Banjir Berulang di Jembatan Jago Depok, Warga Soroti Kondisi yang Kian Memprihatinkan
adainfo.id – Jembatan Jago yang berada di Kampung Benda Barat, RW 06, Cipayung, Kota Depok, kembali menjadi sorotan masyarakat setelah kerap terendam banjir setiap hujan deras mengguyur wilayah tersebut.
Kondisi ini dinilai semakin memprihatinkan lantaran jembatan yang menjadi akses vital penghubung antara wilayah Cipayung dan Pasir Putih itu belum juga mendapatkan penanganan permanen.
Bagi warga sekitar, persoalan ini bukan hal baru. Setiap kali intensitas hujan meningkat, genangan air hampir selalu menutup sebagian badan jalan hingga membuat aktivitas warga terganggu.
Situasi ini bahkan disebut telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa adanya solusi konkret yang benar-benar mampu mengatasi akar persoalan.
Letak jembatan yang berada tepat di pintu belakang kawasan wisata D’Kandang Amazing Farm menjadikan kawasan ini cukup ramai dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.
Ketika banjir datang, akses yang seharusnya menjadi jalur alternatif justru berubah menjadi titik rawan yang membahayakan pengguna jalan.
Posisi Jembatan Dinilai Terlalu Rendah
Warga menilai salah satu penyebab utama Jembatan Jago terus terendam adalah posisi bentang jembatan yang terlalu rendah dibandingkan debit aliran air yang terus meningkat saat hujan deras.
Kondisi tersebut membuat air sungai dengan sangat cepat meluap ke badan jalan, bahkan dalam waktu singkat setelah hujan turun dengan intensitas tinggi.
Warga RW 06, Rasikin Ridwan, mengatakan persoalan ini sudah lama dikeluhkan masyarakat setempat.
Menurutnya, meskipun pernah dilakukan pembangunan turap di masa lalu, langkah tersebut dinilai belum efektif.
“Sebenarnya sudah bertahun-tahun setiap hujan aliran air di bawah Jembatan Jago selalu naik. Bukan hanya karena debit air yang naik, tapi posisi jembatannya memang terlalu rendah. Dulu sempat ada pembuatan turap, tapi sepertinya kurang layak,” ujar Ridwan saat dimintai keterangan, Rabu (06/05/2026).
Ia menilai persoalan struktur jembatan harus menjadi perhatian serius pemerintah apabila ingin menghadirkan solusi jangka panjang.
Menurutnya, jika hanya dilakukan penanganan parsial tanpa evaluasi menyeluruh terhadap desain jembatan, maka persoalan banjir akan terus berulang setiap musim hujan.
Banjir Tinggalkan Lumpur dan Sampah
Permasalahan di Jembatan Jago tidak berhenti saat air surut. Warga justru harus menghadapi persoalan lanjutan berupa tumpukan lumpur licin dan sampah yang berserakan di sekitar jembatan.
Kondisi ini dinilai sangat membahayakan, terutama bagi pengendara sepeda motor yang melintas setelah banjir surut.
Lumpur yang menempel di badan jalan kerap membuat permukaan aspal menjadi licin.
Sementara itu, sampah yang terbawa aliran air memperparah kondisi lingkungan sekitar.
Menurut warga, sebagian sampah diduga berasal dari aliran yang terhubung dengan kawasan sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung.
Keberadaan sampah tersebut tidak hanya merusak estetika lingkungan, tetapi juga berpotensi menyumbat aliran air sehingga memperparah genangan pada hujan berikutnya.
Ridwan mengaku kondisi seperti ini sudah sangat meresahkan warga.
“Sekarang kita berharap ada perubahan, jangan begini-begini saja bahkan makin parah. Bukan cuma air yang menggenang, tapi sampah dan lumpur juga berserakan saat air surut,” jelasnya.
Akses Vital yang Menopang Aktivitas Warga
Keberadaan Jembatan Jago sendiri memiliki peran strategis bagi masyarakat sekitar.
Jembatan ini menjadi jalur penghubung utama antara dua wilayah, yakni Cipayung dan Pasir Putih.
Setiap hari, jalur ini digunakan warga untuk berbagai aktivitas, mulai dari bekerja, sekolah, berdagang, hingga mobilitas menuju pusat layanan publik.
Ketika jembatan terendam banjir, banyak pengguna jalan terpaksa mencari jalur alternatif yang memerlukan waktu tempuh lebih lama.
Bagi sebagian warga, kondisi tersebut tentu menambah beban aktivitas harian.
Tak hanya berdampak pada mobilitas masyarakat, genangan yang terus terjadi juga mempengaruhi aktivitas ekonomi warga sekitar.
Pelaku usaha kecil yang berada di sekitar akses jembatan mengaku kerap mengalami penurunan aktivitas saat banjir terjadi karena akses pelanggan menjadi terhambat.
Situasi ini membuat warga menilai perbaikan jembatan bukan lagi sekadar kebutuhan infrastruktur, melainkan sudah menjadi kebutuhan mendesak untuk mendukung roda perekonomian lokal.
Warga Minta Pemkot Depok Bertindak Nyata
Masyarakat berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Depok segera turun tangan meninjau langsung kondisi Jembatan Jago.
Warga menilai pemerintah perlu melakukan kajian teknis secara menyeluruh untuk menentukan langkah terbaik, apakah melalui peninggian konstruksi jembatan, normalisasi aliran air, atau kombinasi keduanya.
Selama ini, berbagai upaya yang pernah dilakukan dinilai belum memberikan hasil signifikan.
Penanganan yang sifatnya sementara justru dianggap hanya menunda persoalan tanpa benar-benar menyelesaikannya.
Harapan besar masyarakat kini tertuju pada adanya kebijakan konkret yang mampu menjawab keresahan warga.
Bagi mereka, solusi permanen sangat dibutuhkan agar persoalan banjir yang terus berulang ini tidak lagi menjadi ancaman setiap musim hujan datang.
Infrastruktur Harus Menyesuaikan Perubahan Lingkungan
Persoalan yang terjadi di Jembatan Jago juga mencerminkan tantangan infrastruktur perkotaan dalam menghadapi perubahan lingkungan.
Peningkatan curah hujan, perubahan pola aliran air, serta perkembangan kawasan sekitar menuntut adanya penyesuaian terhadap desain infrastruktur lama.
Jika tidak dilakukan evaluasi dan revitalisasi, banyak fasilitas publik berpotensi kehilangan fungsi optimalnya.
Dalam konteks Jembatan Jago, warga menilai langkah modernisasi infrastruktur menjadi solusi yang tidak bisa lagi ditunda.
Penyesuaian elevasi jembatan dan optimalisasi sistem drainase dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar akses tersebut dapat berfungsi maksimal.
Dengan peran strategisnya sebagai penghubung antarwilayah, keberlanjutan fungsi Jembatan Jago menjadi kepentingan bersama yang harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Selama belum ada langkah nyata, warga hanya bisa berharap setiap hujan deras tidak kembali membuat akses vital itu lumpuh dan mempersulit aktivitas masyarakat di sekitarnya.












