TNI Janji Tak Tinggalkan Keluarga Prajurit yang Gugur, Semua Hak Dijamin

AZL
Pemakaman prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon. (Foto: Kemhan)

adainfo.id – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak memastikan seluruh hak tiga prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon dipenuhi oleh negara.

Ia juga menegaskan keluarga yang ditinggalkan akan tetap menjadi bagian dari keluarga besar TNI.

“TNI AD juga akan memastikan seluruh hak-hak para prajurit yang gugur dipenuhi, dan kami juga akan terus mendampingi keluarga yang ditinggalkan,” ungkapnya dikutip, Senin (06/04/2026).

Menurutnya, pengorbanan para prajurit menjadi pengingat bahwa setiap penugasan militer selalu mengandung risiko besar dan menuntut ketulusan demi bangsa serta misi kemanusiaan.

Meski demikian, hal tersebut tidak akan mengurangi komitmen TNI dan TNI AD untuk terus berkontribusi dalam misi perdamaian dunia.

Semangat, dedikasi, dan keberanian para prajurit yang gugur, lanjutnya, harus menjadi teladan bagi seluruh prajurit di mana pun berada dan bertugas.

Dimakamkan di Tiga Daerah Berbeda

Tiga prajurit TNI yang gugur dalam misi penjaga perdamaian dunia dimakamkan di lokasi berbeda sesuai dengan daerah masing-masing.

Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Jawa Barat.

Sementara Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri Dharmoloyo II, Magelang.

Adapun Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giripeni, Kulonprogo.

Pemakaman dilakukan secara militer sebagai bentuk penghormatan negara atas jasa dan pengabdian para prajurit yang gugur dalam menjalankan mandat internasional menjaga perdamaian dunia.

Pemakaman Militer Mayor Zulmi

Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menghadiri upacara pemakaman militer Mayor Inf Anumerta Zulmi Aditya Iskandar di Taman Makam Pahlawan Cikutra.

Upacara berlangsung khidmat sebagai penghormatan terakhir bagi prajurit yang gugur saat menjalankan misi perdamaian dunia.

Prosesi tersebut dipimpin langsung oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto selaku inspektur upacara.

Suasana haru menyelimuti lokasi saat jenazah perlahan diturunkan ke liang lahat, diiringi tembakan salvo sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi prajurit korps baret merah tersebut.

Almarhum Mayor Zulmi merupakan perwira dari Satuan Grup 2 Kopassus yang dinyatakan gugur saat menjalankan tugas negara dalam Satgas United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon pada Senin, (30/03/2026).

Ia merupakan lulusan Akademi Militer 2015 yang dikenal memiliki dedikasi tinggi dalam setiap penugasan.

Sejumlah tanda kehormatan turut disematkan kepada almarhum, diantaranya Satya Lencana Santi Dharma dan Veteran Perdamaian RI.

Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam misi menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.

Dalam amanat Apel Persada, Panglima TNI menyampaikan penghormatan tertinggi atas dharma bakti almarhum kepada negara dan bangsa.

“Atas nama negara, bangsa, dan TNI, kami mempersembahkan ke persada ibu pertiwi jiwa raga dan jasa-jasa almarhum. Semoga jalan darma bakti yang ditempuhnya menjadi suri teladan bagi kita semua,” ujar Panglima TNI.

Penghormatan Terakhir dan Sikap Pemerintah

Upacara pemakaman diakhiri dengan prosesi tabur bunga serta penghormatan terakhir oleh seluruh jajaran.

Prosesi tersebut menjadi simbol penghargaan atas dedikasi tanpa batas almarhum dalam menjaga kedaulatan dan nama baik Indonesia di kancah internasional.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memberikan penghormatan terakhir kepada tiga prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian dunia bersama UNIFIL di Lebanon

Prabowo juga mengecam keras tindakan yang menyebabkan gugurnya prajurit TNI saat bertugas sebagai pasukan perdamaian di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Kami, saudara-saudara sebangsa dan setanah air, mengecam keras setiap tindakan keji yang merusak perdamaian dan menyebabkan gugurnya para prajurit terbaik bangsa,” ungkapnya.

Pemerintah menegaskan pentingnya jaminan keamanan bagi pasukan penjaga perdamaian Indonesia di berbagai wilayah penugasan.

Insiden tersebut menjadi pengingat perlunya perlindungan maksimal bagi prajurit yang bertugas di wilayah konflik.

Hal tersebut sekaligus juga dapat mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan pasukan penjaga perdamaian agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *