SPPG Duren Seribu 2 Depok Buktikan Program MBG Bisa Dongkrak Ekonomi Lokal

ARY
Suasana SPPG Duren Seribu 2, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok. Hadirnya dapur MBG ini dikatakan mendongkrak ekonomi lokal. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Duren Seribu 2 di Kecamatan Bojongsari, Kota Depok mendapat apresiasi dari Dewan Energi Nasional (DEN) dan anggota DPRD Kota Depok usai melakukan peninjauan langsung terhadap operasional dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini.

Kunjungan tersebut menegaskan bahwa fasilitas dapur yang dikelola secara profesional ini dinilai telah memenuhi standar kelayakan, baik dari sisi teknis, keamanan, maupun estetika bangunan.

Kepala SPPG Duren Seribu 2, Daniswara Zuhdi, menyampaikan bahwa hasil evaluasi dari para pemangku kepentingan menunjukkan respons yang sangat positif terhadap operasional dapur MBG tersebut.

“Dari kedua pihak, tanggapannya sangat positif. Mereka melihat dapur MBG kami memiliki fasilitas, sarana-prasarana, serta kelayakan bangunan yang sudah sesuai standar. Dari sisi estetika, keamanan, hingga tata letak bangunan juga dinilai sangat memuaskan,” ujar Daniswara dikutip Selasa (14/04/2026).

Penilaian tersebut memperkuat posisi SPPG Duren Seribu 2 sebagai salah satu model dapur pemenuhan gizi yang tidak hanya fokus pada distribusi makanan, tetapi juga mengedepankan standar kualitas tinggi dalam setiap aspek operasionalnya.

Peninjauan yang dilakukan tidak hanya melihat aspek fisik bangunan, tetapi juga sistem kerja yang diterapkan dalam pengelolaan dapur.

Mulai dari alur produksi, kebersihan lingkungan, hingga sistem distribusi makanan kepada penerima manfaat menjadi bagian penting dalam proses evaluasi.

Menurut Daniswara, dapur MBG yang dikelolanya telah dirancang dengan memperhatikan efisiensi kerja sekaligus keamanan pangan.

Setiap tahapan produksi dilakukan secara terstruktur, mulai dari persiapan bahan baku, proses memasak, hingga pemorsian makanan sebelum didistribusikan.

Hal ini menjadi kunci dalam menjaga kualitas makanan yang diberikan kepada ribuan penerima manfaat setiap harinya.

Selain itu, tata letak dapur yang rapi dan sistematis dinilai mampu meminimalkan risiko kontaminasi serta meningkatkan produktivitas kerja tim.

Penilaian positif dari Dewan Energi Nasional juga mencerminkan bahwa fasilitas tersebut telah memenuhi ekspektasi sebagai bagian dari program strategis nasional di bidang pemenuhan gizi.

Dampak Ekonomi Lokal Mulai Terasa

Tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, keberadaan SPPG Duren Seribu 2 juga memberikan efek ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar.

“Dampaknya sangat terasa. Masyarakat sekitar sangat antusias dengan adanya dapur MBG ini. Selain memberikan manfaat gizi, kami juga menyerap tenaga kerja dari lingkungan sekitar,” jelas Daniswara.

Penyerapan tenaga kerja lokal menjadi salah satu indikator penting dalam keberhasilan program ini.

Dengan melibatkan warga sekitar dalam operasional dapur, SPPG tidak hanya berfungsi sebagai pusat distribusi makanan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi komunitas.

Selain tenaga kerja, potensi keterlibatan pelaku usaha lokal dalam penyediaan bahan baku juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas.

Hal ini sejalan dengan tujuan program MBG yang tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Saat ini, SPPG Duren Seribu 2 melayani hampir 3.000 penerima manfaat dari berbagai kalangan.

“Untuk saat ini total penerima manfaat mencapai 2.964 orang, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, SMK, hingga Posyandu. Jadi bisa dibilang hampir 3.000 penerima manfaat,” ungkap Daniswara.

Penerima manfaat tidak hanya terbatas pada pelajar, tetapi juga mencakup kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Program ini menjadi salah satu langkah strategis dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat sejak usia dini hingga kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.

Dengan cakupan yang luas, operasional dapur dituntut untuk mampu menjaga konsistensi kualitas makanan dalam jumlah besar setiap harinya.

Hal ini menjadi tantangan sekaligus indikator keberhasilan dalam menjalankan program MBG secara optimal.

Profesionalitas Tim Jadi Kunci Keberhasilan

Dalam menjalankan operasionalnya, SPPG Duren Seribu 2 didukung oleh puluhan tenaga kerja yang memiliki peran masing-masing.

“Total karyawan kami ada 48 orang, mulai dari tim persiapan, produksi, distribusi, pemorsian, hingga keamanan,” tambah Daniswara.

Kehadiran tenaga profesional menjadi faktor penting dalam menjaga standar layanan.

Owner SPPG Duren Seribu 2, Leon Irfan, menegaskan bahwa pihaknya secara selektif merekrut tenaga kerja yang memiliki kompetensi di bidangnya.

“Alhamdulillah, responnya sangat positif. Dari segi keamanan, estetika, dan kenyamanan, kami dinilai sudah memenuhi standar. Bahkan dari sisi manajemen dan keseriusan pembangunan dapur, kami disebut berada di atas rata-rata,” ujar Leon.

Ia juga menjelaskan bahwa tim dapur terdiri dari tenaga profesional berpengalaman, termasuk chef yang pernah bekerja di hotel internasional serta ahli gizi dengan latar belakang akademik yang kuat.

“Untuk menjaga profesionalitas, kami merekrut tenaga yang kompeten. Head chef kami memiliki pengalaman di hotel internasional seperti Le Meridien Al Khobar di Arab Saudi, juga pernah bekerja di Australia dan hotel Intercontinental Jakarta. Sementara ahli gizi kami merupakan lulusan Universitas Airlangga dan berpengalaman hampir lima tahun di rumah sakit,” papar Leon.

Lebih jauh, Leon menekankan bahwa program MBG tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga sebagai sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal.

“Tujuan program ini bukan hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga meningkatkan kompetensi masyarakat lokal. Kami ingin SDM yang bekerja di sini terbiasa dengan standar profesional yang tinggi, sehingga ke depannya mereka siap bersaing dan bekerja di tempat lain dengan kualitas yang sama,” pungkas Leon.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberadaan SPPG memiliki dampak jangka panjang yang tidak hanya dirasakan dalam aspek kesehatan, tetapi juga dalam pengembangan kapasitas tenaga kerja.

Dengan standar kerja yang tinggi dan sistem operasional yang profesional, SPPG Duren Seribu 2 diharapkan mampu menjadi contoh pengelolaan dapur program sosial yang efektif, berkelanjutan, serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *