Kembali Dilanda Banjir, Warga Komplek Marinir Depok Minta Solusi Permanen dari Pemerintah

ACS
Banjir merendam kawasan permukiman warga di Komplek Marinir, Kota Depok usai hujan deras, Kamis (30/04/26). (Foto: Istimewa)

adainfo.id – Komplek Marinir, Rangkapan Jaya Baru, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok kembali dilanda banjir usai hujan lebat yang terjadi sejak sore hari.

Dalam kurun waktu sekitar satu jam setelah hujan turun, air dengan cepat merendam permukiman warga hingga ketinggian yang mengganggu aktivitas dan merusak kenyamanan tempat tinggal.

Peristiwa banjir yang berulang ini membuat warga semakin khawatir, terlebih kejadian serupa tercatat sudah terjadi hingga tiga kali dalam satu bulan terakhir.

Kondisi tersebut menimbulkan keresahan karena banjir datang dengan cepat dan membutuhkan waktu cukup lama untuk surut.

Salah satu warga terdampak, Fitria Mulyasari yang tinggal di Jalan Yosudarso 1, Komplek Marinir Blok H2 No.1 RT 01 RW 06, mengungkapkan bahwa genangan mulai muncul tidak lama setelah hujan turun pada sore hari.

“Mulai hujan pukul 16.30 WIB dan kurang lebih pukul 17.00 air sudah mulai menggenang,” ujar Fitria saat dihubungi melalui pesan singkat, Kamis (30/04/2026).

Ia menjelaskan bahwa intensitas air meningkat cukup cepat hingga memasuki rumah warga dan merendam area luar permukiman dengan ketinggian yang cukup mengkhawatirkan.

“Sampai dengan tadi pukul 18.45 WIB, banjir didalam rumah saya setinggi paha orang dewasa dan diluar rumah sudah sepinggang orang dewasa. Sampai pukul 20.13 banjir belum juga surut,” jelasnya.

Banjir Berulang dalam Waktu Singkat Picu Kekhawatiran Warga

Kondisi banjir yang terjadi di kawasan Komplek Marinir Depok bukan merupakan kejadian pertama.

Warga menyebut dalam satu bulan terakhir, banjir dengan ketinggian serupa sudah terjadi sebanyak tiga kali, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan kondisi lingkungan yang semakin rentan.

Menurut warga, sebelumnya banjir tidak separah dan tidak sesering seperti kondisi saat ini.

Namun dalam beberapa waktu terakhir, intensitas hujan yang tinggi disertai sistem aliran air yang tidak optimal membuat wilayah tersebut menjadi langganan genangan.

“Ini dalam sebulan banjir dengan ketinggian yang sama sudah 3 kali,” ungkap Fitria.

Kondisi ini diperparah dengan lambatnya surut air yang membuat warga harus bertahan lebih lama di tengah genangan.

Situasi tersebut juga berdampak pada aktivitas harian, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia yang tinggal di kawasan tersebut.

Drainase dan Kapasitas Aliran Air Dinilai Tidak Memadai

Warga menilai permasalahan utama banjir di kawasan tersebut berasal dari sistem drainase yang tidak mampu menampung debit air saat hujan deras terjadi.

Meski telah tersedia pompa air, kapasitasnya dinilai belum mampu mengimbangi volume air yang masuk dalam waktu singkat.

“Padahal sudah ada pompa air disediakan, namun tidak maksimal karena volume air yang cukup banyak dan kondisi kali pun tidak menampung,” paparnya.

Keterbatasan kapasitas saluran air dan aliran kali di sekitar kawasan diduga menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan air cepat meluap ke permukiman warga.

Kondisi ini menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengendalian banjir di kawasan tersebut.

Warga berharap adanya peningkatan infrastruktur drainase yang lebih memadai agar dapat mengurangi risiko banjir berulang.

Selain itu, normalisasi saluran air dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak limpasan air saat hujan deras.

Respons Pemerintah Dinilai Belum Berkelanjutan

Fitria juga mengungkapkan bahwa sebelumnya sempat ada kunjungan dari pihak pemerintah daerah yang meninjau kondisi aliran air di sekitar kawasan, termasuk di area terusan yang berada di dalam Masjid Kubah Mas.

Namun hingga kini, belum terlihat adanya tindak lanjut konkret dari hasil peninjauan tersebut.

“Dari pihak pemerintah sempat ada juga dari dinas yang datang untuk meninjau aliran terusan yang posisinya di dalam Masjid Kubah Mas, cuma belum ada kelanjutannya lagi sampai dengan saat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa laporan juga sudah disampaikan melalui pihak RW setempat, namun belum menghasilkan solusi yang dapat dirasakan langsung oleh warga.

“Dari pihak RW sudah melaporkan, tapi ya begitu, banjir sekarang lebih lama surutnya,” katanya.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, mengingat kawasan tersebut juga dihuni oleh banyak warga lanjut usia yang membutuhkan lingkungan aman dan bebas genangan.

Harapan Warga terhadap Penanganan Jangka Panjang

Warga berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi permasalahan banjir yang terus berulang di kawasan tersebut.

Selain perbaikan drainase, normalisasi aliran air dan peningkatan kapasitas saluran dianggap menjadi kebutuhan mendesak.

Situasi banjir yang terjadi berulang kali tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan dan aktivitas sosial masyarakat.

Oleh karena itu, penanganan yang bersifat jangka panjang dinilai lebih dibutuhkan dibandingkan solusi sementara.

Dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu, warga berharap adanya perhatian lebih dari pihak terkait agar peristiwa serupa tidak terus berulang dan merugikan masyarakat di kawasan permukiman tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *