Suhu Bumi Terus Naik, Berpotensi Sebabkan Cuaca Ekstrem dan Kemarau Panjang

ARY
Ilustrasi suhu bumi yang semakin naik. (Foto: Valentin Petrescu's Images)

adainfo.id – Pemanasan global dalam satu dekade terakhir tercatat mengalami percepatan signifikan dengan laju hampir dua kali lipat dibandingkan era 1970-an, mendorong kenaikan suhu bumi hingga 0,35 derajat celcius dan memperparah intensitas cuaca ekstrem di berbagai wilayah.

Kondisi tersebut menjadi sinyal kuat meningkatnya ancaman krisis iklim global yang kini mulai dirasakan secara nyata.

Mulai dari frekuensi hujan ekstrem hingga bencana hidrometeorologi yang semakin sulit diprediksi.

Menurut pakar klimatologi dari Fakultas Geografi UGM, Emilya Nurjani, peningkatan suhu global berdampak langsung pada mencairnya es di Kutub Utara yang berkontribusi terhadap kenaikan volume air laut.

Dampak lanjutan dari fenomena tersebut adalah berkurangnya ketinggian wilayah dataran rendah yang rentan terdampak kenaikan muka air laut, terutama di kawasan pesisir.

Kenaikan suhu bumi tidak hanya berdampak pada es kutub, tetapi juga meningkatkan potensi terjadinya berbagai bencana alam.

Suhu yang semakin tinggi memicu peningkatan penguapan air di permukaan bumi, yang pada akhirnya meningkatkan potensi pembentukan awan hujan.

Dalam kondisi tertentu, peningkatan ini justru memicu intensitas hujan ekstrem yang berujung pada banjir dan genangan di berbagai wilayah.

“Jika suhu udara makin tinggi menyebabkan suhu muka laut semakin tinggi, maka bentuk lainnya adalah siklon yang akan sering terjadi. Kalau siklon sering terjadi maka dampak berikutnya adalah banjir, kemudian misalnya angin kencang, kemudian juga perubahan tinggi lainnya,” papar Emilya dikutip Minggu (29/03/2026).

Fenomena siklon yang semakin sering terjadi menjadi indikator nyata bahwa perubahan iklim telah memasuki fase yang lebih berbahaya, terutama bagi negara-negara tropis seperti Indonesia.

Dampak Langsung terhadap Lingkungan dan Infrastruktur

Selain meningkatkan frekuensi bencana, suhu tinggi juga berdampak pada meningkatnya kejadian angin kencang yang berpotensi menimbulkan kerusakan fisik di lingkungan permukiman.

Emilya menjelaskan bahwa angin kencang yang terjadi akibat perubahan suhu dapat menyebabkan pohon tumbang hingga kerusakan pada atap rumah warga.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak secara global, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat sehari-hari.

Di sisi lain, peningkatan suhu juga mempercepat terjadinya musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal sebelumnya.

Hal ini menjadi ancaman serius bagi ketersediaan air dan keseimbangan ekosistem, terutama di wilayah yang bergantung pada siklus hujan musiman.

Tak hanya itu, perubahan pola musim akibat pemanasan global turut berdampak signifikan terhadap sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.

Musim kemarau yang lebih panjang menyebabkan berkurangnya ketersediaan air untuk irigasi, sehingga petani mengalami kesulitan dalam menentukan waktu tanam yang optimal.

“Karena kalau kemaraunya panjang maka akan berdampak pada sektor pertanian. Petani akan sulit untuk menanam padi, terutama di pola masa tanam yang ketiga,” bebernya.

Gangguan pada pola tanam ini berpotensi menurunkan produktivitas pertanian dan meningkatkan risiko gagal panen, yang pada akhirnya berdampak pada stabilitas pasokan pangan.

Selain itu, perubahan iklim juga dapat memicu munculnya hama dan penyakit tanaman yang lebih sulit dikendalikan, memperburuk kondisi sektor pertanian secara keseluruhan.

Penyebab dan Proses Terjadinya Pemanasan Global

Emilya menuturkan bahwa penyebab utama peningkatan suhu bumi adalah pemanasan global yang dipicu oleh aktivitas manusia, terutama penggunaan bahan bakar fosil.

Aktivitas tersebut menghasilkan gas rumah kaca yang meningkatkan kemampuan atmosfer dalam menyerap radiasi matahari, sehingga panas terperangkap di permukaan bumi.

“Nah suhu yang makin panas itu kemudian juga menimbulkan dampak kenaikan suhu terhadap permukaan bumi,” jelasnya.

Peningkatan suhu ini mempercepat proses evaporasi dan transpirasi, yang menyebabkan meningkatnya jumlah uap air di lapisan troposfer.

Ketika uap air semakin banyak, proses pembentukan awan menjadi lebih intensif dan meningkatkan peluang terjadinya hujan dengan intensitas tinggi.

Namun, dalam kondisi tertentu seperti saat pengaruh monsoon Australia, uap air justru tidak sepenuhnya jatuh sebagai hujan di wilayah Indonesia.

Fenomena ini terjadi karena pergerakan massa udara dari selatan ke utara yang hanya melintas tanpa menghasilkan curah hujan signifikan.

“Proses pembentukan awan pada saat musim kemarau itu menjadi berkurang sehingga kita mengalami musim kemarau,” ucapnya.

Upaya Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim

Menghadapi dampak pemanasan global yang semakin kompleks, diperlukan langkah mitigasi dan adaptasi yang terencana untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan.

Salah satu langkah yang disarankan adalah penerapan regulatory harvesting, yaitu upaya menangkap dan menyimpan air hujan dari atap rumah atau permukaan lainnya.

Langkah ini dinilai efektif untuk menjaga ketersediaan air, terutama saat musim kemarau panjang.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk lebih bijak dalam menggunakan air sesuai dengan kebutuhan dan fungsinya.

Penggunaan air tanah untuk kebutuhan domestik serta pemanfaatan air permukaan untuk keperluan lain menjadi salah satu strategi yang dapat diterapkan.

“Jadi air digunakan sesuai dengan fungsinya. Misal untuk kebutuhan air domestik kita bisa menggunakan air tanah, tetapi kalau misalnya untuk kebutuhan yang lain, maka kita bisa menggunakan air permukaan atau jenis air lainnya. Karena memang air tanah sendiri pun juga semuanya kan inputnya dari air hujan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *