Situs Peti Kubur Batu Belawa, Jejak Peradaban Purba di Tengah Perkebunan Tebu Cirebon
adainfo.id – Di tengah hamparan perkebunan tebu Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, tersimpan sebuah peninggalan bersejarah yang mengungkap kehidupan manusia purba. Pada Senin (22/9/2025), situs ini kembali menjadi sorotan publik karena diyakini sebagai salah satu bukti nyata peradaban megalitikum di Nusantara.
Situs itu dikenal dengan nama Peti Kubur Batu Belawa, peninggalan zaman megalitikum yang diperkirakan berusia antara 5.000 hingga 8.000 tahun.
Lokasi bersejarah ini menunjukkan bahwa jauh sebelum berkembangnya peradaban Islam dan Keraton di Cirebon, wilayah ini telah dihuni masyarakat purba dengan sistem kepercayaan yang kompleks.
Peti kubur ini tersusun dari papan-papan batu andesit yang membentuk wadah menyerupai peti. Dari segi arkeologi, bangunan ini bukan makam permanen, melainkan tempat persemayaman sementara jenazah sebelum dipercaya menuju alam arwah.
Salah satu peti yang sempat diteliti berukuran panjang 205 sentimeter dengan lebar 70 sentimeter. Orientasinya mengarah ke barat dengan deviasi sekitar 25 derajat, tepat ke arah Gunung Ciremai.
Posisi tersebut diyakini berkaitan dengan sistem kepercayaan masyarakat purba yang menganggap gunung sebagai pusat spiritual.
Bekal Kubur dan Kepercayaan Masyarakat Purba
Pada ekskavasi tahun 2013, tim arkeolog menemukan sejumlah artefak di sekitar area kubur, di antaranya fragmen gerabah dan perunggu. Penemuan ini memperlihatkan adanya tradisi bekal kubur, yakni keyakinan masyarakat bahwa jenazah membutuhkan perlengkapan untuk perjalanan ke alam arwah.
“Dalam penelitian yang pernah dilakukan, ditemukan fragmen gerabah dan perunggu yang sangat rapuh akibat pelapukan. Perunggu tersebut diduga merupakan bekal kubur bagi jenazah yang dikebumikan di dalam bangunan bersejarah itu,” jelas Lutfi Yondri, Arkeolog Balai Arkeologi Jawa Barat.
Temuan ini menegaskan bahwa masyarakat prasejarah Cirebon sudah mengenal logam dan memiliki ritual pemakaman yang berhubungan erat dengan kepercayaan terhadap arwah leluhur.
Nilai Penting dalam Sejarah Nusantara
Menurut Lutfi, Situs Kubur Batu Belawa merupakan peninggalan penting dari masa Pra-Aksara karena merepresentasikan budaya kuno Nusantara.
“Situs ini tidak hanya menunjukkan tradisi budaya batu, tetapi juga budaya logam yang sudah dikenal masyarakat pada masa itu,” ujarnya.
Keberadaan peti kubur batu Belawa menjadi bukti bahwa masyarakat prasejarah di Cirebon memiliki sistem sosial, spiritual, serta teknologi yang lebih maju dibandingkan perkiraan banyak pihak.
Bukan sekadar kubur, situs ini mencerminkan ritual kolektif dan penghormatan mendalam terhadap leluhur.
Seiring berjalannya waktu, sebagian susunan batu di situs ini sempat mengalami kerusakan. Namun, warga Desa Belawa bersama pemerintah desa berinisiatif melakukan penataan ulang agar bentuk asli situs tetap terjaga.
Muncul pula gagasan menjadikan kawasan ini sebagai taman purba, yang tidak hanya berfungsi sebagai situs arkeologi, tetapi juga sebagai destinasi wisata edukasi. Potensi wisata sejarah ini dapat menjadi sarana belajar bagi generasi muda sekaligus mengangkat perekonomian masyarakat sekitar.
“Upaya pelestarian terus dilakukan agar generasi mendatang dapat mengenal jejak peradaban manusia purba di Cirebon,” ujar salah seorang tokoh desa.
Ikhtiar Menghidupkan Warisan Leluhur
Bagi masyarakat Belawa, situs ini tidak sekadar peninggalan arkeologis, tetapi juga simbol ikatan dengan nenek moyang mereka.
Ada kesadaran kolektif untuk menjaga warisan sejarah ini dari kepunahan, sambil membuka peluang agar situs bisa dimanfaatkan sebagai sarana penelitian dan pendidikan sejarah.
Dengan nilai sejarah, budaya, dan edukasi yang dimilikinya, Situs Peti Kubur Batu Belawa menjadi bukti nyata bahwa Cirebon tidak hanya kaya dengan budaya Islam dan keraton, tetapi juga menyimpan jejak peradaban manusia purba ribuan tahun silam.











