Pasar Rakyat Jabar Juara Depok Sepi, Pedagang Minta Solusi Nyata
adainfo.id – Pasar Rakyat Jabar Juara di kawasan Sawangan, Kota Depok, yang semula diharapkan menjadi pusat ekonomi baru, kini tampak sepi dengan aktivitas perdagangan yang minim dan jumlah pengunjung terus menurun.
Pasar yang diresmikan pada 2022 di era kepemimpinan Ridwan Kamil itu awalnya diproyeksikan sebagai ruang usaha strategis bagi warga sekitar sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Namun, beberapa tahun setelah beroperasi, kondisi di lapangan menunjukkan penurunan signifikan dalam aktivitas jual beli.
Pantauan di lokasi menunjukkan hanya sebagian kecil kios di bagian depan pasar yang masih aktif, didominasi pedagang makanan ringan.
Sementara itu, area dalam bangunan terlihat jauh lebih sepi, dengan banyak kios dan los kosong, belum terisi, atau telah ditinggalkan oleh penyewa sebelumnya.
Minimnya aktivitas ini menjadi indikasi bahwa pasar belum mampu menarik arus pengunjung secara konsisten.
Padahal, fasilitas fisik yang tersedia tergolong memadai untuk mendukung kegiatan perdagangan skala kecil hingga menengah.
Pedagang Keluhkan Minim Promosi
Bahir (40), salah satu pedagang jasa jahit yang masih bertahan, menilai kondisi sepi ini disebabkan oleh kurangnya promosi dari pihak pengelola.
Ia menyebut banyak warga sekitar yang bahkan belum mengetahui keberadaan pasar tersebut.
“Jadi promosi ini harus ditingkatin, bagaimana caranya buat pasar ini rame gitu. Dulu saya pertama di sini bikin brosur-brosur sendiri buat ngasih tahu pembeli buat datang ke sini,” ujarnya saat ditemui, Rabu (29/04/2026).
Menurut Bahir, upaya promosi seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, terutama dari pengelola yang memiliki kapasitas lebih besar dalam menjangkau masyarakat luas.
Selain promosi yang dinilai kurang, Bahir juga menyoroti tidak adanya komunikasi intensif antara pengelola dan pedagang.
Ia mengaku selama berjualan tidak pernah diajak berdiskusi untuk mencari solusi bersama dalam meningkatkan daya tarik pasar.
“Dari pihak pengelola juga enggak pernah ada solusi buat pedagang gimana biar bikin pembeli tertarik ke sini. Seharusnya kan pedagang diajak ngobrol,” jelas Bahir.
Ketiadaan forum komunikasi ini dinilai memperburuk situasi karena pedagang harus bertahan tanpa arahan strategis yang jelas dari pengelola pasar.
Pedagang Mulai Meninggalkan Lokasi
Kondisi pasar yang terus sepi berdampak langsung pada keberlangsungan usaha para pedagang.
Banyak di antara mereka akhirnya memilih hengkang karena tidak mampu menutup biaya operasional.
Thoriq, salah satu petugas keamanan pasar, membenarkan fenomena tersebut.
Ia menyebut pasar sempat ramai saat awal pembukaan, namun kondisi tersebut tidak bertahan lama.
“Kalau pas awal pembukaan pasar sih rame ini, tapi setelah itu banyak dari pedagang yang milih buat pergi karena minimnya pembeli yang datang ke pasar,” katanya.
Fenomena ini memperlihatkan adanya ketidakseimbangan antara harapan awal pembangunan pasar dengan realisasi di lapangan.
Salah satu faktor yang sebenarnya mendukung keberlangsungan usaha di pasar ini adalah biaya sewa kios yang relatif terjangkau.
Dengan tarif sekitar Rp500 ribu per bulan, pasar ini semestinya menjadi opsi menarik bagi pelaku usaha kecil.
Namun, rendahnya biaya sewa tidak cukup untuk menarik atau mempertahankan pedagang jika tidak diimbangi dengan jumlah pengunjung yang memadai.
Tanpa transaksi yang stabil, pedagang tetap mengalami kerugian meski biaya operasional ditekan.
Investasi Besar Belum Berdampak Maksimal
Pasar Rakyat Jabar Juara dibangun menggunakan dana Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan nilai mencapai puluhan miliar rupiah.
Fasilitas ini memiliki kapasitas hingga 104 kios dan 49 los yang dirancang untuk menampung berbagai jenis usaha.
Namun, hingga kini, kapasitas tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.
Banyak ruang usaha yang kosong menjadi gambaran belum maksimalnya fungsi pasar sebagai pusat ekonomi masyarakat.
Para pedagang yang masih bertahan berharap adanya evaluasi menyeluruh dari pihak pengelola maupun pemerintah daerah.
Mereka menginginkan strategi konkret untuk menghidupkan kembali aktivitas pasar, mulai dari promosi hingga penyelenggaraan kegiatan yang mampu menarik massa.
Selain itu, keterlibatan pedagang dalam proses pengambilan keputusan juga dianggap penting agar kebijakan yang diambil lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi lapangan.
Kondisi Pasar Rakyat Jabar Juara ini menjadi sorotan terkait efektivitas pembangunan infrastruktur ekonomi daerah.
Bangunan Pasar Rakyat Jabar Juara yang berdiri megah tersebut kini menghadapi tantangan besar untuk benar-benar berfungsi sebagai penggerak ekonomi masyarakat di Kota Depok.












