatkan minat wisatawan yang mencari pengalaman autentik dan edukatif.

Di sektor seni dan perfilman, Kementerian Kebudayaan mendukung partisipasi sineas Indonesia dalam festival internasional serta menjadi tuan rumah Jogja-NETPAC Asian Film Festival.

Ajang tersebut menjadi ruang promosi budaya melalui medium film yang semakin diminati generasi muda.

Indonesia juga akan berpartisipasi dalam Venice Biennale dengan mengirimkan 14 seniman perupa sebagai bagian dari diplomasi budaya.

Keterlibatan ini diharapkan memperkuat citra Indonesia di panggung seni global sekaligus menarik minat wisatawan mancanegara.

Promosi Digital dan Experience-Based Tourism

Sementara itu, Widiyanti menegaskan bahwa Kementerian Pariwisata fokus pada promosi dan penguatan infrastruktur destinasi.

Termasuk melalui platform digital indonesia.travel.id yang telah dilengkapi fitur analisis tren berbasis kecerdasan buatan.

“Kami membutuhkan dukungan data dan storytelling dari Kementerian Kebudayaan agar museum dan cagar budaya dapat tampil lebih kuat di platform digital kami. Generasi muda mencari informasi secara online, dan ini harus kita manfaatkan secara maksimal,” ujar Widiyanti.

Ia menambahkan, target peningkatan kunjungan sebesar 14 persen dengan sasaran 17 juta wisatawan mancanegara membutuhkan penguatan promosi berbasis pengalaman atau experience-based tourism.

Program Kharisma Event Nusantara yang tahun ini mencapai 145 event dinilai menjadi ruang strategis integrasi event budaya agar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi daerah penyelenggara dan pelaku industri kreatif.

Sinergi lintas kementerian ini menjadi bagian dari strategi besar menjadikan budaya sebagai fondasi daya saing utama pariwisata Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *