Swasembada Bawang Putih Tak Cukup Soal Produksi, Harga Petani Jadi Penentu

ARY
Ilustrasi swasembada bawang putih. (Foto: Unsplash/team voyas)

adainfo.id – Upaya mewujudkan swasembada bawang putih kembali menguat sebagai bagian dari agenda besar ketahanan pangan nasional menuju 2029.

Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor, namun para pakar mengingatkan bahwa keberhasilan swasembada tidak dapat diukur semata dari sisi pasokan.

Selama bertahun-tahun, bawang putih menjadi salah satu komoditas pangan strategis yang sangat bergantung pada impor.

Ketergantungan ini membuat harga bawang putih domestik rentan bergejolak akibat perubahan kebijakan global, nilai tukar, hingga gangguan distribusi internasional.

Dalam konteks tersebut, pemerintah mengintensifkan berbagai program pengembangan produksi bawang putih nasional.

Namun, aspek keberlanjutan usaha tani dan kesejahteraan petani dinilai menjadi fondasi utama agar target swasembada tidak berhenti sebagai capaian jangka pendek.

Harga Jadi Faktor Penentu Minat Petani

Dari sudut pandang ekonomi pertanian, keputusan petani untuk menanam bawang putih sangat ditentukan oleh kepastian pendapatan.

Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Hani Perwitasari, menegaskan bahwa harga merupakan faktor kunci yang memengaruhi minat petani terhadap suatu komoditas.

Ketika harga dinilai tidak menjanjikan, risiko usaha tani dianggap terlalu besar untuk ditanggung, sehingga petani cenderung enggan menanam bawang putih meskipun ada dorongan program dari pemerintah.

“Paling penting agar petani mau mengembangkan suatu komoditas adalah harga, sehingga pemerintah perlu memastikan harga yang baik di tingkat petani,” tutur Hani dikutip Minggu (01/02/2026).

Hani menilai pengalaman pengembangan bawang putih pada periode sebelumnya menyimpan banyak pelajaran penting.

Salah satu kendala utama adalah ketidaktepatan waktu penyaluran bantuan input produksi, seperti benih dan sarana produksi lainnya.

Bantuan yang tidak datang sesuai dengan kalender tanam menyebabkan benih tidak segera ditanam, sehingga berdampak langsung pada produktivitas dan hasil panen petani.

“Bantuan yang datang tidak sesuai dengan waktu tanam membuat benih tidak segera ditanam dan akhirnya berdampak pada produksi,” jelasnya.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa perencanaan kebijakan perlu diselaraskan secara ketat dengan siklus pertanian di lapangan agar program benar-benar efektif.

Kepastian Pasar dan Risiko Usaha Tani

Selain persoalan harga dan waktu bantuan, kepastian pasar menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha tani bawang putih.

Petani membutuhkan jaminan penyerapan hasil panen agar tidak menghadapi ketidakpastian setelah masa produksi berakhir.

Menurut Hani, analisis pasar seharusnya dilakukan sejak awal agar petani memiliki gambaran jelas mengenai arah penjualan dan potensi pendapatan.

“Petani perlu jaminan pasar supaya tidak bingung menjual hasil panen, karena meskipun pembiayaan tersedia, mereka tetap menghadapi risiko seperti cuaca dan ketidakpastian hasil,” bebernya.

Risiko usaha tani bawang putih juga dipengaruhi oleh kesesuaian lokasi tanam, kondisi agroklimat, serta fluktuasi harga di pasar.

Tanpa mekanisme pengendalian, peningkatan produksi justru berpotensi menekan harga di tingkat petani.

Stabilitas Harga Jadi Kunci Swasembada

Hani menekankan bahwa produksi yang melimpah tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan petani apabila harga jatuh saat panen raya.

Oleh karena itu, stabilitas harga menjadi kunci utama agar petani tidak merugi dan tetap berminat menanam bawang putih pada musim berikutnya.

“Ketika produksi banyak, harga seharusnya tetap stabil sehingga hukum permintaan dan penawaran tidak serta-merta menjatuhkan harga di tingkat petani,” ungkapnya.

Dalam konteks ini, peran kebijakan pemerintah seperti pengaturan impor, subsidi, serta mekanisme penyangga harga menjadi sangat krusial untuk menjaga keseimbangan pasar.

Selain itu, kebijakan impor bawang putih juga dinilai memiliki dampak langsung terhadap dinamika harga di dalam negeri.

Hani mengingatkan bahwa pembukaan keran impor tanpa perhitungan berbasis data berisiko menekan harga produk lokal.

“Kalau keran impor dibuka sementara produksi dalam negeri sebenarnya mencukupi, harga akan turun dan kondisi ini membuat petani enggan menanam bawang putih,” ucapnya.

Ketidakhati-hatian dalam kebijakan impor berpotensi merusak kepercayaan petani terhadap program swasembada yang sedang dijalankan.

Dalam jangka panjang, keberhasilan swasembada bawang putih tidak hanya ditentukan oleh angka produksi, tetapi oleh keberlanjutan usaha tani dan kondisi ekonomi petani.

Produksi tinggi tanpa keuntungan yang layak akan sulit dipertahankan dan berisiko menurunkan minat tanam di musim berikutnya.

Hani menekankan pentingnya pendekatan berbasis data, kolaborasi multipihak, serta perhatian terhadap praktik pertanian berkelanjutan agar target swasembada dapat bertahan.

“Keberhasilan swasembada terlihat ketika petani merasa sejahtera, pendapatannya layak, dan usahanya bisa berlanjut secara berkelanjutan,” tutupnya.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *