Menjaga Warisan Depok, Sumur Tujuh Beji Butuh Sentuhan Nyata Pemerintah

AZL
Situs Sumur Tujuh Beji di Kota Depok yang menjadi cagar budaya dengan nilai sejarah dan spiritual masyarakat. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Situs cagar budaya Sumur Tujuh Beji di Kota Depok dinilai masih membutuhkan perhatian lebih serius dari pemerintah daerah, terutama dalam upaya pelestarian dan penataan kawasan bersejarah tersebut.

Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kota Depok, keberadaan situs ini kembali menjadi sorotan karena dinilai memiliki nilai historis, budaya, dan spiritual yang tinggi, namun belum dikelola secara optimal.

Sumur Tujuh Beji ini menjadi salah satu peninggalan sejarah penting yang masih bertahan di tengah pesatnya pembangunan kota.

Situs ini tidak hanya dikenal sebagai sumber air yang unik, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan tradisi masyarakat setempat.

Perkembangan infrastruktur di Kota Depok yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan perhatian terhadap pelestarian situs budaya.

Keberadaan Sumur Tujuh Beji kerap luput dari prioritas penataan, padahal situs ini memiliki potensi besar sebagai aset budaya dan wisata sejarah.

Muhammad Satiri, salah satu pengurus Sumur Tujuh Beji ke-1, menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada langkah konkret dari pemerintah kota dalam melakukan penataan menyeluruh terhadap kawasan tersebut.

“Ya, Alhamdulillah sampai sekarang dari Pemkot Depok sendiri belum ada yang sampai ke sini. Kan situs-situs budaya seperti ini butuh perhatian yang serius dan berkelanjutan, khususnya dari pemerintah kota sama dinas pariwisata kota, supaya tetap lestari,” ujarnya saat ditemui, Selasa (14/04/2026).

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa tanpa pengelolaan yang baik, situs bersejarah tersebut dapat mengalami penurunan kualitas, baik dari sisi fisik maupun nilai budayanya.

Warisan Sejarah yang Sarat Nilai Spiritual

Sumur Tujuh Beji tidak hanya dikenal sebagai situs sejarah, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang kuat di kalangan masyarakat.

Keberadaan sumur-sumur tersebut dikaitkan dengan tokoh penyebar Islam di Depok, yakni Mbah Raden Ujud Beji.

Dalam cerita yang berkembang, sumur tersebut muncul sebagai jawaban atas doa untuk menghadirkan sumber air di wilayah yang mengalami kekeringan.

Hingga kini, air dari sumur-sumur tersebut terus mengalir tanpa henti, bahkan pada musim kemarau.

Fenomena ini menjadikan Sumur Tujuh sebagai simbol keberkahan sekaligus warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat setempat.

Pengurus juga secara rutin melakukan perawatan, termasuk pengurasan sumur yang biasanya dilakukan menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari pemeliharaan fisik, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap nilai sejarah dan spiritual yang terkandung di dalamnya.

Potensi Wisata Sejarah dan Religi

Selain nilai historis dan spiritual, Sumur Tujuh Beji juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan religi.

Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari wilayah sekitar, tetapi juga dari luar daerah hingga mancanegara.

“Banyak yang datang, dari Belanda, Mesir, sampai Arab Saudi,” kata Satiri.

Kehadiran wisatawan dari berbagai negara menunjukkan bahwa situs ini memiliki daya tarik yang tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga internasional.

Ketujuh sumur tersebut tersebar di beberapa titik di wilayah Beji, mulai dari sekitar PLN Beji, Stadion Merpati, hingga kawasan Kampung Keramat dekat Masjid Nurussalam.

Sebaran lokasi ini menunjukkan bahwa Sumur Tujuh bukan hanya satu titik, melainkan sebuah kawasan budaya yang memiliki nilai historis luas.

Jika dikelola dengan baik, kawasan ini berpotensi menjadi salah satu destinasi unggulan di Kota Depok yang dapat menarik lebih banyak wisatawan.

Pentingnya Sinergi Pemerintah dan Masyarakat

Dalam upaya pelestarian situs budaya, peran pemerintah dan masyarakat dinilai harus berjalan beriringan.

Satiri menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga situs budaya tidak hanya berada di tangan pemerintah, tetapi juga masyarakat.

“Kita juga tidak bisa menyalahkan semuanya ke pemerintah. Harus saling beriringan antara pemerintah dan kesadaran masyarakat untuk melestarikan situs budaya seperti ini,” jelasnya.

Kesadaran kolektif menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan situs budaya.

Tanpa dukungan masyarakat, upaya pelestarian yang dilakukan pemerintah tidak akan berjalan maksimal.

Sebaliknya, tanpa kebijakan dan dukungan dari pemerintah, masyarakat akan kesulitan dalam menjaga dan mengembangkan potensi situs tersebut.

Menjelang HUT ke-27 Kota Depok, keberadaan Sumur Tujuh Beji diharapkan menjadi perhatian lebih dalam agenda pembangunan kota.

Penataan yang lebih baik tidak hanya bertujuan menjaga keberlangsungan situs, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi melalui sektor pariwisata.

Pelestarian situs budaya seperti Sumur Tujuh Beji dinilai penting sebagai upaya menjaga identitas kota di tengah modernisasi.

Dengan pendekatan yang tepat, situs ini dapat menjadi simbol sejarah sekaligus ruang edukasi bagi generasi muda.

Keberadaan Sumur Tujuh Beji mencerminkan kekayaan budaya lokal yang tidak ternilai.

Upaya pelestarian yang berkelanjutan diharapkan mampu menjaga warisan tersebut agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *