Bahan Pokok Melonjak, Pengusaha Warung Nasi di Depok Bertahan Tak Naikkan Harga Meski Untung Menyusut
adainfo.id – Kenaikan harga berbagai bahan pokok kembali memberikan tekanan terhadap pelaku usaha kecil, khususnya pemilik warung nasi.
Di tengah meningkatnya biaya operasional, banyak pedagang memilih mempertahankan harga jual makanan agar pelanggan tetap datang, meski keuntungan yang diperoleh terus menyusut.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha berada dalam situasi yang serba sulit.
Di satu sisi harga beras, minyak goreng, hingga cabai terus mengalami kenaikan.
Sementara di sisi lain mereka harus menjaga harga makanan tetap terjangkau agar tidak kehilangan pelanggan yang selama ini menjadi penopang usaha.
Salah satu pedagang yang merasakan dampaknya adalah Sekar, pemilik warung nasi di Jalan Nusantara, Kecamatan Beji, Kota Depok.
Ia mengaku hingga kini belum berani menaikkan harga makanan karena khawatir pelanggan beralih ke tempat lain.
Harga Makanan Tetap Dipertahankan Demi Pelanggan
Sekar mengatakan pelanggan tetap menjadi alasan utama dirinya mempertahankan harga jual dan porsi makanan seperti sebelumnya.
Menurutnya, sebagian besar pembeli merupakan pelanggan yang sudah lama berlangganan sehingga ia berusaha menjaga kepercayaan mereka meski biaya usaha terus meningkat.
“Iya, soalnya kan itu sih orang udah biasa, udah langganan kan. Jadi ya, sampai saat ini sebisa mungkin masih mencoba biasa aja sih aku, belum ada kenaikan, masih seperti biasa,” ungkapnya saat ditemui, Kamis (18/06/2026).
Ia mengakui keputusan tersebut membuat keuntungan usaha semakin kecil.
Namun, langkah itu dianggap lebih baik dibandingkan harus kehilangan pelanggan akibat kenaikan harga makanan.
Beras dan Minyak Goreng Jadi Beban Terbesar
Menurut Sekar, kenaikan harga bahan pokok paling terasa berasal dari beras dan minyak goreng yang merupakan kebutuhan utama dalam operasional warung nasi setiap hari.
Hampir seluruh menu yang dijual bergantung pada kedua komoditas tersebut sehingga setiap kenaikan harga langsung berdampak terhadap biaya produksi.
“Untuk sekarang bahan pokok yang dampak kenaikannya paling parah itu buat warung nasi, ya, minyak goreng dan beras,” katanya.
Berdasarkan data harga pangan, beras kualitas bawah I naik 4,44 persen menjadi Rp15.300 per kilogram.
Sedangkan beras kualitas bawah II meningkat 2,76 persen menjadi Rp14.900 per kilogram.
Sementara itu, beras kualitas medium I naik 1,85 persen menjadi Rp16.550 per kilogram dan beras kualitas medium II meningkat 1,87 persen menjadi Rp16.350 per kilogram.
Kenaikan tersebut membuat biaya penyediaan makanan terus bertambah, sementara harga jual kepada konsumen belum mengalami perubahan.
Harga Cabai hingga Sayuran Ikut Melonjak
Tidak hanya beras dan minyak goreng, pedagang juga menghadapi kenaikan harga berbagai jenis sayuran serta cabai.
Sekar mengatakan cabai menjadi salah satu bahan baku yang hampir selalu digunakan dalam setiap menu sehingga kenaikan harganya sangat memengaruhi biaya produksi.
“Sayuran juga kalau lagi mahal, mahal, apalagi kan cabai, di pasaran cabai udah nyampe di harga Rp90 ribu per kilonya. Cabai kan salah satu yang penting, utama sih ya, kalau di warung nasi pasti pakai cabai,” jelasnya.
Lonjakan harga cabai membuat pedagang harus mengatur penggunaan bahan baku secara lebih efisien agar pengeluaran tidak semakin membengkak.
Meski demikian, kualitas dan cita rasa makanan tetap diupayakan agar tidak berubah demi menjaga kepuasan pelanggan.
Omzet Menurun, Keuntungan Terus Menyusut
Sekar mengungkapkan kondisi saat ini membuat banyak pemilik warung nasi berada dalam posisi yang sulit.
Biaya produksi terus meningkat, tetapi menaikkan harga makanan dinilai berisiko mengurangi jumlah pembeli.
Akibatnya, sebagian besar pedagang memilih mempertahankan harga jual dengan konsekuensi margin keuntungan menjadi semakin tipis dibandingkan sebelumnya.
Menurutnya, kondisi tersebut juga berdampak terhadap omzet usaha karena keuntungan yang diperoleh tidak lagi sebesar saat harga bahan pokok masih stabil.
Para pelaku usaha kecil akhirnya harus melakukan berbagai penyesuaian agar operasional warung tetap berjalan di tengah tekanan kenaikan harga.
Pedagang Berharap Pemerintah Stabilkan Harga Bahan Pokok
Sekar berharap pemerintah dapat mengambil langkah nyata untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok sehingga beban yang ditanggung pelaku usaha kecil tidak semakin berat.
Menurutnya, pengendalian harga pangan menjadi hal yang sangat penting karena tidak hanya berdampak terhadap pedagang.
Akan tetapi juga masyarakat yang membutuhkan makanan dengan harga terjangkau setiap hari.
Ia menilai kestabilan harga beras, minyak goreng, cabai, dan berbagai bahan pangan lainnya akan membantu pelaku usaha mempertahankan usahanya tanpa harus mengurangi kualitas makanan ataupun menaikkan harga jual kepada pelanggan.
Di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat, para pemilik warung nasi berharap kondisi pasar segera membaik.
Sehingga usaha kecil dapat kembali memperoleh keuntungan yang layak sekaligus tetap menyediakan makanan dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.












