Majelis Nyala Purnama UI Hadirkan Orasi Budaya hingga Meditasi Ramadan
adainfo.id – Semarakkan bulan suci Ramadan, Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia (UI) menggandeng Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia menghadirkan Majelis Nyala Purnama #10 bertema “Rahmatan Lil Alamin (Cinta Kasih Terhadap Semua)” di Makara Art Center UI, Jumat (27/02/2026) malam.
Kegiatan bertajuk “Tadarus Cinta: Cinta Kasih Terhadap Semua” tersebut menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus panggung ekspresi budaya yang menyatukan berbagai disiplin seni dan pemikiran dalam satu forum kebersamaan.
Diselenggarakan oleh m Direktorat Kebudayaan UI, forum ini dirancang bukan sekadar seremoni Ramadan, melainkan ruang dialog lintas gagasan tentang makna cinta dalam kehidupan sosial, kebudayaan, dan kebangsaan.
Majelis Nyala Purnama #10 dikemas dalam beragam bentuk kegiatan, mulai dari orasi budaya, pertunjukan musik, tari, pembacaan puisi, hingga sesi meditasi bersama. Format ini menghadirkan suasana yang cair sekaligus reflektif.
Acara berlangsung di Makara Art Center yang menjadi ruang ekspresi seni dan budaya di lingkungan UI.
Ruang tersebut dipenuhi sivitas akademika dan masyarakat umum yang ingin merayakan Ramadan dalam nuansa berbeda.
Sejumlah tokoh hadir sebagai pengisi acara, di antaranya Ngatawi Al Zastrouw, Rocky Gerung, Dwi Woro Retno Mastuti, Fitra Manan, serta Turita Indah Setyani, Raymond Michael Menot, Swara SeadaNya, dan Yogie Sany.
“Cinta adalah hak semua manusia, dan oleh karena itu setiap upaya membunuh dan mengabaikan cinta harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan fitrah kemanusiaan, ucap Direktur Kebudayaan UI Ngatawi Al Zastrouw dalam keterangannya Sabtu (28/02/2026).
“Saat ini kita melihat maraknya penyalahgunaan cinta. Atas nama cinta orang mencaci, membenci bahkan saling menista sesamanya. Melalui Majelis Nyala Purnama kita ingin berbagi cinta untuk semua. Menebar Cinta yang menyehatkan jiwa dan raga, cinta yang membahagiakan lahir dan batin,” sambung Ngatawi.
Dialektika Hati dan Bahasa Universal Kasih
Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan menekankan bahwa Tadarus Cinta bukan sekadar pembacaan teks keagamaan, melainkan proses dialektika batin yang menghadirkan empati dan kepedulian.
Menurutnya, forum ini menjadi ruang untuk merawat nilai kemanusiaan tanpa sekat sosial maupun identitas.
“Mencintai semua adalah bentuk ibadah sosial tertinggi, sebuah perayaan kemanusiaan yang memastikan bahwa tak ada satu pun hati yang dibiarkan dingin dalam kesendirian,” papar Fitra.
Dalam setiap sesi, peserta diajak merenungi makna kasih sebagai bahasa universal yang melampaui batas agama, budaya, maupun latar belakang sosial.
Konsep Rahmatan Lil Alamin yang diangkat dalam tema menjadi landasan bahwa cinta kasih harus bersifat inklusif dan menjangkau seluruh umat manusia.
Kesaksian Perjalanan Wayang Potehi
Sementara, Dwi Woro Retno Mastuti
membagikan testimoni perjalanan panjangnya merawat kecintaan pada wayang potehi.
Ia mengisahkan bagaimana rasa cinta terhadap kesenian tradisi tersebut membawanya menjelajah hingga Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat dengan keterbatasan biaya.
Baginya, cinta bukan sekadar emosi, melainkan energi yang menggerakkan langkah dan membuka jalan yang sebelumnya terasa mustahil.
Cerita tersebut memberi perspektif bahwa kecintaan terhadap budaya dapat menjadi bentuk pengabdian yang melampaui batas geografis dan materi.
Perspektif Antropologi dan Filsafat
Disisi lain, Raymond Michael Menot membedah makna cinta dari sudut pandang antropologi budaya.
Ia menyoroti bagaimana cinta menjadi fondasi relasi sosial dalam berbagai komunitas dan peradaban.
Sementara itu, Rocky Gerung menyampaikan refleksi filosofis mengenai cinta dalam konteks patriotisme.
Ia menyinggung polemik yang menimpa salah satu penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, yang menjadi perbincangan publik.
Menurut Rocky, Dwi Sasetyaningtyas bukan tidak punya rasa nasionalisme, melainkan tidak punya jiwa patriotisme.
Pernyataan tersebut mengundang diskusi hangat mengenai batas antara nasionalisme dan patriotisme dalam wacana kebangsaan kontemporer.
Meditasi sebagai Penutup Reflektif
Di penghujung acara, sesi meditasi dipimpin oleh Turita Indah Setyani dari Urban Spiritual Indonesia.
Peserta diajak masuk dalam suasana hening untuk merasakan makna cinta secara personal.
“Pada malam yang penuh keberkahan ini, kita berkumpul dalam lingkaran meditasi. Kita hadir bukan hanya untuk membaca ayat-ayat suci, tetapi juga untuk menadabburi, merasakan, dan menghidupkan cinta kasih dalam diri,” ucap Turita.
Sesi tersebut menjadi klimaks spiritual yang mengikat seluruh rangkaian kegiatan dalam satu kesatuan pengalaman batin.
Majelis Nyala Purnama #10 sekaligus menjadi penanda dimulainya rangkaian Syiar Ramadan Kampus UI yang akan berlangsung hingga 14 Maret 2026.
Melalui kegiatan ini, Universitas Indonesia menegaskan peran kampus bukan hanya sebagai pusat pendidikan dan penelitian.
Akan tetapi juga sebagai ruang pembinaan nilai spiritual dan kebudayaan.
Ramadan di kampus tidak hanya diisi dengan kegiatan ibadah formal, melainkan juga dialog lintas disiplin yang memperkaya pemahaman tentang kemanusiaan dan kebersamaan.
Majelis Nyala Purnama #10 UI menghadirkan Tadarus Cinta sebagai refleksi kolektif bahwa kasih sayang adalah fondasi kehidupan sosial, kebudayaan, dan kebangsaan yang harus terus dirawat di tengah dinamika zaman.











