UMKM Jadi Penopang Ekonomi Depok, Kontribusi Capai 60 Persen
adainfo.id – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) disebut menyumbang hingga 60 persen terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Depok, sekaligus menjadi sektor paling tangguh saat menghadapi tekanan krisis global maupun regional.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (DKUM) Kota Depok, Mohammad Thamrin, dalam acara buka puasa bersama BPC Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Depok, Rabu (04/03/2026).
Menurut Thamrin, sektor UMKM memiliki karakteristik unik yang membuatnya mampu bertahan di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu.
Struktur usaha yang fleksibel, penggunaan bahan baku lokal, serta jangkauan pasar yang menyasar kebutuhan harian masyarakat menjadi faktor utama ketahanan tersebut.
UMKM Jadi Penopang Saat Pandemi
Thamrin mengingatkan kembali situasi ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia.
Saat banyak sektor usaha besar mengalami perlambatan bahkan berhenti beroperasi, sektor mikro justru tetap bergerak memenuhi kebutuhan masyarakat.
“UMKM ini yang membawahi adalah sektor usaha mikro, yang modal asetnya nggak lebih dari Rp2 miliar. Kemudian sasarannya hampir 90 persen masyarakat sehari-hari. Pasien Covid-19 butuh makan, tapi nggak bisa pergi ke mana-mana. Maka dari itu, UMKM sudah siap. Sehingga UMKM nggak dapat dampak dari Covid-19,” katanya.
Ia menilai, karakter usaha mikro yang dekat dengan kebutuhan dasar masyarakat membuat sektor ini tetap memiliki permintaan pasar meskipun mobilitas terbatas.
Pelaku UMKM mampu memanfaatkan momentum dengan mengoptimalkan distribusi berbasis lingkungan sekitar dan layanan pesan antar.
Strategi adaptif tersebut dinilai menjadi bukti bahwa UMKM tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga mampu bertransformasi sesuai kebutuhan zaman.
Fleksibilitas dan Inovasi Jadi Kunci
Menurut Thamrin, kekuatan UMKM terletak pada kemampuannya menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahan.
Skala usaha yang relatif kecil memungkinkan pengambilan keputusan dilakukan secara lebih lincah tanpa prosedur panjang.
Ia menjelaskan bahwa ketahanan UMKM bukan semata-mata soal bertahan hidup dalam kondisi sulit, melainkan bagaimana pelaku usaha mampu bertindak responsif dan inovatif.
Perubahan pola konsumsi masyarakat yang terjadi secara mendadak selama pandemi, misalnya, direspons dengan inovasi produk serta pemanfaatan teknologi digital.
Banyak pelaku usaha mikro mulai memasarkan produknya melalui media sosial dan platform daring untuk menjangkau konsumen lebih luas.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa daya saing UMKM dapat terus tumbuh jika didukung dengan kebijakan yang tepat dan ekosistem yang kondusif.
Kontribusi 60 Persen bagi Ekonomi Daerah
Dalam kesempatan tersebut, Thamrin mengungkapkan bahwa sektor UMKM telah berkontribusi hingga 60 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Depok.
Angka ini dinilai sangat signifikan, mengingat perhatian pembangunan selama ini lebih banyak diarahkan pada sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
“Bayangkan itu saja belum disentuh sudah mencapai angka 60 persen, karena selama ini kita sering menyentuhnya di sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur,” tambahnya.
Ia menilai, jika sektor UMKM mendapatkan perhatian lebih besar dalam kebijakan dan alokasi anggaran, potensi pertumbuhannya dapat meningkat lebih tinggi lagi.
Dukungan tersebut bisa berupa kemudahan perizinan, akses pembiayaan, pelatihan peningkatan kapasitas, hingga perluasan akses pasar.
Kontribusi besar UMKM terhadap ekonomi daerah juga berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja.
Banyak pelaku usaha mikro yang mempekerjakan warga sekitar sehingga membantu menekan angka pengangguran.
Dorongan Kebijakan Pro UMKM
Dalam forum yang turut dihadiri Ketua Komisi B DPRD Kota Depok, H. Hamzah, Thamrin berharap adanya dukungan kebijakan yang lebih berpihak pada sektor ekonomi, khususnya UMKM.
Kehadiran unsur legislatif dinilai penting untuk memperkuat sinergi antara eksekutif dan DPRD dalam merumuskan kebijakan yang mendukung pelaku usaha mikro.
Menurutnya, penguatan sektor UMKM dapat menjadi solusi strategis untuk menekan angka kemiskinan dan pengangguran di Kota Depok.
Dengan memperluas kesempatan usaha dan meningkatkan daya saing produk lokal, pertumbuhan ekonomi daerah diharapkan lebih merata dan berkelanjutan.
Ia menekankan bahwa sektor ekonomi rakyat harus menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah.
Ketahanan ekonomi tidak hanya bergantung pada investasi besar, tetapi juga pada kekuatan usaha kecil yang tersebar di berbagai wilayah.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Meski menunjukkan kontribusi signifikan, sektor UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan.
Akses terhadap permodalan menjadi salah satu kendala klasik yang sering dikeluhkan pelaku usaha mikro.
Selain itu, peningkatan kualitas produk dan daya saing juga perlu terus didorong agar mampu menembus pasar yang lebih luas, termasuk pasar nasional dan internasional.
Transformasi digital menjadi peluang sekaligus tantangan. Pelaku UMKM perlu didorong untuk memanfaatkan teknologi dalam manajemen usaha, pemasaran, hingga pencatatan keuangan agar lebih profesional dan berkelanjutan.
Pemerintah daerah melalui DKUM diharapkan terus memperkuat program pembinaan dan pendampingan.
Dengan dukungan tersebut, pelaku UMKM dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas produknya.
Peran organisasi pengusaha seperti HIPMI juga dinilai strategis dalam menciptakan kolaborasi antara pengusaha muda dan pelaku usaha mikro.
Sinergi ini dapat membuka peluang kemitraan, akses pasar, serta transfer pengetahuan bisnis.
Sektor UMKM selama ini telah menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
Aktivitas bisnis yang tersebar di berbagai sektor, mulai dari kuliner, perdagangan, jasa, hingga industri kreatif, membentuk ekosistem ekonomi yang dinamis.
Ke depan, penguatan UMKM diharapkan tidak hanya berdampak pada pertumbuhan angka ekonomi semata, tetapi juga menciptakan pemerataan kesejahteraan di tengah masyarakat.
Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan kolaborasi berbagai pihak, sektor ini diyakini mampu terus menjadi motor penggerak ekonomi daerah di tengah dinamika global yang terus berubah.











