Pelemahan Rupiah Tekan Perajin Tahu Tempe, Pemerintah Andalkan Sinergi Fiskal dan Moneter
adainfo.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai dirasakan pelaku usaha kecil, khususnya perajin tahu dan tempe yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat dan berpotensi memengaruhi harga jual di tingkat konsumen.
Pemerintah pun menyiapkan langkah stabilisasi melalui kolaborasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga nilai tukar rupiah tetap terkendali.
Upaya tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban pelaku usaha sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan stabilitas rupiah memiliki peran penting terhadap biaya produksi berbagai komoditas yang bahan bakunya masih didatangkan dari luar negeri.
Menurutnya, salah satu sektor yang paling merasakan dampak pelemahan rupiah adalah usaha tahu dan tempe karena ketergantungan terhadap kedelai impor masih cukup tinggi.
Kedelai Impor Bikin Biaya Produksi Meningkat
Purbaya menjelaskan kenaikan nilai dolar AS membuat harga bahan baku impor menjadi lebih mahal.
Akibatnya, para perajin tahu dan tempe harus mengeluarkan biaya produksi yang lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap keuntungan pelaku usaha.
Tidak sedikit perajin yang harus menyesuaikan harga jual untuk menutupi kenaikan biaya bahan baku.
Tekanan biaya produksi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha kecil yang selama ini berupaya menjaga harga produk tetap terjangkau bagi masyarakat.
Pemerintah menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena tahu dan tempe merupakan salah satu sumber protein yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Pemerintah Siapkan Stabilitas Rupiah
Untuk mengatasi tekanan tersebut, pemerintah bersama Bank Indonesia memperkuat sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter.
Langkah ini dilakukan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berbagai dinamika ekonomi global.
Purbaya optimistis kebijakan yang sedang disiapkan akan memberikan dampak positif terhadap stabilitas kurs sehingga biaya impor bahan baku dapat lebih terkendali.
“Dengan nanti kebijakan yang bagus itu kita akan melihat rupiah yang lebih stabil sehingga para pedagang tahu tempe dan ibu-ibu rumah tangga juga bisa merasakan harga yang lebih baik,” papar Purbaya dikutip, Sabtu (06/06/2026).
Menurutnya, stabilitas nilai tukar akan membantu menekan beban biaya produksi yang selama ini ditanggung para pelaku usaha berbasis bahan baku impor.
Dampak Langsung ke Rumah Tangga
Manfaat stabilitas rupiah tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh masyarakat sebagai konsumen.
Ketika biaya impor lebih terkendali, harga berbagai kebutuhan pokok berpeluang tetap stabil.
Purbaya menilai kondisi tersebut penting untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Harga kebutuhan sehari-hari yang lebih terkendali akan membantu meringankan beban rumah tangga.
Karena itu, pemerintah terus berupaya memastikan kebijakan ekonomi berjalan selaras agar manfaatnya dapat dirasakan hingga tingkat masyarakat bawah.
Selain menjaga stabilitas harga pangan, langkah tersebut juga diharapkan mampu memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam menjalankan aktivitas produksinya.
Sinergi Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi
Pemerintah meyakini koordinasi yang kuat antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi salah satu kunci menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Sinergi tersebut tidak hanya berdampak pada indikator makro ekonomi, tetapi juga sektor usaha kecil dan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Purbaya menegaskan bahwa stabilitas ekonomi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha dan masyarakat luas.
Oleh sebab itu, upaya menjaga rupiah tetap stabil akan terus menjadi perhatian pemerintah.
“Sinkronisasi kebijakan ini sangat baik bagi ekonomi kita, baik pada level makro maupun level mikro ke depan,” jelasnya.
Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap tekanan yang dirasakan perajin tahu dan tempe akibat mahalnya bahan baku impor dapat berangsur berkurang.
Sementara masyarakat juga tetap memperoleh kebutuhan pangan dengan harga yang lebih terjangkau.












