Indonesia Bidik Pasar Eurasia Lewat Penguatan Kerja Sama dengan Kazakhstan
adainfo.id – Pemerintah Indonesia dan Kazakhstan resmi mengaktifkan kembali kerja sama bilateral ekonomi melalui Pertemuan Sidang Komisi Bersama (SKB) kedua RI-Kazakhstan yang digelar di Astana, Kazakhstan, Senin (11/05/2026).
Pertemuan tersebut menjadi momentum strategis menjelang implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement atau Indonesia–EAEU FTA yang saat ini tengah memasuki proses ratifikasi.
SKB tersebut dipimpin langsung Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Deputi Perdana Menteri sekaligus Menteri Ekonomi Nasional Republik Kazakhstan Serik Zhumangarin.
Delegasi dari kedua negara turut hadir dalam forum yang menandai babak baru hubungan ekonomi Indonesia dan Kazakhstan setelah terakhir kali forum serupa digelar pada 2013.
Aktivasi kembali mekanisme kerja sama bilateral ini dinilai penting di tengah meningkatnya potensi perdagangan dan investasi antara Indonesia dengan kawasan Asia Tengah dan Eurasia.
Kazakhstan sendiri saat ini menjadi mitra strategis Indonesia di kawasan Asia Tengah sekaligus pintu masuk menuju pasar Eurasia yang memiliki potensi ekonomi besar.
Indonesia–EAEU FTA Jadi Momentum Perluas Ekspor
Pertemuan SKB kedua RI-Kazakhstan berlangsung dalam momentum penting setelah ditandatanganinya Indonesia–EAEU Free Trade Agreement pada 21 Desember 2025 lalu.
Perjanjian perdagangan bebas tersebut diproyeksikan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk unggulan Indonesia di kawasan Eurasia.
Deputi PM Kazakhstan Serik Zhumangarin mengatakan Indonesia merupakan mitra penting bagi Kazakhstan dalam memperkuat hubungan ekonomi dan politik di kawasan Asia Tenggara.
Pemerintah Kazakhstan juga menyatakan siap membuka babak baru kerja sama ekonomi dengan Indonesia melalui implementasi Indonesia–EAEU FTA.
Saat ini Kazakhstan tengah menjalankan program revitalisasi ekonomi nasional, termasuk mempercepat transformasi digital dan pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Presiden Kazakstan Kassym-Jomart Tokayev telah menetapkan tahun 2026 sebagai Tahun Digitalisasi dan Artificial Intelligence,” ujar Zhumangarin dikutip Selasa (12/05/2026).
Sementara itu, Airlangga Hartarto menyampaikan Indonesia dan Kazakhstan sama-sama memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi yang dapat menjadi modal penting memperluas pengaruh ekonomi di kawasan masing-masing.
Dengan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai sekitar USD 333,7 miliar dan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 persen pada 2025, Kazakhstan disebut menjadi ekonomi terbesar di Asia Tengah dengan tingkat daya beli masyarakat yang relatif tinggi.
“Indonesia dan Kazakstan dapat bekerja sama dan bersama-sama memperluas pengaruh di kawasan,” papar Airlangga.
Menurut Airlangga, implementasi Indonesia–EAEU FTA nantinya akan memberikan peluang lebih besar bagi pelaku usaha nasional untuk menembus pasar Eurasia secara lebih kompetitif.
Indonesia Dorong Pembentukan Business Council
Dalam forum tersebut, Airlangga juga menyambut baik perkembangan implementasi Indonesia–EAEU Free Trade Agreement yang dinilai dapat memperkuat hubungan perdagangan kedua kawasan.
Ia menegaskan pentingnya kesiapan implementasi perjanjian agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha dan industri nasional.
“Indonesia mendorong pembentukan Indonesia–EAEU Business Council guna mendukung pemanfaatan FTA oleh pelaku usaha,” jelas Airlangga.
