Virus Nipah Jadi Sorotan, Akademisi Dorong Kewaspadaan Nasional

ARY
Ilustrasi penularan virus Nipah dari kelelawar ke hewan dan manusia. (Foto: Pexels/Mark Thomas)

adainfo.id – Merebaknya kasus infeksi virus Nipah di India kembali mengingatkan dunia pada ancaman penyakit zoonosis yang berpotensi memicu krisis kesehatan lintas negara.

Virus yang dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi ini menjadi perhatian serius, termasuk bagi Indonesia yang memiliki lalu lintas perjalanan internasional serta interaksi manusia-hewan yang cukup intens.

Pemerintah pun merespons perkembangan tersebut dengan memperkuat sistem pengawasan dan pencegahan di berbagai pintu masuk negara.

Langkah antisipatif dilakukan melalui pengetatan pemantauan pelaku perjalanan dari luar negeri, khususnya dari wilayah yang melaporkan kasus infeksi.

Selain itu, pengawasan terhadap alat angkut dan barang impor di pelabuhan serta bandara juga diperketat untuk meminimalkan risiko masuknya virus ke dalam negeri.

Upaya ini menjadi bagian dari kewaspadaan dini mengingat virus Nipah tergolong penyakit menular dengan dampak klinis yang serius.

Virus Nipah diketahui merupakan patogen yang ditularkan melalui kelelawar buah sebagai reservoir alaminya.

Penularan ke manusia umumnya terjadi melalui hewan perantara yang terinfeksi, seperti babi dan kuda.

Selain itu, dalam kondisi tertentu, virus ini juga dapat menyebar melalui kontak erat antarmanusia, sehingga meningkatkan potensi wabah di lingkungan padat penduduk.

Karakteristik dan Bahaya Virus Nipah

Virus Nipah termasuk dalam kelompok virus zoonosis yang dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan penyakit berat pada manusia.

Manifestasi klinis infeksi Nipah sangat beragam, mulai dari gejala ringan hingga komplikasi berat seperti ensefalitis atau radang otak, serta gangguan pernapasan akut yang dapat berujung pada kematian.

Dosen mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), drh. M. Th. Khrisdiana Putri, menjelaskan bahwa pada hewan seperti babi dan kuda, infeksi virus Nipah kerap menimbulkan gejala pernapasan dan gangguan saraf.

“Kalau pada manusia, dampaknya memang lebih fatal karena biasanya kematian terjadi akibat ensefalitis atau radang otak,” tutur Khrisdiana dikutip dari laman UGM, Minggu (08/02/2026).

Menurutnya, karakter virus Nipah yang mematikan inilah yang membuat setiap laporan kasus selalu memicu kewaspadaan tinggi di berbagai negara.

Penanganan tidak hanya difokuskan pada sektor kesehatan manusia, tetapi juga kesehatan hewan dan lingkungan.

Faktor Musiman dan Peran Kelelawar

Khrisdiana menambahkan bahwa virus Nipah bersifat musiman atau seasonal.

Aktivitas dan tingkat penularan virus ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, termasuk faktor stres dan kelaparan pada kelelawar buah sebagai inang alaminya.

Ia mencontohkan, ketika sumber pakan alami di habitat hutan, seperti nira atau buah-buahan, berkurang akibat perubahan lingkungan, maka risiko penularan virus ke hewan lain atau manusia dapat meningkat.

Dalam kondisi tersebut, virus menjadi lebih aktif dan mudah berpindah inang.

Kondisi inilah yang menjadi perhatian dalam konteks perubahan ekosistem dan interaksi manusia dengan alam.

Pembukaan lahan, perubahan pola pertanian, hingga aktivitas ekonomi di sekitar habitat kelelawar dinilai dapat berkontribusi terhadap meningkatnya risiko zoonosis.

Regulasi dan Pencegahan di Sektor Peternakan

Dalam upaya pencegahan, pemerintah telah menerapkan sejumlah regulasi untuk meminimalkan risiko penularan virus Nipah.

Salah satu kebijakan yang disoroti Khrisdiana adalah larangan peternakan babi berada dekat dengan perkebunan nira, yang kerap menjadi sumber pakan kelelawar.

Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah awal yang penting dalam memutus rantai penularan dari kelelawar ke hewan ternak.

“Dengan adanya peraturan tersebut, penataan peternakan diharapkan dapat lebih mendukung pencegahan penularan dari kelelawar ke babi,” terang Khrisdiana.

Selain pengaturan lokasi peternakan, ia juga menyoroti kebiasaan konsumsi nira segar yang diminum langsung tanpa proses pengolahan.

Praktik ini dinilai berisiko karena nira dapat terkontaminasi virus dari air liur atau kotoran kelelawar.

Menurutnya, nira sebaiknya melalui perlakuan terlebih dahulu, seperti pasteurisasi atau pemanasan, sebelum dikonsumsi.

“Di sektor peternakan, kesadaran menjaga jarak kandang dari kebun nira serta penerapan desinfeksi kandang menjadi hal penting,” beber Khrisdiana.

Khrisdiana juga menekankan bahwa virus Nipah tergolong lemah di lingkungan luar inang.

Virus ini tidak mampu bertahan lama di luar tubuh makhluk hidup, sehingga penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi salah satu langkah pencegahan yang efektif.

Ia menilai kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar, serta menjaga kebersihan lingkungan dapat menurunkan risiko penularan.

“Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan, mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar, dan menjaga keseimbangan dengan alam adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Pada akhirnya, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri,” terang Khrisdiana.

Ancaman Penularan Antarmanusia

Meski virus Nipah berkembang dan menular di antara hewan, potensi penyebaran ke manusia tetap menjadi perhatian utama.

Dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH UGM, drh. Heru Susetya, menuturkan bahwa secara epidemiologis, kelelawar telah lama diketahui sebagai reservoir virus Nipah.

Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap wabah ini sebagai penyakit zoonosis dinilai sangat penting dan harus dicermati secara serius.

“Kekhawatiran kami dari sisi penyakit adalah kemungkinan terjadinya penularan antarmanusia, dan itu sudah terjadi, sudah ada buktinya,” papar Heru.

Ia menjelaskan bahwa sejarah kemunculan virus Nipah pertama kali tercatat di wilayah Nipah, Malaysia, dengan pola penularan klasik dari kelelawar ke babi, lalu ke manusia.

Namun, pada kasus di Bangladesh dan India, pola penularan dilaporkan terjadi langsung dari kelelawar ke manusia.

Menurut Heru, perbedaan pola ini dipengaruhi oleh faktor budaya dan kebiasaan masyarakat, termasuk konsumsi nira mentah yang tidak ditangani dengan baik.

“Selain itu, ada juga penularan dari manusia ke manusia. Itulah yang menjadi kekhawatiran kami dari segi penyakit,” ucap Heru.

Pentingnya Sistem Peringatan Dini di Indonesia

Di Indonesia, Heru menilai seharusnya telah tersedia sistem peringatan dini atau early warning system untuk mendeteksi berbagai penyakit zoonosis, termasuk virus Nipah.

Sistem ini penting agar setiap temuan gejala klinis yang mencurigakan dapat segera dilaporkan dan ditindaklanjuti oleh otoritas terkait.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat, tenaga kesehatan, serta pelaku usaha peternakan menjadi kunci dalam efektivitas sistem tersebut.

“Itulah mengapa Nipah menjadi perhatian pemerintah. Harapannya, siapa pun yang mengetahui gejalanya dapat segera melaporkan. Peringatan dini menjadi kunci utama,” ungkap Heru.

Ia juga menegaskan bahwa solusi menghadapi ancaman virus Nipah bukan dengan menyalahkan atau memusnahkan kelelawar.

Melainkan dengan menghindari kontak langsung dan meningkatkan kewaspadaan sejak dini.

Langkah sederhana seperti segera melaporkan jika terdapat hewan ternak, khususnya babi, yang menunjukkan gejala klinis tidak biasa dinilai sangat krusial.

“Upaya ini diharapkan mampu mencegah penularan lebih lanjut, meskipun tetap bergantung pada pola penyebaran virus,” tukas Heru.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *