Tergerus Transportasi Modern, Pengemudi Becak di Depok Kini Hanya Dapat Satu Penumpang Sehari

AZL
Amin, seorang pengemudi becak di kawasan Beji, Kota Depok yang masih bertahan. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Keberadaan becak sebagai moda transportasi tradisional semakin sulit ditemukan di Kota Depok.

Di tengah pesatnya perkembangan transportasi modern, para pengemudi becak kini harus berjuang keras mempertahankan mata pencaharian yang semakin tergerus zaman.

Salah satu pengemudi becak yang masih bertahan adalah Amin, warga yang telah mengayuh becak sejak 1995 dan mangkal di dekat Perumahan Depok Indah 2, Kecamatan Beji.

Ia mengaku jumlah penumpang terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir hingga berdampak langsung terhadap penghasilannya.

Menurut Amin, kehadiran ojek online dan berbagai layanan transportasi modern membuat masyarakat lebih memilih moda transportasi yang dianggap lebih cepat, praktis, dan mudah diakses.

Penumpang Becak Menurun Drastis

Amin menceritakan bahwa kondisi saat ini sangat berbeda dibandingkan beberapa dekade lalu ketika becak masih menjadi salah satu pilihan utama masyarakat untuk bepergian jarak dekat.

Pada masa itu, para pengemudi becak relatif mudah mendapatkan penumpang setiap hari.

Namun seiring perkembangan teknologi dan perubahan pola mobilitas masyarakat, keberadaan becak perlahan mulai ditinggalkan.

“Kalau dulu memang ramai, tapi sekarang-sekarang ini, kayak ojek online itu sudah pasti banyak itu. Ya sekarang jadi enggak ada penumpang, sepi lah. Paling dua tarikan, atau satu tarikan saja sehari,” kata Amin saat ditemui, Senin (08/06/2026).

Menurutnya, dalam sehari ia kini hanya mampu memperoleh satu hingga dua penumpang.

Jumlah tersebut jauh menurun dibandingkan saat becak masih menjadi moda transportasi yang banyak digunakan masyarakat.

Becak Kian Langka di Jalanan Depok

Pemandangan becak yang dahulu mudah ditemui di berbagai sudut Kota Depok kini semakin jarang terlihat.

Banyak pengemudi becak memilih berhenti beroperasi karena pendapatan yang diperoleh tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Perubahan tersebut menjadi gambaran bagaimana transportasi tradisional menghadapi tantangan besar di tengah modernisasi sistem transportasi perkotaan.

Keberadaan aplikasi transportasi online yang menawarkan kemudahan pemesanan, tarif yang jelas, dan waktu tempuh yang lebih cepat membuat becak semakin kehilangan daya saing.

Meski demikian, masih ada sebagian masyarakat yang sesekali menggunakan jasa becak, terutama untuk perjalanan jarak dekat di lingkungan sekitar.

Penghasilan Bergantung Kerelaan Penumpang

Selain jumlah penumpang yang terus menurun, penghasilan pengemudi becak juga tidak menentu karena bergantung pada kesepakatan maupun kerelaan penumpang.

Berbeda dengan transportasi modern yang memiliki sistem tarif pasti, pengemudi becak umumnya menerima bayaran sesuai kemampuan dan kesediaan pelanggan.

“Ada yang kasih Rp20 ribu, ada yang Rp15 ribu, seikhlasnya penumpang aja dah,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, pendapatan harian yang diperoleh Amin sering kali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Padahal, kebutuhan hidup terus meningkat dari waktu ke waktu. Ia memperkirakan biaya kebutuhan keluarga bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp200 ribu setiap hari.

Kondisi itu membuat profesi pengemudi becak tidak lagi dapat diandalkan sebagai sumber penghasilan utama seperti pada masa lalu.

Terpaksa Jadi Buruh Bangunan

Menurunnya pendapatan dari menarik becak membuat Amin harus mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Saat ini, ia juga bekerja sebagai buruh bangunan ketika ada kesempatan kerja yang tersedia.

Becak hanya menjadi pekerjaan sampingan yang dijalankan ketika tidak ada pekerjaan lain.

“Dulunya ini profesi utama, sekarang pakai sampingan. Kalau lagi enggak ada kerjaan, bawa ini, narik. Kalau lagi ada kerjaan, ya kerja,” katanya.

Menurut Amin, kondisi tersebut juga dialami sejumlah pengemudi becak lainnya yang masih bertahan di Kota Depok.

Banyak di antara mereka akhirnya beralih profesi karena sulit mendapatkan penghasilan yang layak dari menarik becak.

Tak Menyalahkan Kemajuan Teknologi

Meski profesinya semakin terpinggirkan, Amin mengaku tidak menyalahkan perkembangan teknologi maupun hadirnya transportasi berbasis aplikasi.

Ia memahami bahwa perubahan tersebut merupakan bagian dari perkembangan zaman yang tidak dapat dihindari.

Menurutnya, masyarakat tentu akan memilih layanan transportasi yang dianggap lebih efisien dan sesuai kebutuhan saat ini.

Namun di balik perubahan tersebut, ia berharap keberadaan becak masih mendapat perhatian agar tidak sepenuhnya hilang dari wajah Kota Depok.

Berharap Becak Tetap Hidup di Kawasan Wisata

Sebagai salah satu moda transportasi tradisional yang memiliki nilai sejarah, Amin berharap pemerintah dapat memberikan ruang bagi keberadaan becak di masa mendatang.

Salah satu gagasan yang menurutnya bisa diterapkan adalah menjadikan becak sebagai sarana transportasi pendukung di kawasan wisata maupun pusat budaya.

Dengan cara tersebut, becak tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari daya tarik wisata yang memperkenalkan sejarah dan budaya lokal kepada masyarakat.

“Ya kalau di tempat-tempat wisata, mau-mau aja,” ujarnya.

Bagi Amin, becak bukan sekadar kendaraan roda tiga yang digunakan untuk mengangkut penumpang.

Lebih dari itu, becak merupakan bagian dari perjalanan panjang sejarah transportasi perkotaan yang pernah menjadi denyut mobilitas masyarakat.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi transportasi, setiap becak yang masih beroperasi di jalanan Kota Depok menjadi simbol bertahannya jejak masa lalu yang perlahan mulai menghilang dari kehidupan perkotaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *