TOD Jadi Strategi Baru Pembangunan Perkotaan, Begini Penjelasannya
adainfo.id – Pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) kian menguat sebagai pendekatan strategis dalam menjawab tantangan urbanisasi di kota-kota besar.
Konsep ini tidak lagi dipandang sebatas integrasi moda transportasi, melainkan sebagai kerangka pembangunan kawasan yang menyatukan mobilitas, hunian, pusat ekonomi, serta ruang publik dalam satu ekosistem perkotaan yang saling terhubung.
Di Jakarta, pendekatan TOD menjadi bagian dari transformasi tata kota untuk menekan ketergantungan pada kendaraan pribadi, sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dikabarkan tengah menyiapkan pengembangan TOD baru di kawasan Cawang, Jakarta Timur, serta Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Rencana ini melengkapi jaringan TOD yang telah lebih dahulu berkembang di sepanjang koridor MRT Jakarta dan simpul-simpul transportasi utama ibu kota.
Staf Khusus Gubernur Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Kota, Nirwono Joga, mengungkapkan bahwa pengembangan kawasan transit tersebut masih berada dalam tahap persiapan.
Meski demikian, kedua lokasi dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat aktivitas baru berbasis transportasi publik.
“Ada beberapa yang sedang dalam persiapan, seperti Cawang dan juga ada Pasar Baru,” kata Nirwono dikutip Selasa (10/02/2026).
Menurutnya, kawasan TOD dirancang tidak hanya sebagai titik perpindahan moda, tetapi juga sebagai penggerak aktivitas perkotaan dan simpul pertumbuhan ekonomi baru.
Dengan perencanaan yang matang, TOD diharapkan mampu menghidupkan kawasan sekitar stasiun atau halte utama, baik dari sisi sosial maupun ekonomi.
Mobilitas Publik Jadi Tulang Punggung Kawasan
Salah satu tujuan utama pengembangan TOD adalah mendorong pergeseran pola mobilitas warga dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.
Dengan menempatkan hunian, perkantoran, pusat perbelanjaan, dan fasilitas umum dalam jarak berjalan kaki dari simpul transportasi, kebutuhan perjalanan dapat ditekan secara signifikan.
Konsep TOD menempatkan pejalan kaki dan pengguna angkutan umum sebagai prioritas utama.
Elemen seperti jalur pedestrian yang aman dan nyaman, konektivitas antar-moda, serta kepadatan bangunan campuran menjadi ciri khas kawasan ini.
Melalui pendekatan tersebut, pergerakan warga menjadi lebih efisien, waktu tempuh dapat dipangkas, dan emisi kendaraan bermotor berpotensi ditekan.
Di kawasan seperti Cawang yang telah menjadi titik temu berbagai moda, mulai dari KRL Commuter Line, LRT Jabodebek, hingga Transjakarta, pengembangan TOD diproyeksikan memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan beban lalu lintas di Jakarta Timur dan sekitarnya.
Dampak Ekonomi Kawasan Transit
Selain aspek mobilitas, TOD juga dinilai memiliki efek ganda terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan.
Arus penumpang yang tinggi di sekitar simpul transportasi menciptakan potensi pasar yang besar bagi pelaku usaha.
Sektor ritel, kuliner, jasa, hingga properti dapat tumbuh seiring meningkatnya aktivitas manusia di kawasan tersebut.
Pengalaman dari sejumlah TOD yang telah dikembangkan menunjukkan bahwa nilai lahan dan properti di sekitar stasiun cenderung meningkat.
Namun, pemerintah daerah juga dihadapkan pada tantangan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan aksesibilitas bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Nirwono menilai bahwa TOD yang dirancang dengan prinsip inklusif dapat menjadi solusi.
Hunian terjangkau, ruang publik yang terbuka, serta akses transportasi yang mudah diharapkan mampu menciptakan kawasan yang hidup tanpa menyingkirkan warga lama.