Pembentukan business council tersebut diharapkan mampu memperkuat komunikasi dan koordinasi antar pelaku usaha Indonesia dan negara-negara Eurasia.
Selain itu, forum bisnis tersebut juga diproyeksikan menjadi sarana memperluas kerja sama investasi, perdagangan, hingga pengembangan industri strategis di masa mendatang.
Pemerintah Indonesia juga terus mendorong peningkatan akses pasar bagi berbagai produk unggulan nasional ke kawasan Eurasia.
Produk ekspor yang diprioritaskan meliputi palm oil dan turunannya, peralatan listrik dan mekanik, alas kaki, produk berbasis karet, produk perikanan, buah tropis, kopi, hingga produk makanan olahan.
Dengan adanya FTA tersebut, produk Indonesia diharapkan memiliki daya saing lebih tinggi di pasar Eurasia melalui pengurangan hambatan tarif maupun non tarif.
Kerja Sama AI dan Ekonomi Digital Jadi Fokus Baru
Selain sektor perdagangan dan investasi, kerja sama ekonomi digital dan kecerdasan buatan turut menjadi pembahasan utama dalam Sidang Komisi Bersama RI-Kazakhstan.
Duta Besar RI untuk Republik Kazakhstan dan Republik Tajikistan Fadjroel Rachman mengatakan Kazakhstan saat ini tengah memperkuat posisinya sebagai emerging AI hub melalui inisiatif Alem.AI.
Indonesia pun dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas kolaborasi di bidang teknologi digital dan pengembangan AI.
“Peningkatan ini mencerminkan semakin eratnya konektivitas dan ketertarikan masyarakat kedua negara,” ujar Fadjroel.
Indonesia sendiri terus menjalankan National AI Roadmap 2020–2045 yang mencakup pengembangan talenta digital, tata kelola teknologi, hingga penerapan AI di berbagai sektor industri.
Sejalan dengan itu, Kazakhstan juga telah membentuk kementerian khusus yang menangani pengembangan kecerdasan artifisial dan transformasi digital nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Kecerdasan Artifisial dan Pengembangan Digital Republik Kazakhstan Bakhtiyar Mukhametkaliyev mengundang Indonesia untuk memperkuat kolaborasi melalui berbagai proyek bersama.
Kerja sama tersebut meliputi pengembangan joint project, institutional partnership, hingga pertukaran informasi di bidang AI dan ekonomi digital.
Kolaborasi tersebut dinilai penting mengingat perkembangan teknologi digital dan AI kini menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru di berbagai negara.
Wisatawan Kazakhstan ke Indonesia Naik Tajam
Selain bidang ekonomi dan teknologi, hubungan antarmasyarakat antara Indonesia dan Kazakhstan juga menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir.
Fadjroel mengungkapkan jumlah wisatawan Kazakhstan yang berkunjung ke Indonesia mengalami peningkatan signifikan.
Pada 2023, jumlah wisatawan Kazakhstan ke Indonesia tercatat sebanyak 8.198 kunjungan. Angka tersebut melonjak menjadi 24.424 kunjungan pada 2025.
Kenaikan jumlah wisatawan tersebut mencerminkan semakin kuatnya konektivitas dan hubungan masyarakat kedua negara.
Selain sektor pariwisata, kedua negara juga membahas penguatan kerja sama di berbagai sektor prioritas lainnya seperti energi, konektivitas, ketahanan pangan, peternakan, mineral, serta hubungan people-to-people contact.
Pertemuan Sidang Komisi Bersama RI-Kazakhstan kali ini dinilai menjadi langkah penting dalam memperluas kerja sama strategis Indonesia dengan kawasan Asia Tengah dan Eurasia.
Melalui implementasi Indonesia–EAEU FTA serta penguatan kolaborasi ekonomi digital dan AI, kedua negara diharapkan mampu memperkuat posisi ekonomi masing-masing di tengah dinamika global yang terus berkembang.












