Indonesia Siapkan Strategi Energi Jangka Panjang di Tengah Geopolitik Global
adainfo.id – Ketahanan energi kawasan ASEAN menjadi sorotan utama di tengah ketidakpastian geopolitik global dan ancaman krisis energi dunia.
Presiden RI Prabowo Subianto bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya diversifikasi energi sebagai langkah strategis menjaga stabilitas kawasan.
Pesan tersebut disampaikan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 yang berlangsung di Cebu, Filipina.
Dalam forum tersebut, Indonesia menegaskan komitmennya memperkuat kerja sama regional untuk membangun sistem energi yang lebih tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia hadir mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian pertemuan tingkat tinggi tersebut.
Kehadiran pemerintah Indonesia dalam forum ASEAN kali ini difokuskan untuk memastikan stabilitas energi nasional dan kawasan tetap terjaga melalui strategi diversifikasi sumber energi.
Menurut Bahlil, kondisi energi global saat ini berada dalam situasi yang tidak menentu sehingga negara-negara ASEAN harus memperkuat solidaritas dan memperluas sumber energi alternatif.
“Kondisi energi global saat ini sedang tidak menentu. Kita harus lakukan diversifikasi energi, agar ketika satu sumber energi sulit didapat, kita masih punya sumber energi yang lain. Beruntung Indonesia memiliki banyak sumber energi alternatif selain fosil, yang juga berperan strategis pada upaya ketahanan energi,” papar Bahlil dikutip, Sabtu (09/05/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa diversifikasi energi kini menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya tantangan global yang memengaruhi pasokan energi dunia.
Indonesia Perkuat Energi Terbarukan dan Biodiesel
Sebagai negara dengan potensi energi terbarukan yang besar, Indonesia terus mempercepat pengembangan berbagai sumber energi alternatif guna mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Pemerintah saat ini memprioritaskan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas hingga 100 Gigawatt sebagai bagian dari transformasi energi nasional.
Selain itu, kebijakan mandatori biodiesel juga menjadi fokus utama pemerintah.
Program tersebut bahkan direncanakan meningkat hingga mencapai 50 persen sebagai langkah mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Di sektor transportasi, pemerintah juga terus mendorong peningkatan penggunaan kendaraan listrik untuk mendukung transisi energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.
Langkah-langkah tersebut disebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang Indonesia dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon.
Bahlil menilai Indonesia memiliki posisi strategis karena dianugerahi sumber daya energi yang beragam, mulai dari tenaga surya, panas bumi, bioenergi hingga potensi energi air yang besar.
Potensi tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang dapat memengaruhi pasokan energi dunia sewaktu-waktu.
Pemerintah juga menegaskan bahwa pengembangan energi alternatif tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas pasokan energi, tetapi juga menciptakan sistem energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan di masa depan.
Prabowo Minta ASEAN Siap Hadapi Krisis Energi
Dalam sesi pleno KTT ASEAN ke-48, Presiden Prabowo menegaskan bahwa negara-negara ASEAN harus bersiap menghadapi potensi gangguan pasokan energi yang dapat berlangsung dalam jangka panjang.
Menurut Presiden Prabowo, ketahanan energi kawasan tidak bisa dibangun dengan pendekatan reaktif semata, melainkan harus dipersiapkan secara proaktif melalui strategi yang jelas dan berorientasi ke depan.
Presiden Prabowo juga menyerukan kepada seluruh negara anggota ASEAN agar mempercepat peralihan menuju sumber energi alternatif dan memperluas pemanfaatan energi terbarukan.
“Diversifikasi energi bukan lagi pilihan. Ini sangat penting, ini perlu. Kita harus bergerak lebih cepat. Kita harus melalui sumber alternatif dan kita harus mempersiapkan energi terbarukan,” terang Presiden Prabowo.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya percepatan transisi energi di kawasan Asia Tenggara di tengah ketidakpastian global yang terus berkembang.
Presiden Prabowo menilai kerja sama regional menjadi kunci penting agar negara-negara ASEAN mampu menghadapi tantangan energi secara kolektif.
Selain memperkuat penggunaan energi terbarukan, Presiden Prabowo juga menekankan perlunya kesiapan menghadapi berbagai skenario global yang dapat memengaruhi stabilitas pasokan energi kawasan.
Forum KTT ASEAN ke-48 menjadi momentum penting bagi negara-negara anggota untuk memperkuat koordinasi dan menyusun langkah bersama dalam menjaga ketahanan energi regional.
ASEAN Didorong Bangun Arsitektur Energi yang Tangguh
Indonesia dalam forum tersebut kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung penguatan ketahanan energi kawasan ASEAN melalui kerja sama lintas negara.
Pemerintah menilai tantangan global yang semakin kompleks membutuhkan sistem energi regional yang lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan geopolitik dunia.
Presiden Prabowo juga mengajak seluruh negara anggota ASEAN untuk memperkuat kerja sama dalam membangun arsitektur energi kawasan yang mampu menghadapi dinamika global secara lebih efektif.
Penguatan konektivitas energi, diversifikasi sumber daya, hingga pengembangan energi bersih menjadi bagian penting dari strategi yang dibahas dalam forum tersebut.
Selain menjaga stabilitas energi, langkah tersebut juga diharapkan dapat mempercepat transisi menuju sistem energi rendah karbon yang lebih berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.
Solidaritas antarnegara ASEAN dinilai menjadi faktor penting untuk menghadapi ancaman krisis energi global yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas kawasan.
Indonesia menegaskan bahwa kerja sama regional harus terus diperkuat agar negara-negara ASEAN mampu menjaga pasokan energi sekaligus mempercepat pengembangan energi terbarukan.
KTT ASEAN ke-48 di Cebu menjadi forum strategis bagi para pemimpin kawasan untuk menyusun langkah bersama menghadapi tantangan energi global yang semakin dinamis.
Melalui pendekatan kolaboratif dan diversifikasi energi, ASEAN diharapkan mampu membangun sistem energi yang lebih resilien serta mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan secara berkelanjutan.












