Menko Airlangga Nilai Industri Alas Kaki Nasional Kian Kompetitif
adainfo.id – Industri alas kaki nasional terus menunjukkan peran strategis sebagai tulang punggung sektor padat karya dan penyangga perekonomian nasional di tengah dinamika global.
Pada kuartal III tahun 2025, industri ini berkontribusi sebesar 1,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan.
Sekaligus menjadi salah satu sektor dengan daya tahan paling kuat terhadap tekanan ekonomi global.
Dari sisi ketenagakerjaan, industri alas kaki tercatat menyerap sekitar 921 ribu tenaga kerja per Februari 2025.
Hal itu menjadikannya sektor kunci dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi, khususnya di daerah sentra manufaktur.
Ekspor Alas Kaki Tumbuh Signifikan di Tengah Ketidakpastian Global
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut, kinerja industri alas kaki nasional tetap solid meski dihadapkan pada berbagai tantangan global.
“Di tengah dinamika dan ketidakpastian global, industri alas kaki nasional menunjukkan tingkat resiliensi yang kuat. Pada tahun 2024, nilai ekspor industri alas kaki tumbuh signifikan sebesar 13,13% dan mencapai USD7,28 miliar,” terang Airlangga Hartarto dikutip Jumat (23/01/2026).
Ia menilai capaian tersebut menjadi indikator kuatnya daya saing produk alas kaki Indonesia di pasar internasional.
“Capaian ini mencerminkan daya saing yang kuat dan tetap terjaga di pasar global,” terangnya.
Kepercayaan investor terhadap industri alas kaki nasional juga terus menguat.
Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada tahun 2024 tercatat mencapai USD859 juta, sementara hingga Semester I tahun 2025 telah menyentuh USD803 juta.
Tingginya minat investasi tersebut sejalan dengan tingkat utilisasi industri yang konsisten berada di atas 80 persen, menandakan kapasitas produksi yang optimal serta prospek usaha yang masih sangat positif ke depan.
Namun demikian, Airlangga mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap dinamika kebijakan perdagangan global, khususnya di pasar utama ekspor.
“Namun demikian, kita perlu tetap waspada terhadap berbagai tantangan termasuk diberlakukannya kebijakan tarif resiprokal sebesar 19% di pasar Amerika Serikat. Oleh karena itu, Indonesia berharap dengan implementasi IEU-CEPA, pasar ini bisa terus dibuka,” tuturnya.
“Dan tentunya di tahun ini kita persiapkan agar implementasi IEU-CEPA bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin,” sambungnya.
Pemerintah Perkuat Kebijakan Jaga Resiliensi Industri
Dalam rangka menjaga keberlanjutan dan resiliensi industri alas kaki, pemerintah telah mengimplementasikan sejumlah kebijakan konkret.
Di antaranya penguatan pasar dalam negeri melalui Permendag Nomor 23 Tahun 2025 terkait pengaturan impor barang konsumsi.
Pemerintah juga memberikan stimulus fiskal bagi tenaga kerja melalui kebijakan PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah berdasarkan PMK Nomor 10 Tahun 2025, serta menyediakan Kredit Investasi Padat Karya melalui Permenko Nomor 4 Tahun 2025.
Selain itu, fasilitasi ekspor terus diperkuat melalui optimalisasi kawasan berikat dan penyederhanaan prosedur ekspor guna mempercepat arus barang ke pasar global.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menciptakan ekosistem usaha yang kondusif melalui sinergi erat bersama Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO).
Upaya tersebut mencakup reformasi regulasi ketenagakerjaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia industri, simplifikasi perizinan, serta standarisasi biaya K3 berbasis risiko.
Langkah lain yang turut didorong adalah optimalisasi logistik dan percepatan arus bahan baku, akselerasi penerapan ekonomi sirkular, hingga penguatan diplomasi perdagangan untuk merespons kebijakan tarif global.
Lebih lanjut, Airlangga menilai Munas XI APRISINDO sebagai momentum penting dalam menentukan arah kebijakan organisasi yang adaptif dan visioner.
“Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada APRISINDO atas dedikasi dan kontribusinya selama 37 tahun sebagai mitra strategis Pemerintah dalam memajukan industri alas kaki Indonesia,” bebernya.
“Munas XI ini menjadi wadah penting untuk mengkonsolidasikan pandangan, merumuskan rekomendasi strategis, serta menyepakati langkah-langkah nyata dunia usaha dalam mendukung agenda pembangunan nasional, khususnya di sektor industri padat karya,” tandasnya.
Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah dan dunia usaha, industri alas kaki Indonesia diyakini tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berpeluang tampil sebagai pemain utama di pasar global.











