Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Soroti Lambannya Perbaikan Jembatan Juara di Alun-alun Barat Depok
adainfo.id – Kerusakan Jembatan Juara di kawasan Taman Alun-alun dan Hutan Kota Wilayah Barat atau Taman Albar, Kota Depok, belum juga diperbaiki meski aksesnya telah ditutup sejak Desember 2025.
Kondisi tersebut memicu pertanyaan dari warga yang selama ini memanfaatkan jembatan sebagai akses utama menuju ruang terbuka hijau.
Hingga Maret 2026, belum terlihat adanya aktivitas perbaikan di lokasi, sementara jembatan tetap tertutup dan tidak dapat digunakan masyarakat.
Berdasarkan video yang diterima redaksi adainfo.id, seorang warga menjelaskan bahwa kerusakan terjadi pada bagian sling atau kabel penyangga tiang jembatan akibat pohon tumbang pada akhir tahun lalu.
Dampak dari insiden tersebut membuat struktur penyangga mengalami gangguan serius.
“Saya berada di Alun-alun Barat Kota Depok, tepatnya di sekitar jembatan. Pada Desember 2025 lalu terjadi kerusakan pada sling tiang jembatan akibat pohon tumbang. Namun sampai sekarang perbaikan belum juga dilaksanakan,” tuturnya dalam video tersebut dikutip Rabu (04/04/2026).
Ia menambahkan bahwa sejak pertama kali ditutup, bangunan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan segera diperbaiki.
“Sejak Desember 2025 hingga Maret 2026 ini, jembatan belum dibuka kembali dan belum ada perbaikan sama sekali,” katanya.
Akses Publik Terputus Sejak Akhir Tahun
Jembatan Juara memiliki peran strategis sebagai penghubung antara Jalan H. Kenan dan kawasan Taman Albar.
Dengan panjang sekitar 140 meter dan membentang di atas Situ Tujuh Muara, jembatan gantung tersebut menjadi salah satu ikon ruang publik di wilayah barat Kota Depok.
Sehari-hari, jembatan dimanfaatkan warga untuk berolahraga, berjalan santai, hingga menikmati pemandangan danau.
Sebagian pengunjung mengaku kehilangan salah satu titik favorit untuk beraktivitas di ruang terbuka hijau.
Maka dari itu, area ujung yang berada di dalam kawasan Taman Albar menjadi titik paling terdampak.
Dampak Hujan Lebat dan Pohon Tumbang
Kerusakan pada sling penyangga disebut dipicu oleh intensitas hujan tinggi yang melanda wilayah Depok pada akhir 2025.
Cuaca ekstrem saat itu menyebabkan pohon tumbang dan menghantam bagian struktur jembatan.
Akibatnya, kabel penyangga mengalami pergeseran yang memengaruhi kestabilan konstruksi.
Risiko keselamatan menjadi pertimbangan utama sehingga akses langsung ditutup sementara.
Penutupan dilakukan untuk mencegah potensi kecelakaan, mengingat jembatan gantung memiliki struktur yang sangat bergantung pada kekuatan kabel sling sebagai penopang utama.
Tinjauan Wali Kota dan Alokasi Anggaran
Sebelumnya, Wali Kota Depok, Supian Suri, telah meninjau langsung kondisi Jembatan Juara pada Sabtu (24/01/2026).
Dalam kunjungan tersebut, ia menegaskan pentingnya percepatan perbaikan demi keamanan masyarakat.
“Tadi saya sudah menghubungi Pak Sekda. Informasi yang saya dapat, anggaran sudah dialokasikan melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk memperbaiki kabel atau sling penyangga jembatan,” ujar Supian saat itu.
Pernyataan tersebut sempat memberi harapan bahwa proses perbaikan akan segera dimulai.
Belanja Tidak Terduga atau BTT umumnya digunakan untuk menangani kondisi darurat atau kebutuhan mendesak yang tidak terencana sebelumnya dalam anggaran rutin.
Ia menekankan bahwa aspek keselamatan menjadi prioritas sebelum jembatan kembali dibuka untuk umum.
“Mudah-mudahan secepat-cepatnya bisa kita perbaiki,” kata Supian.
Namun hingga memasuki Maret 2026, belum terlihat adanya aktivitas konstruksi di lokasi.
Warga mempertanyakan progres realisasi anggaran yang telah disebutkan sebelumnya.
Sorotan Warga dan Harapan Percepatan
Warga berharap pemerintah segera merealisasikan perbaikan agar akses publik kembali normal.
Penutupan yang terlalu lama dinilai berdampak pada kenyamanan pengunjung taman serta citra pengelolaan ruang publik.
Selain sebagai sarana rekreasi, jembatan tersebut juga memiliki nilai simbolik sebagai ikon kawasan Taman Albar.
Dengan desain gantung yang membentang di atas danau, Jembatan Juara kerap menjadi latar foto dan aktivitas komunitas.
Warga juga menyoroti pentingnya perawatan rutin terhadap infrastruktur publik, terutama yang berada di ruang terbuka dan rentan terhadap cuaca ekstrem.
Inspeksi berkala dinilai dapat mencegah kerusakan meluas dan mempercepat penanganan jika terjadi gangguan struktural.
Tantangan Infrastruktur Ruang Terbuka Hijau
Kasus Jembatan Juara mencerminkan tantangan pengelolaan infrastruktur di ruang terbuka hijau perkotaan.
Faktor cuaca, usia bangunan, serta potensi gangguan eksternal seperti pohon tumbang menjadi risiko yang harus diantisipasi secara sistematis.
Pengelolaan taman kota tidak hanya sebatas penataan lanskap, tetapi juga mencakup pemeliharaan fasilitas pendukung seperti jembatan, jalur pedestrian, dan sarana olahraga.
Kerusakan yang berlarut-larut tanpa perbaikan dapat memengaruhi persepsi publik terhadap kualitas layanan pemerintah daerah.
Apalagi, jembatan tersebut termasuk fasilitas yang relatif baru dan menjadi kebanggaan warga.
Warga yang datang ke Taman Albar hanya dapat melihat struktur jembatan dari kejauhan tanpa bisa melintasinya.
Situasi ini terus menjadi perhatian masyarakat yang berharap janji percepatan perbaikan segera terealisasi.
Sehingga akses penghubung di atas Situ Tujuh Muara dapat kembali dimanfaatkan secara aman dan nyaman oleh seluruh pengunjung taman kota tersebut.











