Di Tengah Program RTLH, Warga Depok Ini Tinggal di Rumah Yang Nyaris Ambruk

AZL
Kondisi rumah milik Daud di Kelurahan Pancoran Mas, Kota Depok dengan atap rusak parah dan rawan ambruk. Penghuni berharap ada bantuan program RTLH. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Di saat berbagai program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) terus digencarkan pemerintah, masih ada warga yang harus menjalani hari-harinya di bawah ancaman bangunan yang sewaktu-waktu bisa runtuh.

Kondisi itulah yang dialami Daud, warga Kampung Jemblongan, RT 01/RW 11, Kelurahan Pancoran Mas, Kota Depok.

Selama hampir dua tahun terakhir, Daud bersama keluarganya bertahan hidup di rumah yang mengalami kerusakan parah pada bagian atap.

Bangunan yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi sumber kekhawatiran setiap kali hujan turun disertai angin kencang.

Kerusakan yang awalnya hanya terjadi di bagian belakang rumah kini telah menjalar hampir ke seluruh bangunan.

Kayu-kayu penyangga yang mulai lapuk dan atap yang jebol di sejumlah titik membuat rumah tersebut berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi kesehatan yang sedang menurun, Daud hanya bisa berharap ada perhatian dari pemerintah agar keluarganya dapat tinggal di rumah yang aman dan layak.

Kerusakan Bermula dari Dapur, Kini Menjalar ke Seluruh Rumah

Daud menceritakan bahwa kerusakan rumahnya tidak terjadi secara mendadak.

Awalnya hanya sebagian kecil atap di area dapur yang mengalami kerusakan hingga akhirnya ambruk.

Namun seiring berjalannya waktu, kerusakan terus meluas ke bagian tengah hingga depan rumah.

Kondisi tersebut membuat sebagian besar bangunan kini tidak lagi aman untuk digunakan.

“Jadi awal mulanya itu yang jebol hanya sebagian, jadi enggak langsung semuanya. Dari dapur itu lama-kelamaan merembet ke tengah, terus sampai sini ke depan,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Selasa (16/06/2026).

Kerusakan yang terus membesar membuat keluarga Daud tidak memiliki banyak pilihan selain bertahan dengan kondisi yang ada sambil berharap bantuan segera datang.

Setiap kali hujan turun, mereka harus meningkatkan kewaspadaan karena khawatir bagian bangunan yang sudah rapuh akan runtuh sewaktu-waktu.

Selamat dari Ambruknya Atap Dapur

Di balik kondisi rumah yang memprihatinkan, Daud masih mengingat jelas peristiwa saat atap dapur pertama kali ambruk.

Kejadian itu menjadi momen yang tidak akan mudah dilupakannya.

Saat peristiwa tersebut terjadi, dirinya sedang beristirahat di rumah.

Beruntung tidak ada anggota keluarga yang berada tepat di bawah area yang runtuh sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

“Pas pertama kali atap dapur ambruk itu, saya lagi tidur dan istri lagi enggak ada di rumah, jadi Alhamdulillah keluarga sih aman. Tapi jadinya was-was sekarang kalau hujan apalagi ditambah angin kencang,” katanya.

Meski tidak menimbulkan korban, insiden tersebut meninggalkan trauma tersendiri bagi keluarga Daud.

Sejak saat itu, rasa khawatir terus menghantui setiap kali cuaca mulai memburuk.

Bagi mereka, hujan yang turun bukan hanya membawa air, tetapi juga ancaman keselamatan yang selalu mengintai dari atas kepala.

Bertahan Hidup di Bekas Gudang

Karena sebagian besar atap rumah sudah rusak dan berisiko membahayakan penghuni, Daud terpaksa mengubah pola kehidupan keluarganya.

Seluruh aktivitas keluarga kini dipusatkan di satu ruangan kecil yang sebelumnya digunakan sebagai gudang penyimpanan barang.

Ruangan sederhana tersebut kini berfungsi sebagai kamar tidur, ruang makan, sekaligus tempat menyimpan berbagai kebutuhan rumah tangga.

“Jadi sekarang itu semua ditaruh di ruang yang tadinya bekas gudang. Ya akhirnya dirombak, jadi buat makan, naruh barang, tidur, semuanya di situ,” katanya.

Kondisi tersebut tentu jauh dari kata ideal. Namun keterbatasan ekonomi membuat keluarga Daud tidak mampu melakukan renovasi secara mandiri.

Mereka hanya berusaha memanfaatkan ruang yang masih dianggap aman sambil menunggu adanya bantuan yang diharapkan dapat mengubah keadaan.

Sudah Didatangi RT, RW dan Kelurahan, Namun Belum Ada Solusi

Sebagai warga yang tergolong kurang mampu, Daud mengaku telah beberapa kali menerima kunjungan dari berbagai unsur lingkungan.

Menurutnya, pihak RT, RW hingga kelurahan pernah datang langsung untuk melihat kondisi rumah yang mengalami kerusakan berat.

Namun hingga kini, kunjungan tersebut belum menghasilkan tindak lanjut berupa bantuan perbaikan ataupun solusi konkret yang dapat meringankan beban keluarganya.

“Kalau orang dari RT, RW, Kelurahan sih udah pada datang, tapi cuma datang doang. Belum pernah ada bantuan sama sekali buat mencari solusi masalah ini gimana. Jadi saya cuma bisa doa aja, kalau minta-minta saya enggak berani,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan harapan besar yang masih menggantung di benak Daud dan keluarganya.

Mereka tidak menuntut banyak, hanya berharap ada jalan keluar agar dapat tinggal di rumah yang lebih aman.

Potret RTLH yang Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Kisah yang dialami Daud menjadi gambaran bahwa persoalan RTLH masih menjadi tantangan yang perlu mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Di tengah berbagai program pembangunan dan peningkatan kualitas hunian masyarakat, masih terdapat warga yang hidup dalam kondisi memprihatinkan dan menghadapi risiko keselamatan setiap hari.

Keberadaan rumah-rumah yang mengalami kerusakan berat menunjukkan bahwa upaya pendataan dan percepatan penanganan RTLH masih perlu terus diperkuat agar bantuan dapat tepat sasaran.

Terlebih bagi keluarga kurang mampu yang tidak memiliki kemampuan finansial untuk memperbaiki rumah secara mandiri.

Bagi Daud dan keluarganya, bantuan rehabilitasi rumah bukan sekadar persoalan kenyamanan tempat tinggal.

Bantuan tersebut menjadi kebutuhan mendesak demi keselamatan seluruh anggota keluarga yang selama dua tahun terakhir hidup di bawah bayang-bayang atap yang bisa runtuh kapan saja.

Setiap malam mereka tidur dengan rasa waswas, berharap bangunan yang sudah rapuh itu masih mampu bertahan hingga hari berikutnya.

Di tengah berbagai program bantuan perumahan yang terus berjalan, keluarga Daud masih menunggu satu hal sederhana, kesempatan untuk tinggal di rumah yang aman dan layak huni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *