Stabilisasi Harga Daging, Ribuan Sapi Australia Masuk Jakarta

ARY
Ilustrasi sapi Australia didatangkan oleh Pemprov Jakarta untuk menjaga stok pangan. (Foto: Canva/Alexas_Fotos/Pixabay)

adainfo.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan pasokan daging sapi tetap aman menjelang Ramadan 2026 melalui impor sapi hidup asal Australia yang mulai tiba di Pelabuhan Tanjung Priok.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau langsung kedatangan sapi impor tersebut di Dermaga 101 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (23/02/2026), guna memastikan distribusi berjalan lancar dan harga tetap terkendali.

Langkah impor dilakukan sebagai strategi stabilisasi harga di tengah potensi lonjakan permintaan masyarakat selama bulan suci dan menjelang Idulfitri.

Pada tahap awal, sebanyak 3.139 ekor sapi telah tiba dari total target 7.500 ekor yang direncanakan masuk ke Jakarta dalam beberapa tahap pengiriman.

“Secara resmi, Pemerintah DKI Jakarta melalui Dharma Jaya mengimpor sapi dari Australia yang per hari ini sudah masuk kurang lebih 3.100 dari 7.500 yang direncanakan,” bebernya dikutip Selasa (24/02/2026).

Impor tersebut dilakukan melalui BUMD pangan milik Pemprov DKI, yakni Perumda Dharma Jaya, yang kembali melakukan impor sapi setelah 28 tahun lamanya.

Kerja Sama Australia dan Skema Sister City

Pramono menjelaskan bahwa kerja sama impor sapi dari Australia terwujud berkat hubungan sister city antara Jakarta dan sejumlah kota di Australia.

Skema tersebut membuka peluang kolaborasi di bidang pangan dan peternakan.

Langkah ini dinilai sebagai strategi diplomasi ekonomi yang berdampak langsung terhadap stabilitas pangan ibu kota.

Dengan jalur kerja sama resmi antarkota, proses impor dinilai lebih terukur dan memiliki kepastian pasokan.

Menurut Pramono, langkah ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan jangka pendek, melainkan bagian dari perencanaan sistem pangan yang lebih terintegrasi.

Ia meyakini, tambahan pasokan sapi hidup akan menjaga keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan daging di pasar Jakarta.

Hal ini penting terutama pada periode Ramadan dan Idulfitri ketika konsumsi masyarakat cenderung meningkat signifikan.

Pengendalian Inflasi Komoditas Strategis

Pramono menegaskan bahwa salah satu faktor utama inflasi di Jakarta terjadi menjelang Ramadan dan Idulfitri, terutama pada komoditas daging, cabai, dan beras.

Dengan masuknya sapi impor, Pemprov DKI berharap tekanan harga daging dapat ditekan sehingga tidak memberatkan masyarakat.

“Tapi Alhamdulillah tiga yang utama ini (daging, cabai, beras) mudah-mudahan di Jakarta tidak mengalami kenaikan yang signifikan,” ungkapnya.

Stabilisasi harga daging menjadi prioritas karena kebutuhan harian Jakarta mencapai sekitar 65 ton daging sapi atau kerbau per hari.

Pada hari besar keagamaan, kebutuhan ini biasanya meningkat sekitar empat persen.

Kenaikan permintaan tanpa intervensi pasokan berpotensi mendorong lonjakan harga.

Oleh sebab itu, impor sapi hidup dipilih sebagai langkah antisipatif untuk memastikan distribusi tetap lancar dan harga terkendali.

Stok Daging dan Sapi Hidup di Jakarta

Direktur Utama Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, menjelaskan bahwa kondisi stok daging di Jakarta saat ini masih berada pada level aman.

Ia menyebutkan stok daging yang tersedia mencapai 1.000 ton. Sementara itu, stok sapi hidup yang berada di fasilitas Dharma Jaya mencapai sekitar 1.500 ekor.

“Memang kalau untuk yang ini, saat ini kan kita turun 590 ekor, tapi stok di tempat kita itu sekarang ada 1.500-an. Jadi, itulah yang akan kita gunakan untuk Ramadan ini,” papar Raditya.

Dengan tambahan sapi impor yang masuk secara bertahap, Dharma Jaya memiliki cadangan yang cukup untuk menjaga suplai selama Ramadan dan menjelang Idulfitri.

Ketersediaan stok tersebut juga memberi ruang bagi pemerintah daerah untuk mengatur distribusi agar tidak terjadi kelangkaan di pasar tradisional maupun ritel modern.

Strategi Ketahanan Pangan Jangka Menengah

Selain memastikan pasokan jangka pendek, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan jangka menengah.

Salah satu rencana yang tengah diproses adalah pengelolaan lahan di Ciangir, Banten.

Lahan tersebut akan difungsikan sebagai pusat penyediaan pakan serta lokasi penggemukan sapi secara mandiri oleh Dharma Jaya.

“Mereka ingin mengelola tempat untuk rumput, supaya bisa dipakai untuk penggemukan sapi-sapi yang ada, tempatnya di Ciangir. Kami akan memproses untuk itu,” jelas Pramono.

Dengan sistem penggemukan mandiri, ketergantungan pada pasokan luar diharapkan dapat ditekan secara bertahap.

Strategi ini juga memungkinkan kontrol harga yang lebih stabil karena rantai produksi dan distribusi berada dalam pengelolaan langsung BUMD.

Pramono meyakini pengelolaan peternakan secara langsung akan memperkuat sistem pangan Jakarta.

Model ini dinilai mampu menciptakan efisiensi biaya sekaligus menjamin kualitas produk yang didistribusikan ke masyarakat.

Dampak terhadap Stabilitas Harga Ramadan 2026

Langkah impor sapi dan penguatan pengelolaan peternakan menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas harga selama Ramadan 2026.

Pemerintah daerah berupaya mengantisipasi lonjakan permintaan yang biasanya terjadi menjelang Idulfitri.

Dengan kebutuhan harian mencapai 65 ton dan potensi kenaikan sekitar empat persen pada periode hari besar keagamaan, tambahan pasokan dinilai menjadi kunci menjaga keseimbangan pasar.

Pemprov DKI Jakarta melalui Dharma Jaya menargetkan seluruh pengiriman sapi impor terealisasi sesuai rencana hingga mencapai 7.500 ekor.

Distribusi akan dilakukan secara bertahap agar suplai tetap stabil dan tidak menimbulkan gejolak harga.

Kunjungan langsung Gubernur ke Dermaga 101 Tanjung Priok menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mengawasi rantai pasok pangan secara langsung.

Mulai dari kedatangan hingga distribusi ke pasar, guna memastikan kebutuhan daging masyarakat tetap terpenuhi sepanjang Ramadan dan Idulfitri 2026.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *