Skema MBG Bakal Dirombak Selama Ramadan, Pemerintah Klaim Tetap Aman
adainfo.id – Pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan suci Ramadan 2026, meskipun dengan skema distribusi yang disesuaikan.
Kebijakan ini diambil sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga pemenuhan gizi anak sekolah, sekaligus menghormati pelaksanaan ibadah puasa bagi peserta didik muslim.
Perubahan mekanisme ini menjadi sorotan publik karena menyangkut jutaan siswa di berbagai daerah.
Selama Ramadan, pola penyaluran MBG tidak lagi sepenuhnya berupa makanan siap santap di sekolah, melainkan disesuaikan dengan kondisi penerima manfaat.
Pemerintah menilai langkah ini diperlukan agar program tetap berjalan tanpa mengganggu aktivitas belajar maupun ibadah puasa.
Penyesuaian tersebut menimbulkan sejumlah catatan, terutama terkait teknis distribusi, daya tahan makanan, serta pengawasan mutu di lapangan.
Kompleksitas pelaksanaan di sekolah menjadi tantangan tersendiri, mengingat adanya perbedaan perlakuan antara siswa muslim dan non-Muslim.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa program MBG tidak dihentikan selama Ramadan.
Pemerintah hanya mengubah mekanisme penyaluran agar lebih relevan dengan situasi puasa.
“Pembagian MBG tetap berlanjut meski di bulan Ramadan. Hanya saja, mekanismenya berubah menyesuaikan situasinya,” kata Zulkifli Hasan dikutip, Sabtu (07/02/2026).
Menurut Zulkifli Hasan, kebijakan ini dirancang agar seluruh siswa tetap memperoleh manfaat program tanpa menimbulkan kendala dalam pelaksanaan ibadah.
Pemerintah memandang penting menjaga keberlangsungan program karena MBG merupakan salah satu agenda prioritas nasional di bidang pemenuhan gizi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Perbedaan Skema Distribusi untuk Siswa Muslim dan Non-Muslim
Dalam skema baru selama Ramadan, pemerintah menerapkan pola distribusi berbeda berdasarkan kelompok penerima.
Siswa muslim tidak lagi menerima makanan siap santap di sekolah, melainkan paket makanan kering yang dapat dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka puasa.
Sementara itu, siswa non-Muslim tetap menerima menu makanan siap santap seperti hari biasa.
“Di bulan Ramadan kan itu tidak semua siswa beragama Islam. Bagi yang beragama Islam akan diberikan makanan kering dan nanti disantap setelah berbuka puasa, yang beragama non-Muslim tetap mendapatkan menu makanan siap santap,” ujar Zulkifli Hasan.
Model distribusi ini dinilai lebih fleksibel bagi siswa muslim yang menjalankan puasa.
Namun di sisi lain, kebijakan tersebut berpotensi menambah kompleksitas teknis di tingkat sekolah.
Pengelola MBG harus melakukan pemilahan penerima berdasarkan agama, jenis menu, serta waktu konsumsi, yang berisiko menambah beban administrasi.
Selain itu, perbedaan menu dan pola distribusi selama Ramadan memunculkan tantangan tersendiri dalam implementasi di lapangan.
Sekolah dan penyedia layanan MBG harus memastikan tidak terjadi kesalahan distribusi, baik dari sisi sasaran penerima maupun jenis makanan yang diberikan.
Kemudian juga, risiko salah sasaran dan keterlambatan distribusi menjadi perhatian, terutama di sekolah dengan jumlah siswa besar dan latar belakang agama yang beragam.
Pengawasan ekstra dibutuhkan agar tidak terjadi ketimpangan pelayanan atau potensi kecemburuan sosial di lingkungan sekolah.
Klaim Ketahanan Makanan Menu Ramadan
Menanggapi kekhawatiran terkait daya tahan makanan, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyatakan bahwa menu MBG selama Ramadan telah dirancang khusus agar tahan lama dan tetap aman dikonsumsi setelah beberapa jam penyimpanan.
“Makanan tahan 12 jam. Dari mulai disiapkan sampai dikonsumsi pada saat buka (puasa),” kata Dadan.
BGN menyebut menu kering yang disalurkan telah melalui perhitungan teknis terkait ketahanan pangan, keamanan, serta nilai gizi.
Meski demikian, klaim ketahanan hingga 12 jam ini menuntut kontrol mutu yang ketat di seluruh rantai distribusi, mulai dari proses produksi, pengemasan, pengangkutan, hingga penyimpanan di sekolah atau rumah siswa.
BGN menyatakan bahwa skema penyaluran MBG selama Ramadan bukanlah hal baru. Pola serupa disebut telah diterapkan pada tahun sebelumnya.
Namun, pemerintah tidak memaparkan secara rinci hasil evaluasi dari pelaksanaan MBG saat Ramadan sebelumnya.
“Skema penyaluran saat Ramadan seperti tahun lalu,” tambahnya.
Daerah Non-Muslim Tetap Gunakan Skema Normal
Pemerintah memastikan bahwa perubahan mekanisme MBG selama Ramadan tidak berlaku di seluruh wilayah.
Untuk daerah dengan mayoritas penduduk non-Muslim, skema distribusi tetap berjalan normal seperti hari biasa, dengan makanan siap santap dibagikan di sekolah.
“Untuk daerah yang mayoritas tidak puasa, pelayanan normal,” kata Dadan.
Kebijakan ini menunjukkan pendekatan diferensial yang diterapkan pemerintah berdasarkan karakteristik wilayah dan komposisi penduduk.
Namun, hal ini juga menuntut koordinasi data yang akurat agar tidak terjadi kesalahan penerapan kebijakan di daerah perbatasan atau wilayah dengan keragaman tinggi.
Meski pemerintah menegaskan bahwa penyesuaian dilakukan agar program tetap berjalan tanpa mengganggu ibadah puasa, tantangan implementasi di lapangan menjadi faktor krusial.
Pengawasan mutu makanan, ketepatan distribusi, serta kesiapan sekolah dan penyedia layanan menjadi penentu efektivitas program selama Ramadan.
Program Makan Bergizi Gratis selama Ramadan 2026 akan menjadi ujian bagi sistem logistik dan pengelolaan pangan pemerintah.
Di tengah perubahan mekanisme distribusi, konsistensi kualitas dan ketepatan sasaran menjadi kunci agar tujuan utama program, yakni pemenuhan gizi anak sekolah, tetap tercapai.











