KLH Dorong Sistem Pemilahan Sampah Terintegrasi, Tak Bisa Hanya Andalkan Warga
adainfo.id – Program pemilahan sampah di Jakarta terus didorong pemerintah pusat menjelang target penerapan pemilahan sampah 100 persen pada Agustus 2026.
Wakil Menteri (Wamen) Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, meminta dukungan lebih masif dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta agar program berjalan efektif dalam tiga bulan ke depan.
Diaz menyampaikan hal itu saat meninjau dua lokasi pengolahan sampah berbasis warga di Jakarta Timur.
Lokasi tersebut berada di RW 05 Kelurahan Cipinang Melayu dan RW 016 Perumahan Jatinegara Baru, Kelurahan Penggilingan.
Dalam kunjungannya, Diaz melihat langsung pengolahan sampah organik yang dilakukan warga dari tingkat rumah tangga.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi fondasi penting untuk mendukung target besar pengelolaan sampah di Jakarta.
“Kita melihat kesiapan dua kelurahan di DKI Jakarta dalam mendukung pencanangan pemilahan sampah 100 persen DKI Jakarta yang ditargetkan di 1 Agustus 2026. Saya lihat ini masih bergantung pada kesadaran masyarakat, sehingga butuh kinerja Dinas LH DKI agar program pilah sampah jadi sistematis dan terstruktur,” papar Diaz dalam keterangannya Jum’at (08/05/2026).
Pernyataan itu menjadi sinyal bahwa pemerintah pusat ingin memperkuat gerakan pemilahan sampah dari tingkat warga.
Pemerintah juga ingin menghadirkan dukungan kebijakan, fasilitas, dan edukasi secara terintegrasi.
Warga Jakarta Timur Mulai Kelola Sampah Organik
Di RW 05 Kelurahan Cipinang Melayu, warga mengolah sampah organik melalui budidaya maggot.
Sistem tersebut mampu mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus menghasilkan nilai ekonomi tambahan.
Sebanyak 200 rumah di wilayah itu sudah memilah sampah organik dari rumah masing-masing. Warga lalu mengolah sampah tersebut menjadi pakan maggot.
Sementara itu, warga RW 016 Kelurahan Penggilingan mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos.
Program tersebut berjalan sejak Februari 2021 dan terus berkembang hingga sekarang.
Sepanjang 2025, koperasi kompos di wilayah itu berhasil mengolah sekitar 18,7 ton sampah dapur menjadi pupuk kompos.
Capaian tersebut menunjukkan pengelolaan sampah berbasis komunitas memiliki potensi besar.
Diaz mengapresiasi langkah warga yang sudah bergerak mandiri dalam memilah dan mengolah sampah organik.
“Kita sangat bersyukur sudah ada warga yang secara swadaya memilah dan mengolah sampah organiknya dari rumah di RW 05 Kelurahan Cipinang Melayu dan RW 16 Kelurahan Penggilingan. Ini sangat membantu, karena Gubernur DKI Jakarta akan deklarasi pilah sampah seluruh DKI Jakarta yang dalam 3 bulan harus selesai,” terang Diaz.
Menurut Diaz, keberhasilan dua wilayah tersebut bisa menjadi contoh bagi kawasan lain di Jakarta.
Namun, pemerintah tetap perlu memperkuat dukungan agar program tidak berhenti di beberapa lingkungan saja.
Pemerintah Daerah Diminta Perkuat Sistem dan Fasilitas
Diaz menilai pemerintah daerah perlu mengambil peran lebih besar agar target pemilahan sampah tercapai tepat waktu.
Ia menyebut masih banyak aspek yang perlu diperkuat. Mulai dari sarana pendukung, distribusi sampah terpilah, edukasi warga, hingga pengawasan lingkungan.
“Jadi sudah saatnya Pemprov DKI dan Dinas Lingkungan Hidup untuk memberikan dukungan yang lebih masif lagi untuk masyarakat,” ungkap Diaz.
Persoalan sampah di Jakarta masih menjadi tantangan besar hingga saat ini.
Tingginya volume sampah harian tidak bisa ditangani hanya dengan mengandalkan tempat pembuangan akhir.
Karena itu, pemerintah mulai mengubah fokus penanganan sampah dari hilir ke hulu.
Pemerintah kini mendorong pemilahan dan pengolahan sampah langsung dari rumah tangga.
Konsep tersebut dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap TPST maupun TPA.
Selain itu, pola pemilahan sampah juga membuka peluang ekonomi baru dari pengolahan sampah organik dan anorganik.
Sarana Pemilahan Sampah Mulai Disiapkan
Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur mulai menyiapkan fasilitas pendukung untuk masyarakat.
Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur, Julius Monangta, mengatakan pihaknya akan mempercepat pemenuhan sarana dan prasarana program pemilahan sampah Jakarta.
Pemerintah akan menyediakan ember kecil untuk pemilahan sampah rumah tangga.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan tong drop point sampah organik di lingkungan warga.
“Sesuai arahan Pak Wamen, di bulan Mei, kami harap akan penuhi semua sarana dan prasarana, dan berjalan bersama dengan teman-teman dari pendamping untuk ikut mengedukasi warga,” tutur Julius.
Selain fasilitas fisik, pemerintah juga melibatkan pendamping lapangan untuk membantu edukasi masyarakat.
Pendamping tersebut akan memberikan pemahaman tentang tata cara pemilahan sampah yang benar.
Edukasi menjadi faktor penting dalam keberhasilan program. Tanpa partisipasi aktif masyarakat, target pemilahan sampah sulit tercapai.
Jakarta Terapkan Empat Kategori Sampah
Pemprov DKI Jakarta sebelumnya menerbitkan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
Aturan itu mewajibkan seluruh warga Jakarta memilah sampah rumah tangga ke dalam empat kategori berbeda.
Kebijakan tersebut menjadi langkah penting untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir.
Pemerintah juga ingin mempercepat proses daur ulang dan pengolahan sampah organik.
Empat kategori tersebut meliputi sampah organik, sampah anorganik yang bisa didaur ulang, sampah residu, serta sampah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Pemerintah berharap sistem itu mampu membangun pola pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan di Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dijadwalkan mulai mendeklarasikan gerakan pemilahan sampah pada 10 Mei 2026.
Deklarasi itu menjadi penanda dimulainya penerapan program pemilahan sampah Jakarta secara luas di seluruh wilayah.
Target tersebut menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah. Pemerintah perlu membangun sistem pengelolaan sampah yang efektif dan melibatkan masyarakat secara aktif.
Dengan dukungan fasilitas, edukasi, dan keterlibatan warga, pemerintah berharap Jakarta mampu mempercepat transformasi pengelolaan sampah menuju kota yang lebih bersih dan ramah lingkungan.