“Harapannya, nanti semakin banyak TOD-TOD yang dikembangkan, ini menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi,” ujar Nirwono.
Revitalisasi Pasar Baru dengan Pendekatan Transit
Di sisi lain, rencana pengembangan TOD Pasar Baru juga diarahkan untuk mendukung revitalisasi kawasan bersejarah di Jakarta Pusat.
Pasar Baru dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan tertua di ibu kota, namun dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan aktivitas ekonomi.
Pemprov DKI Jakarta menyiapkan pendekatan kawasan transit untuk menghidupkan kembali Pasar Baru.
Rencana tersebut mencakup penambahan trayek Transjakarta, perbaikan jalur pedestrian, penataan fasilitas parkir, serta peningkatan konektivitas dengan simpul transportasi di sekitarnya.
Pendekatan ini diharapkan mampu menarik kembali arus pengunjung, baik warga lokal maupun wisatawan.
Dengan integrasi transportasi publik yang lebih baik, Pasar Baru diproyeksikan menjadi destinasi belanja dan wisata urban yang mudah dijangkau tanpa kendaraan pribadi.
Selain itu, TOD dinilai dapat membantu membentuk struktur kota yang lebih padat namun efisien.
Pembangunan yang terpusat di sekitar simpul transportasi memungkinkan penyediaan infrastruktur yang lebih terukur, sekaligus menekan biaya layanan publik seperti jalan, drainase, dan utilitas.
Dengan pola tersebut, perluasan kota yang tidak terkendali atau urban sprawl dapat diminimalkan.
Kota menjadi lebih kompak, jarak tempuh warga lebih pendek, dan kualitas lingkungan dapat ditingkatkan melalui pengurangan emisi serta optimalisasi ruang hijau.
Di Jakarta, pendekatan TOD telah diterapkan di sejumlah titik strategis sepanjang jalur MRT Jakarta.
Kawasan seperti Lebak Bulus, Fatmawati, Blok M, Dukuh Atas, Bundaran HI, hingga Kota Tua dikembangkan sebagai area campuran yang mengintegrasikan hunian, komersial, dan ruang publik dengan akses langsung ke stasiun.
Integrasi Hunian, Ekonomi, dan Ruang Publik
Pengembangan TOD tidak hanya berfokus pada transportasi, tetapi juga pada penciptaan ruang hidup yang berkualitas.
Kawasan transit dirancang agar warga dapat bekerja, berbelanja, berinteraksi, dan beristirahat dalam satu lingkungan yang terhubung.
Ruang publik seperti taman kota, plaza, dan jalur pedestrian menjadi bagian penting dari konsep ini.
Keberadaan ruang terbuka dinilai mampu meningkatkan interaksi sosial dan kesehatan mental warga, sekaligus memperkuat identitas kawasan.
Dengan pendekatan tersebut, TOD diharapkan tidak lagi dipersepsikan sebagai kawasan beton yang padat, melainkan sebagai lingkungan perkotaan yang humanis dan berkelanjutan.
Meski menjanjikan banyak manfaat, pengembangan TOD di Jakarta juga menghadapi sejumlah tantangan.
Koordinasi lintas sektor, penyesuaian regulasi tata ruang, serta pembiayaan menjadi isu yang perlu diantisipasi sejak awal.
Selain itu, keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan dinilai penting agar pengembangan kawasan tidak memicu konflik sosial.
Transparansi dan partisipasi publik diharapkan dapat memastikan TOD berkembang sesuai kebutuhan warga dan karakter lokal.
Dengan terus bertambahnya titik TOD, Jakarta diarahkan untuk membangun jaringan kawasan transit yang saling terhubung.
Pendekatan ini diharapkan mampu menjadikan kawasan transit bukan sekadar titik perpindahan moda, tetapi mesin pertumbuhan kota yang menghubungkan mobilitas, ekonomi, dan kualitas ruang hidup warga dalam satu ekosistem perkotaan yang berkelanjutan.











