Rupiah Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Pemerintah Andalkan Devisa Ekspor

AZL
Lembaran pecahan uang rupiah. (Foto: Ahsanjaya/Pexels)

adainfo.id – Pemerintah mengandalkan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Indonesia (DHE-SDI) untuk memperkuat ketahanan nilai tukar rupiah yang kembali berada di bawah tekanan hingga menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Langkah tersebut diyakini dapat meningkatkan pasokan devisa di dalam negeri sekaligus mendukung stabilitas pasar keuangan nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Nilai tukar rupiah pada Kamis (04/06/2026) tercatat berada di level Rp18.001 per dolar AS atau melemah sekitar 0,43 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Bahkan dalam 24 jam terakhir, mata uang Garuda sempat menyentuh posisi Rp18.013 per dolar AS sebelum kembali bergerak fluktuatif.

Sehari sebelumnya, rupiah ditutup pada level Rp17.966 per dolar AS. Pergerakan tersebut menjadikan pelemahan rupiah sebagai perhatian pelaku pasar karena menembus batas psikologis yang selama ini menjadi sorotan.

Meski demikian, pemerintah menilai kondisi tersebut masih dapat diantisipasi melalui berbagai instrumen kebijakan ekonomi dan moneter yang telah disiapkan.

Pemerintah Fokus Jaga Fondasi Ekonomi

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan fokus utama pemerintah saat ini adalah menjaga fondasi ekonomi nasional agar tetap kuat dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Menurutnya, pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek merupakan hal yang lazim terjadi dan sering dipengaruhi berbagai faktor eksternal yang berada di luar kendali pemerintah.

“Yang menjadi kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi agar terus berjalan dan semakin kuat. Pada akhirnya, kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya,” ujar Purbaya dikutip, Jum’at (05/06/2026).

Pemerintah menilai sejumlah indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kondisi yang relatif kuat.

Aktivitas ekonomi nasional tetap berjalan, sektor keuangan dinilai stabil, dan kondisi fiskal masih berada dalam jalur yang terjaga.

Karena itu, pemerintah meyakini tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen global dibandingkan faktor fundamental dalam negeri.

DHE-SDI Jadi Andalan Perkuat Rupiah

Untuk menghadapi tekanan terhadap nilai tukar, pemerintah mengandalkan implementasi kebijakan DHE-SDI.

Kebijakan tersebut dirancang untuk meningkatkan pasokan devisa yang berada di dalam negeri sehingga dapat memperkuat likuiditas valuta asing dan mendukung kestabilan nilai tukar rupiah.

Melalui penempatan devisa hasil ekspor dalam sistem keuangan nasional, pemerintah berharap ketersediaan dolar AS di pasar domestik meningkat sehingga mampu meredam tekanan terhadap rupiah.

Purbaya optimistis dampak kebijakan tersebut akan mulai terlihat dalam waktu dekat seiring bertambahnya aliran devisa yang masuk ke dalam negeri.

“Seharusnya dalam waktu dekat dampak kebijakan DHE-SDI mulai terlihat. Ketika sentimen yang berkembang di pasar mulai mereda, didukung oleh masuknya devisa hasil ekspor ke dalam negeri, maka rupiah memiliki peluang untuk kembali menguat,” kata Purbaya.

Menurut pemerintah, peningkatan devisa ekspor di dalam negeri menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global yang masih berlangsung.

Tekanan Global Masih Membayangi Rupiah

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah berbagai ketidakpastian ekonomi dunia yang masih berlangsung hingga saat ini.

Mulai dari dinamika geopolitik internasional, meningkatnya permintaan dolar AS di pasar global, hingga pergerakan investor terhadap aset-aset keuangan dunia menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang berbagai negara, termasuk Indonesia.

Kondisi tersebut menyebabkan rupiah mengalami tekanan yang cukup kuat dalam beberapa pekan terakhir.

Pelemahan hingga menembus Rp18.000 per dolar AS juga memunculkan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga barang impor, meningkatnya biaya produksi industri, hingga tekanan terhadap daya beli masyarakat.

Selain itu, sektor usaha yang memiliki kewajiban pembayaran dalam mata uang dolar AS berpotensi menghadapi tambahan beban biaya akibat pelemahan kurs.

Meski demikian, pemerintah menilai kondisi tersebut masih berada dalam koridor yang dapat dikelola melalui koordinasi kebijakan yang tepat.

Pemerintah Optimistis Rupiah Berpeluang Menguat

Di tengah tekanan yang terjadi, pemerintah tetap optimistis terhadap prospek nilai tukar rupiah ke depan.

Optimisme tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang baik dibandingkan berbagai negara berkembang lainnya.

Masuknya devisa hasil ekspor melalui kebijakan DHE-SDI diharapkan dapat menjadi penopang tambahan bagi stabilitas pasar keuangan domestik.

Pemerintah juga memastikan akan terus berkoordinasi dengan berbagai otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan sistem keuangan.

Dengan dukungan fundamental ekonomi yang dinilai masih kuat serta tambahan likuiditas dari devisa hasil ekspor, pemerintah meyakini nilai tukar rupiah memiliki peluang untuk kembali bergerak lebih stabil ketika tekanan eksternal mulai mereda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *